DUA KALI KAMI tertunda berangkat haji.
Pada akhir 2008, kami sudah siap. Namun, Abang mengalami kecelakaan dalam
perjalanan pulang tugas dari Palembang menuju Jambi. Tabungan kami untuk
Ongkos Naik Haji pun akhirnya terpakai untuk biaya mengganti mobil dinas
Livina yang ringsek. Abang tak mau memanfaatkan fasilitas asuransi
kendaraan kantor. Dia memilih bertanggung jawab sendiri. Uang bisa dicari,
mungkin Allah belum berkehendak. Yang penting Abang selamat. Tahun 2009
pun kami lewatkan. Maklum, masih belum cukup biaya
untuk melunasi. Hingga akhirnya, 2010, saya mantap naik haji.
Berapapun biayanya. Apapun kendalanya.
Ketika ibunya tengah sakit keras dan harus buang hajat di
pembaringan, Dhana tidak tega menggunakan pispot karena menurutnya benda itu
terlalu keras dan nanti bisa menyakiti tulang ibunya. Sebagai gantinya, ia
menengadahkan kedua tangannya dengan beralaskan tisu untuk menampungnya.
***
Ia membuat beberapa orang
yang bergaul dengannya merasa iri. Sebagian berkomentar, lelaki muda itu telah
dekat dengan pintu surga. Beberapa yang lain berpendapat, sungguh beruntung ia
merawat ibunda tercinta dengan kualitas maksimal. Namun, Dhana Widyatmika (33
tahun), putra pertama dari Ibu Sundari (59 tahun) itu hanya berucap, apa yang
ia lakukan biasa-biasa saja.
“Saya tidak pernah merasa ini
sesuatu yang hebat. Saya hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Ini
kewajiban. Saya yakin semua anak juga akan melakukan hal yang sama,” ucapnya.
Ditemui di sela-sela
rutinitasnya menjaga dan menemani sang ibu yang dua kali dalam seminggu harus
cuci darah, Dhana mengisahkan, selama tiga belas tahun ini, ibu menjadi
prioritas utama dalam hidupnya.
SAYA TEMUKAN SOSOK IDEAL PEGAWAI PAJAK
pada mendiang suami saya. Hanya Allah pemilik kesempurnaan, dan Allah
menciptakan sosok yang hampir sempurna bagi saya dan anak-anak. Ismail
Najib nama lengkapnya. Ia terlahir dari keluarga yang sederhana di pelosok
Jambi. “Ayah,” kami biasa memanggilnya. Ibunya, mertua saya, memanggilnya
Mael. Teman kantornya memanggilnya Najib atau Pak Najib.
Beberapa
hari yang lalu teman-teman group Facebook PD I Bea Cukai XVII pada ribut-ribut,
pasalnya ada adik kelas, saudara, sanak kerabat, tetangga yang diterima di STAN
Prodip I Kepabeanan dan Cukai. Mereka ribut minta informasi kos-kosan, biaya
hidup, transport dan informasi lainnya. Ada satu yang bersemangat, yaitu minta
materi kuliah. Busyet, semangat banget. Padahal nanti juga bakal diberikan
materinya.
Nah
sedikit ni Dihas bagi salah satu materinya. Sekalian dihas juga belajar
kembali.
Cukai
selain bertujuan membina dan mengatur, juga memperhatikan prinsip : pemberian insentif yang bermanfaat bagi
pertumbuhan perekonomian nasional. Hal tersebut diwujudkan dalam bentuk fasilitas di bidang cukai.
Ada sebuah surat atau note yang nangkring di facebook pada group PD I Kepabeanan dan Cukai Angkatan XVII. Ditulis oleh Heri Prabowo, alumnus STAN. Dia menulis sebuah surat yang ditujukan untuk gayus, yang notabene adalah adik kelas mas Heri Prabowo si penulis.
Terhadap barang kiriman pos yang nilainya tidak melebihi FOB USD 50.00 (limapuluh US dollar) untuk setiap orang per alamat kiriman, diberikan pembebasan bea masuk dan pajak dalam rangka impor.
Terhadap barang kiriman pos yang melebihi nilai pembebasan tersebut dikenakan bea masuk dan pajak dalam rangka impor atas nilai kelebihannya.
Misalnya: nilai barang USD 80.00, maka Bea Masuk dan pajak dalam rangka impor dikenakan terhadap kelebihan nilai dari batas nilai FOB, yaitu: USD 80.00-USD 50.00 = USD 30.00
Barang yang dinyatakan tidak dikuasai adalah harus memenuhi ketentuan sebagai berikut:
1.barang yang ditimbun di TPS yang melebihi jangka waktu 30 hari sejak penimbunannya
2.barang yang tidak dikeluarkan dari TPB yang telah dicabut ijinnya dalam jangka waktu 30 hari sejak pencabutan ijin
Peyebab pencabutan ijin penyelenggara:
otidak melunasi utangnya dalam jangka waktu yang ditetapkan
otidak mampu lagi menjalankan usaha TPB tersebut
Setelah ijin dicabut maka harus:
omelunasi semua Bea Masuk yang terhutang
omengekspor kembali barang yang masih ada di dalam TPB, atau
omemindahkan barang ke TPB lain
3.barang yang dikirim melalui pos:
oyang ditolak oleh si alamat atau oran yang dituju dan tidak dapat dikirim kembali kepada penngirim diluar Daerah Pabean
odengan tujuan luar Daerah Pabean yang diterima kembali karena ditolak atau tidak dapat disampaikan ke alamat yang dituju, dan tidak dapat diselesaikan oleh pengirim dalam jangka waktu 30 hari sejak diterimanya pemberitahuan dari kantor pos
Bea adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan lalu lintas barang yang masuk dan keluar. Bea identik dengan barang impor dan barang ekspor.
Sedangkan cukai adalah pungutan negara terhadap barang-barang dengan klasifikasi tertentu menurut UU Cukai.
Tugas bea dan cukai diemban oleh Direktorat Jenderal Bea Cukai, salah satu direktorat di Kemenkeu.
Penerimaan
Penerimaan bea dan cukai sebagai pajak tak langsung dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
PENERIMAAN BEA (dalam Juta Rupiah)
TAHUN
REALISASI PENERIMAAN BEA
2000
6.423.338,96
2001
9.097.127,21
2002
10.399.133,00
2003
10.847.262,07
2004
12.444.003,76
2005
14.920.655,70
PENERIMAAN CUKAI (dalam Juta Rupiah)
TAHUN
REALISASI PENERIMAAN CUKAI
2000
11.380.030,64
2001
17.491.089,79
2002
23.341.428,00
2003
26.396.415,27
2004
29.172.451,70
2005
33.256.276,86
Ramalan Statistik
Dalam meramal kali ini, saya mencoba menampilkannya dengan metode tangan bebas, metode semi rata- rata.
1.Cukai
a.Metode Tangan Bebas
Dalam hal ini saya mencoba dengan menggunakan titik awal (tahun 2000) dan titik akhir (tahun 2005). Dan selanjutnya kita ramal untuk tahun 2006, 2011, 2014, 2025.
TAHUN
X
REALISASI PENERIMAAN CUKAI
2000
0
11.380.030,64
2001
1
17.491.089,79
2002
2
23.341.428,00
2003
3
26.396.415,27
2004
4
29.172.451,70
2005
5
33.256.276,86
Jika tahun 2000 dijadikan sebagai tahun dasar dan tahun 2005 sebagai titik akhir, maka, dapat diperoleh dua titik koordinat, yaitu (0; 11.380.030,64) dan (5; 33.256.276,86).
Persamaan garis lurus Y=a+bX
11.380.030,64=a+b(0)
Maka a=11.380.030,64
33.256.276,86=a+b(5)
5b=33.256.276,86-11.380.030,64
5b=21.876.246,22
b=4.375.249,24
maka Y=11.380.030,64+4.375.249,24X
ramalan 2006
Y=11.380.030,64+4.375.249,24X, dimana X=6
Y=37.631.526,08
Ramalan 2011
Y=11.380.030,64+4.375.249,24X, dimana X=11
Y=59.507.772,28
Ramalan 2014
Y=11.380.030,64+4.375.249,24X, dimana X=14
Y=72.633.520
Ramalan 2025
Y=11.380.030,64+4.375.249,24X, dimana X=25
Y=120.761.261,64
b.Metode Semi Rata-rata
Membagi data menjadi 2 bagian yang jumlahnya sama.
Menghitung rata-rata masing2 kelompok. Kelompok 1 (K1) atau (Y1) dan kelompok 2 (K2) atau (Y2).
TAHUN
X
Y’
RATA-RATA
2000
0
11.380.030,64
2001
1
17.491.089,79
Y’1=17.404.182,81
2002
2
23.341.428,00
2003
3
26.396.415,27
2004
4
29.172.451,70
Y’2=29.608.381,28
2005
5
33.256.276,86
Kita dapatkan dua titik koordinat, yaitu (1 ; 17.404.182,81) dan (4 ; 29.608.381,28). Kemudian nilai-nilai tersebut dimasukkan ke dalam persamaan.
17.404.182,81=a+b, ini menjadi a=17.404.182,81-b…….. persamaan 1
29.608.381,28=a+4b …………… persamaan 2
29.608.381,28=17.404.182,81-b +4b
3b=12.204.198,47
b=4.068.066,16
a=17.404.182,81-4.068.066,16
a=13.336.116,65
maka Y=13.336.116,65+4.068.066,16X
Ramalan 2006
Y=13.336.116,65+4.068.066,16X, dimana X=6
Y=37.744.513,61
Ramalan 2011
Y=13.336.116,65+4.068.066,16X, dimana X=11
Y=58.084.844,41
Ramalan 2014
Y=13.336.116,65+4.068.066,16X, dimana X=14
Y=70.289.042,89
Ramalan 2025
Y=13.336.116,65+4.068.066,16X, dimana X=25
Y=115.037.770,65
2.Bea
a.Metode Tangan Bebas
Dalam hal ini saya mencoba dengan menggunakan titik awal (tahun 2000) dan titik akhir (tahun 2005). Dan selanjutnya kita ramal untuk tahun 2006, 2011, 2014, 2025.
TAHUN
x
REALISASI PENERIMAAN BEA
2000
0
6.423.338,96
2001
1
9.097.127,21
2002
2
10.399.133,00
2003
3
10.847.262,07
2004
4
12.444.003,76
2005
5
14.920.655,70
Maka titik awal dan titik akhirnya adalah (0 ; 6.423.338,96)dan (5 ; 14.920.655,70) jika tahun 2000 sebagai titik awal dan tahun 2006 sebagai titik akhir.
6.423.338,96=a+b(0), maka a=6.423.338,96
14.920.655,70=6.423.338,96+5b
5b=8.497.316,74, maka b=1.699.463,35
Jadi Y=6.423.338,96+1.699.463,35X
Ramalan 2006
Y=6.423.338,96+1.699.463,35X, dimana X=6
Y=16.620.119,06
Ramalan 2011
Y=6.423.338,96+1.699.463,35X, dimana X=11
Y=25.117.435,81
Ramalan 2014
Y=6.423.338,96+1.699.463,35X, dimana X=14
Y=30.215.825,86
Ramalan 2025
Y=6.423.338,96+1.699.463,35X, dimana X=25
Y=48.909.922,71
b.Metode Semi Rata-rata
Membagi data menjadi 2 bagian yang jumlahnya sama.
Menghitung rata-rata masing2 kelompok. Kelompok 1 (K1) atau (Y1) dan kelompok 2 (K2) atau (Y2).
TAHUN
X
Y’
RATA-RATA
2000
0
6.423.338,96
2001
1
9.097.127,21
Y’1=8.639.866,39
2002
2
10.399.133,00
2003
3
10.847.262,07
2004
4
12.444.003,76
Y’2=12.737.307,18
2005
5
14.920.655,70
Kita dapatkan dua titik koordinat. Yaitu (1 ; 8.639.866,39) dan satunya adalah (4 ; 12.737.307,18)
8.639.866,39=a+b, ini menjadi a=8.639.866,39-b ………. Persamaan 1
12.737.307,18=a+4b ……………… persamaan 2
12.737.307,18=8.639.866,39-b+4b
3b=4.097.440,79, maka b=1.365.813,60
8.639.866,39=a+1.365.813,60
a=7.274.052,79
Jadi Y=7.274.052,79+1.365.813,60X
Ramalan 2006
Y=7.274.052,79+1.365.813,60X, dimana X=6
Y=15.468.934,39
Ramalan 2011
Y=7.274.052,79+1.365.813,60X, dimana X=11
Y=22.298.002,39
Ramalan 2014
Y=7.274.052,79+1.365.813,60X, dimana X=14
Y=26.395.443,19
Ramalan 2025
Y=7.274.052,79+1.365.813,60X, dimana X=25
Y=41.419.392,79
Kesimpulan
Dalam penggunaan dua metode dalam statistik (Metode Tangan Bebas dan Metode Semi Rata-rata) dalam penghitungan peramalan Bea dan Cukai terdapat selisih. Selanjutnya selisih hasil peramalan akan semakin membesar jika tahun yang diramal semakin maju (lihat perbedaan peramalan pada tahun 2025 pada masing-masing metode yang digunakan). Jadi menurut saya, untuk jangka waktu yang lama metode ini menjadi tidak valid atau kurang dapat dipercaya. Jadi ketika tahun yang akan diramal semakin maju, alangkah bijak jika tahun dasar, juga dimajukan.
Melihat penerimaan pajak tidak langsung dari sektor bea dan cukai sepertinya dapat memberikan angin segar bagi kemajuan pembangunan bangsa. Seperti apa yang pernah disampaikan oleh Menkeu, bahwa penerimaan negara masih digunakan untuk pembiayaan rutin dalam pemerintahan, jika peramalan dalam statistika bisa direalisasikan maka kemungkinan laju pembangunan bangsa akan semakin cepat.
Dan keinginan serta peramalan kemajuan bangsa juga harus selalu diimbangi oleh kemajuan akhlak dan moral bangsa. Semoga Allah mengabulkan keinginan kita. Amiin.