Sunday, 5 August 2012

Twiplomasi dan Blogisimasi

Ilustrasi (sumber)


VOA pernah mengungkit masalah Twitter yang membatasi pengunaan karakter hanya sampai 140 karakter mempunyai peluang untuk menggantikan cara dan metode diplomasi tradisional (baca di sini). Jika twitter mampu dan mempunyai peluang untuk dapat menggantikan cara dan metode diplomasi tradisional maka blog seharusnya mempunyai peluang yang lebih dimana tidak ada pembatasan karakter dan mempunyia kolom komentar yang dapat diakses dan dikomentari bahkan kadang isengnya bisa disisipi iklan, damn!
Twitter, adalah media sosial dimana tidak hanya orang kebanyakan yang mempunyai akunnya namun juga para pemimpin dunia memilikinya, seperti misalnya Barack Obama, Hugo Chaves dan lainnya. Padahal twitter hanyalah sebuah microblog, namun konsepnya mantabh.
Padahal di sisi lain, twitter diciptakan bukan untuk menggantikan diplomasi secara tradisional bahkan tidak untuk menggantikan cara bercakap-cakap. Menggunkan twitter sebagai media diplomasi sama saja dengan berdiplomasi dengan menggunakan Blackberry Messanger, sms, chatting dan sejenisnya. Layakkah itu dinamakan diplomasi atau hanya sekedar berbagi informasi saja. Jika hal tersebut dapat dan dilegalkan sebagai salah satu cara diplomasi maka semaunya akan menjadi gawat dan menimbulkan keruwetan di masa yang akan datang.

Jika sekedar berbagi informasi dan ide atau pikiran, lebih leluasa jika menggunakan media blog. Blog, kita bisa mengelolanya dan membuat trandmark atau pembahasan yang khas, misalnya blog yang membahas tentang puisi, cerita humor, cerpen, agama, hukum atau hanya sekedar curhatan semata. Kita juga akan mempunyai follower,  atau pengikut atau pembaca setia sesuai dengan genre blog yang kita tampilkan atau kita image-kan.
Di lain sisi, blog juga bisa digunakan untuk membantah tuduhan atau mengklarifikasi sesuatu yang kurang disetujui dengan leluasa karena tidak ada batasan dalam penggunaan karakternya yang kemudian kita link-kan pembahasan blog yang kita bantah atau yang kita klarifikasi.
Namun sebenarnya twitter dan blog tidak bisa menggantikan cara dan metode diplomasi tradisional yang biasanya dilakukan dengan bertatap muka antara satu pihak dengan pihak lainnya. Alasannya kicauan di twitter dan ungkapan atau postingan di blog kurang bisa dijadikan dasar sebuah kesepakatan dalam diplomasi. Jadi penulis kurang setuju dengan pernyataan dari VOA yang berdasarkan sebuah penelitian yang menunjukkan bahwa seiring dengan beradaptasinya diplomasi dengan teknologi baru, para pemimpin dunia akan perlu menemukan cara-cara yang efektif untuk berkomunikasi di media sosial. Bahkan jika kicauan di Twitter terus tumbuh sampai ratusan ribu, tidak ada risiko bagi diplomasi tradisional untuk menghilang.
Misalnya saja saat akan mengadakan Olimpiade 2012 di London, Panitia men-tweet, “Saudara-saudara yang berbahagia, tiba saatnya kita akan menyelenggarakan Olimpiade 2012 yang akan dilaksanakan di London, Inggris, mohon dukungannya. Salam Olahraga”. Nanti kemudian di replay, retweet, untungnya tidak hanya di-like.
Namun dunia ini terus berkembang dan menemukan bentuknya yang semakin simple dan mudah untuk saling berkomunikasi. Jadi tidak ada salahnya jika media sosial suatu saat akan dipatenkan sebagai cara-cara untuk melakukan diplomasi. Who knows.


O ya, Blogisimasi adalah istilah buatan saya untuk mengungkapkan diplomasi dengan Blog (maaf kalo kurang berkenan).

42 comments:

  1. kalau dipatenkan dalam menulis atau berbicara tidak bisa seenaknya lagi karena bisa dituntut tentang apa yang pernah disampaikan dalam tulisan

    ReplyDelete
  2. blogisimasi?? boleh juga tuh kayaknya :D

    ReplyDelete
  3. kok komen ku nggak keluar ya?

    ReplyDelete
  4. twitter saya tiada aktif, hanya blog saja.. :D

    ReplyDelete
  5. Waduh,. kalo sampai di patenkan, bisa2 aturan untuk nge-twit dan nge-blog semakin beranekaragam dan mengekang...

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya....
      semakin ribet dan repot....
      :P

      Delete
  6. Twitter dan blog ada penggemarnya sendiri kang. Jadi bebas mau pilih yang simple atau yang terpapar dengan rapi di blog. Twitter kebanyakan digunakan sebagai ajang mencari pengikut.

    ReplyDelete
    Replies
    1. dan katanya menurut salah satu website pewarta,,follower bisa dibeli....
      :P

      Delete
  7. wahhh makin banyak saja yah aturannya,, itu bisa di karenakan supaya orang tidak sembarangan di dunia maya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. mungkin gitu...
      namun kayaknya saya ga bahas aturan.....
      :P

      Delete
  8. Lah, saya sudah 2 kali buat twitter malah ga tau pasword lagi. Jadi malas deh, enakan ngeblog. :D

    ReplyDelete
  9. Bertatapan muka saja, komunikasi kadang2 salah kaprah lho. Ini biasa saya temukan antara saya dan suami. Kadang saya bilangnya A misalnya eh diinterpretasikan oleh suami saya dengan B. Jadinya sebaliknya. Setelah kami diskusikan lagi, barulah jelas, memang ada celah yangmembuat salah interpretasi itu dalam cara saya berkomunikasi. Lha, bagaimana coba kalo cara diplomasi tatap muka hilang dan berganti dengan media social? Media sosial tak bisa menggantikan bahasa tubuh dan ekspresi wajah, juga unsur emosi yang perannya penting dalam komunikasi.

    Saya suka kedua istilah yang dijadikan judul itu :)

    Btw, sukses yah kontesnya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. itulah makanya saya ga setuju kalo kedua istilah tersebut bisa dan dilegalkan dalam melakukan diplomasi.....

      terimkaasih atas like judulnya...
      ;)

      Delete
  10. aq lbh suka blog, akun Twitternya terlantar ehehe

    ReplyDelete
  11. istilahnya boleh juga, cuma kayaknya terlalu panjang saat pengucapan

    ReplyDelete
    Replies
    1. hmmm....
      akan dipertimbangkan ukuran panjangnya...
      :P

      Delete
  12. Dibandingkan dengan twitter dan blog, saya rasa untuk media informasi resmi website lebih dipercaya, maka dari itu ada tautan link yang disediakan dalam bio twitter.

    Untuk blog? saya rasa tidak, terlebih blog nya gratisan (maaf), nilai kepercayaannya berkurang.

    Pembeda website dengan blog disini maksud saya adalah website lebih minim link (bekerja satu arah untuk pemberi informasi, bukan repost), jarang yang menyediakan kolom komentar melainkan lansung disediakan halaman contact, dan yang jelas minim iklan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. oke terimakasih wejangannya mas miftahgeek...
      :)

      Delete
  13. tulisa dan elo-nya menua dengan baik ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. daripada menua sia-sia Gas....
      :P
      jomblo lg....
      hahhaaa

      Delete
  14. wah kalau ane sich sampai sekarang yg berkembang blog drpda twiter,,
    twiter aja blm tau bgmna cara mnggunakannya,,,
    hehehee

    ReplyDelete
  15. waha, setuju dah, bhwa semakin lama dunia terus berkembang dan nemuin bentuknya untuk simple dan mudah berkomunikasi.

    ReplyDelete
  16. ayo2 follow blog ma twitterku... *halah mlh promosi* :D

    ReplyDelete
  17. Yang jelas tweet lebih praktis,nyaman dibanding FB intinya sih :D

    ReplyDelete
  18. twitter tuh... bagi saya kaya sms...

    ReplyDelete
  19. ah twitter... terlalu privat, ga enak lihat status pribadi orang2

    ReplyDelete

silahkan berkomentar, tidak dipungut biaya..! apabila ada kata yang salah dalam hal deskripsi apa pun tentang isi dari postingan zonesa.blogspot.com, mohon kritik dan sarannya agar lebih baik. terimakasih dan salam hangat. Sehangat pelukan pasangan Anda.