Wednesday, 1 September 2010

Malthus, Jawa Dan Qur'an


Penduduk cenderung tumbuh secara "deret ukur" (1, 2, 4, 8, 16 dan seterusnya) sedangkan persediaan makanan cenderung bertumbuh secara "deret hitung" (1, 2, 3, 4, 5, 6, 7 dan seterusnya).

Begitulah yang sering kita dengar ketika topik tentang masalah pangan dan kependudukan sedang diperbincangkan. Ungkapan pesimis dari seorang Robert Malthus yang namanya selalu terdengar dan terkesan sebagai orang yang menghakimi tentang keadaan kekurangan pangan, bahwa pertumbuhan penduduk yang tak terkendali atau ledakan jumlah penduduk adalah sebagai penyebab terjadinya kekurangan pangan.

Lalu, apakah yang sebenarnya terjadi ketika kekurangan pangan terjadi?

Bagaimana dengan semboyan jawa, banyak anak banyak rejeki?

Lalu,bagaimanakah tanggapan al-qur’an tentang hal ini?

Robert Maltus

Thomas Robert Malthus, lahir di Surrey, Inggris, 13 Februari 1766 – meninggal di Haileybury, Hertford, Inggris, 23 Desember 1834 pada umur 68 tahun. Beliau biasanya dikenal sebagai Thomas Malthus, meskipun beliau lebih suka dipanggil Robert Malthus.

Malthus dilahirkan dalam sebuah keluarga yang kaya. Daniel, ayahnya, adalah sahabat dari seorang filsuf dan skeptik David Hume dan juga sahabat dari Jean-Jacques Rousseau. Malthus muda dididik di rumah sampai akhirnya dia masuk di Jesus College, Cambridge pada tahun 1784. Di sana, dia belajar tentang  banyak pokok pelajaran dan memperoleh penghargaan dalam deklamasi Inggris, Bahasa Latin dan Bahasa Yunani. Mata pelajaran favoritnya adalah matematika. Ia memperoleh gelar Magister pada tahun 1791 dan terpilih menjadi fellow dari Jesus College dua tahun kemudian. Pada 1797, dia ditahbiskan dan menjadi pendeta Anglikan.

Malthus menikah pada tahun 1804.  Dia dan istrinya mempunyai tiga orang anak. Pada tahun 180,  dia menjadi profesor Britania pertama dalam bidang ekonomi politik di East India Company College di Haileybury, Hertfordshire. Siswa-siswanya menyapanya dengan sebutan kesayangan, "Pop", yang dapat berarti "papa", atau mungkin singkatan dari, "Populasi" Malthus.

Malthus menolak dibuat fotonya hingga tahun 1833 karena dia merasa malu karena bibir sumbingnya. Masalah ini kemudian diperbaiki lewat operasi dan Malthus dianggap sangat tampan setelah operasi. Cacat ini adalah bawaan sejak lahir yang cukup lazim di lingkungan keluarganya.

Malthus dikebumikan di Bath Abbey di Inggris pada tahun 1834.

Pandangan Malthus

Pandangan-pandangan Malthus umumnya dikembangkan sebagai reaksi terhadap pandangan-pandangan optimis dari ayahnya dan rekan-rekannya, terutama Rousseau. Esai Malthus juga dibuat sebagai tanggapan terhadap pandangan-pandangan Marquis de Condorcet. Dalam An Essay on the Principle of Population, sebuah essay tentang prinsip mengenai kependudukan, yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1798, Malthus membuat ramalan yang terkenal bahwa jumlah populasi akan mengalahkan pasokan makanan yang menyebabkan berkurangnya jumlah makanan per orang. Dia bahkan meramalkan secara spesifik bahwa hal ini pasti akan terjadi pada pertengahan abad ke-19, sebuah ramalan yang gagal karena beberapa alasan, termasuk penggunaan analisis statisnya yang memperhitungkan kecenderungan-kecenderungan mutakhir dan memproyeksikannya secara tidak terbatas kepada masa depan yang hampir selalu gagal untuk sistem yang kompleks.

Pokok tesis Malthus ini adalah pemikiran bahwa pertumbuhan penduduk cenderung melampui pertumbuhan persediaan makanan. Dalam essay orisinalnya, Malthus menyuguhkan idenya dalam bentuk yang cukup kaku. Dia mengatakan bahwa penduduk cenderung tumbuh secara "deret ukur" (1, 2, 4, 8, 16 dan seterusnya) sedangkan persediaan makanan cenderung tumbuh secara "deret hitung" (1, 2, 3, 4, 5, 6, 7 dan seterusnya). Dalam terbitan-terbitan belakangan, Malthus menekankan lagi tesisnya, walaupun tidak sekaku semula, dengan mengatakan bahwa penduduk cenderung bertumbuh secara tak terbatas hingga mencapai batas persediaan makanan. Malthus berkesimpulan bahwa kuantitas manusia akan terperosok ke dalam rawa-rawa kemiskinan dan berada di jurang kelaparan. Dalam jangka panjang, tak ada kemajuan teknologi yang dapat mengalihkan keadaan ini karena kenaikan suplai makanan yang terbatas sedangkan "pertumbuhan penduduk tak terbatas dan bumi tak mampu memproduksi makanan untuk menjaga eksistensi manusia."

Apakah pertumbuhan penduduk dapat dibendung dengan cara ini atau cara itu? Sebenarnya bisa. Perang, wabah penyakit atau malapetaka lainnya sering mampu mengurangi penduduk. Tapi penderitaan semacam ini hanya menyuguhkan keredaan kebanyakan penduduk untuk sementara sedangkan ancaman kebanyakan penduduk masih tetap mengambang di atas kepala dengan keadaan yang tidak menyenangkan.

Malthus mengusulkan bahwa cara yang lebih baik untuk mencegah kebanyakan penduduk adalah "pengendalian moral". Yang dia maksud dengan istilah "pengendalian moral" adalah suatu gabungan antara kawin lambat, menjauhi hubungan seks sebelum nikah dan menahan diri secara sukarela frekuensi sanggama.





Tetapi, Malthus ternyata cukup realistis dan sadar bahwa umumnya orang tidak ambil peduli dengan pengendalian-pengendalian macam begitu. Selanjutnya dia berkesimpulan bahwa cara yang lebih praktis adalah tetap berpegang pada: “kebanyakan penduduk sesuatu yang tak bisa dihindari lagi dan kemiskinan merupakan nasib yang daripadanya orang tidak mungkin bisa lolos”. Sungguh suatu kesimpulan yang pesimistis. Namun itulah yang diungkapkan oleh seorang Robert Malthus. Dia mencemaskan akan kebanyakan penduduk atau ledakan penduduk.

Kendatipun Malthus tidak pernah menganjurkan adanya pengendalian penduduk lewat alat kontrasepsi, usul semacam itu merupakan konsekuensi yang lumrah dari ide pokoknya. Orang pertama yang secara terbuka menganjurkan penggunaan alat kontrasepsi secara luas untuk mencegah kebanyakan penduduk adalah seorang pembaharu Inggris yang berpengaruh, Francis Place (1771-1854). Place membaca essay Malthus dan amat terpengaruh olehnya. Dia menulis buku pada tahun 1822 yang isinya menganjurkan kontrasepsi. Dia juga membagi-bagikan penjelasan tentang pembatasan kelahiran diantara para kelas pekerja. Di Amerika Serikat, Dr. Charles Knowlton menerbitkan buku tentang kontrasepsi pada tahun 1832. Pada tahun 1860 terdapat anjuran tentang keluarga berencana, dengan demikian semakin bertambah penganutnya. Atas dasar alasan moral, penggunaan alat kontrasepsi, anjuran pembatasan kenaikan jumlah penduduk dengan menggunakan alat-alat kontrasepsi biasanya disebut "neo-Malthusian".

Doktrin Malthus sendiri juga mempunyai akibat penting terhadap teori ekonomi. Para ahli ekonomi yang terpengaruh oleh Malthus berkesimpulan bahwa dalam keadaan normal, kebanyakan penduduk dapat mencegah kenaikan upah melampaui batas yang layak. Ekonom Inggris yang termasyhur, David Ricardo, yang juga seorang sahabat akrab Malthus berkata pernah berkata: "Upah yang layak bagi buruh adalah upah yang diperlukan untuk memungkinkan para buruh dapat hidup dan bertahan dari pergulatan, tanpa bertambah ataupun berkurang". Teori ini kemudian lazim disebut sebagai "hukum baja upah" dan disetujui oleh Karl Marx dan menjadi unsur penting dalam teorinya tentang "nilai lebih".

Pandangan Malthus juga mempunyai pengaruh di bidang ilmu biologi. Charles Darwin mengatakan bahwa dia sudah membaca essay “On the Principle of Population” milik Malthus dan inilah yang telah menyuguhkan mata rantai penting dalam teori evolusi melalui seleksi alamiah.

Sebenarnya Thomas Malthus bukanlah orang pertama yang minta perhatian adanya kemungkinan suatu pemerintahan kota yang tenang tiba-tiba berantakan karena kebanyakan penduduk. Pikiran semacam ini dulu pernah pula diketemukan oleh pelbagai filosof, termasuk Plato dan Aristoteles juga sudah mendiskusikan perkara ini, ungkap Malthus.

Memang dia mengutip Aristoteles yang menulis antara lain: dalam rata-rata negeri, jika tiap penduduk dibiarkan bebas punya anak semau-maunya, ujung-ujungnya dia akan dilanda kemiskinan". Namun janganlah lalu orang mengecilkan arti pentingnya Malthus. Plato dan Aristoteles hanya menyebut ide itu sepintas lalu dan sentuhan permasalahan umumnya sudah dilupakan orang. Tetapi  Malthuslah yang mengembangkan ide itu dan menulisnya secara intensif pokok persoalannya. Dan yang lebih penting, Malthus merupakan orang pertama yang menekankan kengerian masalah kebanyakan penduduk dan mengedepankan masalah ini agar menjadi pusat perhatian kaum intelektual dunia.

Sungguh benar apa yang telah Robert Malthus ungkapkan, namun dibelahan dunia lainnya yang jauh dari Inggris, terdapat filosofi yang sangat menarik dan berbanding terbalik dengan apa yang diungkapkan oleh Robert Malthus. Filosofi Jawa tentunya, yang terkenal dengan kata-katanya, banyak anak banyak rejeki.

Jawa

Jawa adalah nama sebuah pulau di Indonesia. Pulau ini merupakan pulau terpadat penduduknya dan juga merupakan pulau ketigabelas terbesar di dunia. Luas pulau ini adalah 138.793,6 km² dengan jumlah penduduk ± 124 juta jiwa (kepadatan 979 jiwa per km²). Penduduk Pulau Jawa sebagian besar adalah suku Jawa dan suku Sunda. Suku Sunda terutama bermukim di sisi barat Pulau Jawa sementara Suku Jawa bermukim di sebelah tengah dan timur. Di bagian sebelah barat Pulau Jawa terdapat banyak komunitas Suku Jawa atau Suku Bangsa yang berbahasa Jawa. Sedangkan di bagian tengah pulau Jawa ditemukan banyak komunitas Suku Sunda atau Suku Bangsa yang berbahasa Sunda terutama di Kabupaten Brebes dan Kabupaten Cilacap. Selain itu ada pula suku Madura dan suku Bali di Jawa Timur dan suku Betawi di bagian sebelah barat Pulau Jawa, yaitu di kota Jakarta dan sekitarnya.

Pulau Jawa merupakan bagian dari gugusan Kepulauan Sunda Besar dan Paparan Sunda yang pada masa sebelum es mencair merupakan ujung tenggara dari Benua Asia.

Secara administratif pulau Jawa terdiri atas enam provinsi, yaitu Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Provinsi Banten, Provinsi Jawa Barat, Provinsi Jawa Tengah, Provinsi Jawa Timur, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kebanyakan orang Jawa menggunakan Bahasa Jawa, kurang lebih hanya 12% orang Jawa yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa mereka sehari-hari, sekitar 18% menggunakan Bahasa Jawa dan Bahasa Indonesia secara campur dan selebihnya hanya menggunakan Bahasa Jawa saja. Bahasa Jawa memiliki aturan perbedaan kosa kata dan intonasi berdasarkan hubungan antara pembicara dan lawan bicara yang dikenal dengan unggah-ungguh. Aspek kebahasaan ini memiliki pengaruh sosial yang kuat dalam Kebudayaan Jawa dan membuat orang Jawa biasanya sangat sadar akan status sosialnya di masyarakat.

Orang Jawa sebagian besar menganut Agama Islam tetapi yang menganut Agama Protestan dan Agama Katolik juga banyak. Penganut Agama Buddha dan Hindu juga ditemukan pula di antara masyarakat Jawa. Ada pula Agama Kepercayaan Suku Jawa yang sering disebut sebagai Agama Kejawen. Kepercayaan ini terutama berdasarkan kepercayaan animisme dengan pengaruh Hindu-Buddha yang kuat. Masyarakat Jawa terkenal akan sifat sinkretisme terhadap kepercayaan. Semua budaya luar diserap dan ditafsirkan menurut nilai-nilai Jawa sehingga kepercayaan seseorang kadangkala menjadi kabur.

Mayoritas orang Jawa berprofesi sebagai petani namun di perkotaan banyak diketemukan Orang Jawa yang menjadi Pegawai Negeri Sipil dan Militer. Orang Jawa tidak menonjol dalam bidang bisnis dan industri. Orang Jawa juga banyak yang bekerja di luar negeri sebagai buruh kasar dan pembantu rumah tangga.

Masyarakat Jawa juga terkenal akan pembagian golongan-golongan sosial. Pakar antropologi Amerika yang ternama, Clifford Geertz, pada tahun 1960-an membagi masyarakat Jawa menjadi tiga kelompok: kaum santri, abangan dan priyayi. Menurutnya kaum santri adalah penganut agama Islam yang taat dan kuat, kaum abangan adalah penganut Islam secara nominal atau penganut Kejawen, sedangkan kaum Priyayi adalah kaum bangsawan. Tetapi dewasa ini pendapat Geertz banyak ditentang karena ia mencampur golongan sosial dengan golongan kepercayaan.

Orang Jawa juga terkenal dengan kebudayaan dan kesenian, terutama dipengaruhi oleh agama Hindu-Buddha, seperti pementasan wayang. Repertoar Cerita Wayang atau lakon sebagian besar berdasarkan Wiracarita Ramayana dan Wiracarita Mahabharata. Selain pengaruh India, terdapat juga pengaruh Islam dan Dunia Barat. Seni batik dan keris merupakan dua bentuk ekspresi masyarakat Jawa. Musik gamelan, yang juga dijumpai di Bali memegang peranan penting dalam kehidupan budaya dan tradisi Jawa.

“There is a great island called Yava, abundantly supplied with rice grains and other seeds and rich in gold mines. That is acquired by the immortals and by other means: Where there is a wonderful place dedicated to Sambu  (Śiva), a heaven of heavens, surrounded by the Ganges and other holy resorts and laid in a beautiful woodland inhabited by elephants, existing for the good of the world.”― The Candi Canggal Inscription.

Paragraf di atas merupakan bukti eksisnya Pulau Jawa. Sehingga pantas dan wajar seandainya kalimat, Banyak anak banyak rejeki.

Banyak Anak Banyak Rejeki

Pepatah ‘Banyak anak Banyak Rejeki’ memang benar adanya. Tapi banyak orang yang salah mengartikan. Banyak orang yang kejebak dengan pepatah ini. Dengan harapan akan bertambah rejekinya, kadang kala sebagian dari mereka, setiap tahun menargetkan untuk mendapatkan momongan lagi. Tidak segan-segan memproduksi anak manusia dalam jumlah banyak. Tapi apa kenyataannya. Makin banyak anaknya , tapi kenapa kehidupannya makin terpuruk. Bingung memikirkan biaya sekolah untuk anak pertama, pusing memikirkan biaya baju untuk anak kedua, linglung memikirkan biaya susu untuk anak ketiga dan seterusnya dan seterusnya.

Akhirnya mereka mulai berpikir, “Apanya yang membawa banyak rejeki, kehidupanku malah tambah terpuruk”. Kemudian mulai menyalahkan anak. Anak sering dimarahi, yang lebih parah anak dibiarkan terlantar dipinggir jalan, kebutuhan gizi anak terabaikan. Yang membuat kadang kita merasa aneh adalah, katanya anaknya mengalami gizi buruk, tapi kenapa bapaknya gemuk-gemuk. Siapa yang salah coba?

Lebih parahnya, dengan kehidupan seperti itu, malah menyalahkan Tuhan. Bilang Tuhan tidak adil. Lalu mulai lupa sama Tuhan. Sholat mulai lalai, membaca al-quran ditinggalkan, bibir tidak pernah lagi basah dengan bacaan zikir.

Yang salah sebenarnya bukan kehidupannya, yang salah juga bukan banyak anaknya. Tapi yang salah adalah mengartikan pepatah, “Banyak Anak Banyak Rejeki”. Insya Allah yang benar adalah bahwa banyak anak memang membawa banyak rejeki, asal kita tahu bahwa rejeki itu harus dijemput atau dicari bukan ditunggu dan dinanti.

Seorang bapak harus sadar bahwa ketika anaknya lahir, berarti Tuhan sudah menjatahkan rejeki untuknya. Tapi jangan berharap rejeki itu akan datang tiba-tiba atau mengharapkan mendapatkan durian runtuh atau rejeki nomplok. Rejeki itu harus dicari atau dijemput. Entah dengan membuka usaha sampingan. Mungkin, ibu bisa membuka warung nasi atau jual gorengan. Ayah bisa buka servis radio atau buka jasa penerjemahan. Atau usaha lainnya yang bisa dikerjakan diluar pekerjaan rutinnya.

Al-Qur’an

Ini adalah kitab yang sangat suci bagi umat Islam. Dijadikan sebagai sumber dan rujukan berbagai macam persoalan. Kontribusinya sudah teruji lebih dari empat belas abad.

“……………….Dia menentukan di dalamnya kadar makanan-makanannya dalam empat hari. Sama rata bagi semua peminta(41-10).

Di dalam surah di atas terdapat kata Dia menentukan di dalamnya kadar makanan-makanannya dalam empat hari, ini berarti bahwa bumi ini sesungguhnya diciptakan mampu dan selamanya akan tetap mampu menjamin makanan bagi semua makhluk yan hidup di atasnya.

Terdapat juga ungkapan “sama rata bagi semua peminta”. Ini dapat berarti bahwa makanan yang disediakan oleh Tuhan di bumi ini dapat diperoleh setiap pencahari yang berusaha mendapatkannya sesuai dengan hukum alam. Ungkapan tersebut dapat berarti bahwa segala kepentingan jasmani dan keperluan manusia lainnya telah dijamin kecukupannya dengan tersedianya hewan dan tumbuhan di bumi. Maka kekhawatiran bahwa bumi pada suatu ketika tidak dapat lagi menumbuhkan cukup makanan bagi penduduk bumi yang cepat bertambah itu terdengar seperti tidak beralasan. Profesor Colin Clark, pernah menjadi direktur Lembaga Penyelidikan Ekonomi Pertanian dari Universitas Oxford, mengatakan, “Bumi ini dapat menjamin makanan, serat, dan segala hasil pertanian lainnya yang diperlukan oleh dua puluh delapan biliun jiwa, sepuluh kali lipat jumlah penduduk dewasa ini”. Jadi, berusaha menjadi pencahari yang baik adalah yang seharusnya dilakukan.

Yang menjadi persoalan adalah sifat ketidakadilan dan keserakahan yang membabi buta dan kadang kebencian sesama bangsa yang dapat menimbulkan sifat untuk tidak saling berbagi. Oleh karena itu, kitalah yang seharusnya mengubah sifat kita sebagai manusia dan saling percaya untuk menjaga bumi.


Sederhana saja, kadang kita sering mendengar terdapat penimbunan makanan sehingga terdapat kelangkaan dimana-mana. Hal seperti inilah yang sebenarnya membuat makanan menjadi langka. Sifat licik dan kejam antar sesama manusia. Sebenarnya sungguh indah ketika manusia saling berbagi.
Dihas Enrico untuk Sahid Nurika

Referesi:
  1. Al-qur’an dan terjemahannya
  2. Wikipedia
  3. Google.com









No comments:

Post a Comment

silahkan berkomentar, tidak dipungut biaya..! apabila ada kata yang salah dalam hal deskripsi apa pun tentang isi dari postingan zonesa.blogspot.com, mohon kritik dan sarannya agar lebih baik. terimakasih dan salam hangat. Sehangat pelukan pasangan Anda.