Monday, 23 January 2012

Tanah Grogot – Bagian II


Di Depan Goa Tengkorak

Malam pun menjelang, Dihas, Aziz (bukan gagap), Herdy, Hadi, Pak Idrus dan anaknya terlelap setelah kenyang sekali. Bangun jam 4.00, kami tahujudan bersama dilanjut shalat subuh terus ngobrol-ngobrol. Jam 6.00 kami mandi dan jam 7.00 kami sarapan pagi dengan bubur ayam. Jam 8.00 kami pulang. Kami diberi bekal berupa fanta, coca cola dan sprit masing-masing 3 kaleng. Ditambah baju promo bertuliskan Total, GT Radial, Michelin. Ini adalah lanjutan dari edisi ini.


Perjalanan pulang terasa ringan. Jalan yang tadi malam dilalui terlihat kebusukannya. Memang benar-benar busuk, berlobang sana-sini, bertambal bahkan beberapa menjadi kolam. Padahal yang lewat adalah alat berat tambang yang diangkut dengan truk jumbo, ada juga truk yang membawa kontainer, minyak dan gas. Apakah truk-truk tersebut yang merusaknya..?? kemungkinan besar iya. Hahahahahaa…
Di Bawah Goa

Hadi, Pak Idrus, Dihas, Herdy, Aziz (bukan gagap)


Kami mampir dahulu di goa tengkorak. Goa tengkorak berada di area sebuah desa. Letaknya di samping tebing dengan pohon beringin besar menaunginya. Sepertinya goa tengkoral lumayan terawat. Arenya bersih namun tangga yang terbuat dari semen sudah mengelupas. Menara kayunya masih kokoh. Di atas menara terletak pintu goanya. Di dalamnya terdapat tengkorak dan tulang belulang manusia. Asli man. Memandang jauh ke depan dari atas menara dapat melihat pegunungan yang entah namanya apa. Tidak ada orang yang dapat memberi tahu. Pak Idrus yang orang Tanah Grogot pun tidak tahu. Asap tebal menaungi bukit tersebut. Sungai yang terletak sekitar 100 meter berair jernih sampai bisa melihat dasar sungai. Padahal sungai di sebelahnya berwarna coklat keruh. Sungguh keajaiban. Sayangnya sungai tersebut dimanfaatkan untuk mencuci motor dan mencuci baju serta mandi. Semoga tetap terjaga kelestariannya.

Kami melanjutkan perjalanan dan berhenti di sebuah waduk buatan yang masih baru dan luas di pinggir jalan. Waduknya memang luas dan terkesan baru jadi. Di sebelah waduk terdapat sebuah pabrik atau apa yang menggerus batu kecil-kecil seperti kerikil menjadi halus.

Jalan yang rusak parah membuat kami harus pandai-pandai mengendarai motor agar tidak terjatuh. Mungkin jalan tersebut cocok untuk latihan para pembalap. Dihas, Aziz (bukan gagap), dan Herdy berpisah dengan Hadi, Pak Idrus dan anaknya di pertigaan Tanah Grogot. Kami sebeum berpisah membeli mie ayam.

Bertiga, Dihas, Aziz (bukan gagap), dan Herdy melanjutkan perjalanan pulang. Kali ini kami tidak naik perahu kelotok namun naik ferry atau kapal roro. Cuaca juga sedang hujan dan takut kalau perahu kelotok terjungkal. Demikianlah petualangan edisi Tanah Grogot.

5 comments:

  1. perasaanmu gimana has waktu ke sana? takut ndak? :P

    ReplyDelete
  2. kalau foto berlima kaya gtu dah kaya boyband lihatnya,hehehe

    ReplyDelete
  3. nama goanya serem amat.. kek di sandiwara radio jaman dulu.. :D

    Btw tanah grogot tuh lokasinya dmn sih?

    ReplyDelete
  4. ndak sih mas....
    ga sendirian kok soalnya...
    :)


    iya mas andy...
    :P


    di kalimantan mbak cova...
    maaf tidak disebut...
    :P

    ReplyDelete
  5. nama guanya serem..gaya dihas lucu amat itu.

    ReplyDelete

silahkan berkomentar, tidak dipungut biaya..! apabila ada kata yang salah dalam hal deskripsi apa pun tentang isi dari postingan zonesa.blogspot.com, mohon kritik dan sarannya agar lebih baik. terimakasih dan salam hangat. Sehangat pelukan pasangan Anda.