SUMBER |
Saya
lagi boring karena tidak ada apa-apa
yang bisa saya kerjakan, tidak ada perintah, dan tidak ada alasan untuk
melakukan sesuatu. So, mungkin menunggu adalah pekerjaan, pekerjaan yang boring. Manfaatkan waktumu dengan
membaca, itulah caramu menghormati waktu kerjamu yang memang sedang tidak ada
yang sedang kamu lakukan (baca: menunggu perintah), itulah yang saya pernah
dengar dari guru besar saya (sebenarnya beliau tidak berbadan besar tapi besar
ilmunya). Ya sudah, sambul buka muka
buku, kasak kusuk, kompasiana, bloger, saya menemukan sebuah artikel
menarik mengenai Migas, minyak dan gas.
Well,
minyak dan gas adalah sesuatu yang eksotis untuk dibicarakan, ini adalah
kekayaan bangsa Indonesia, paling tidak mereka yang memimpin dan memberikan
arah kemana bangsa ini akan bergerak sadar ini adalah kekayaan dan sumber daya.
Minyak dan gas, dua benda yang bisa membuat rakyat Indonesia dihormati di mata
dunia juga sekaligus hina dan melarat, seperti ayam mati di lumbung padi, eh
salah, ESEMKA (merk mobil buatan anak SMK) kehabisan bensin dan terpaksa
didorong. Untuk lebih jelas, karena saya juga sebenarnya kurang paham masalah
ini, silahkan lanjutkan membaca, kali saja Anda mendapatkan ilham atau petunjuk
mengapa harga BBM naik dan pendapatan masyarakat Indonesia tidak naik.
Quote
Rizal Ramli:
“Begitu
pemerintahan Gus Dur jatuh, undang-undang ini kemudian diajukan dengan sangat
cepat oleh Pak Boediono sama Pak Purnomo kawan saya dan diproses di DPR dengan
sangat cepat.”
===
DR. RIZAL RAMLI Saksi Ahli PERKARA NOMOR 36/PUU-X/2012 PERIHAL PENGUJIAN
UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2001. Mahkamah Konstitusi, Rabu, 18 Juli 2012.
Yang
Mulia Bapak Ketua dan Anggota Mahkamah Konstitusi, Pak Din Syamsudin Ketua
Muhammadiyah, Pak Amidhan dari MUI, dan kawan-kawan dari Muhammadiyan dan NU,
dan para tim pembela. Inisiatif untuk meminta judicial review tentang
Undang-Undang Migas ini menurut saya ini suatu hal yang historis yang diminta
oleh kawan-kawan organisasi sosial kemasyarakatan paling besar di Indonesia.
Saya
ingin menyampaikan beberapa hal. Yang pertama adalah proses pembuatan
Undang-Undang Migas ini. Undang-Undang Migas ini dibiayai dan disponsori oleh
USAID dengan motif: 1. Agar sektor migas diliberalisasi. 2. Agar terjadi internasionalisasi
harga, agar harga-harga domestik migas disesuaikan dengan harga internasional.
3. Agar asing boleh masuk sektor hilir yang sangat menguntungkan dan bahkan
risikonya lebih kecil dibandingkan sektor hulu.
Pertama
kali draft undang-undang ini diajukan oleh Menteri Pertambangan Kuntoro
Mangunsubroto pada masa pemerintahan Habibie, ditolak oleh DPR atas saran kami
karena kami pada waktu itu adalah penasihat DPR untuk keempat Fraksi, Fraksi
Angkatan Bersenjata, Fraksi Golkar, dan PPP dan PDIP.
Kemudian
selama pemerintahan Gus Dur Undang-Undang ini nyaris stak tidak ada kemajuan
karena tidak mungkin dilewatkan jika Menkonya itu Pak Kwik Kian Gie dan
kemudian dilanjutkan oleh saya. Begitu pemerintahan Gus Dur jatuh,
undang-undang ini kemudian diajukan dengan sangat cepat oleh Pak Boediono sama
Pak Purnomo kawan saya dan diproses di DPR dengan sangat cepat.
Setelah
itu, Kedutaan Besar Amerika dan USAID mengirim laporan ke Washington telah
berhasil menggolkan undang-undang ini yang sangat penting untuk kepentingan
bisnis Amerika di sektor migas di Indonesia. Pembuatan undang-undang yang
dibiayai oleh asing biasanya banyak prasyarat, dan conditionalities-nya, dan
sering diiming-imingi dengan pinjaman, apa yang dikenal sebagai loan-tied laws, undang-undang yang dikaitkan
dengan pinjaman.
Dalam
sejarah Indonesia, itu banyak sekali kasusnya. Saya berikan contoh, ADB
menawarkan U$300.000.000,00 dengan syarat Pemerintah Indonesia membuat Undang-
Undang Privatisasi BUMN. Jadi, Undang-Undang Privatisasi BUMN ini dipesan oleh
ADB dan ditukar dengan pinjaman sebesar U$300.000.000,00. Undang-Undang
Privatisasi Air dipesan oleh Bank Dunia dengan memberikan pinjaman
U$400.000.000,00. Jadi, air yang di dalam Undang-Undang Dasar kita dinyatakan
sebagai dikuasai oleh negara untuk kepentingan rakyat sebesar-besarnya, itu pun
mau diswastanisasikan. Dan untuk itu, Pemerintah Indonesia diberikan pinjaman
U$400.000.000,00, Undang-Undang Migas termasuk. Jadi undang-undang yang
dikaitkan dengan pinjaman luar negeri, penuh prasyarat, itu tidak mungkin
tujuannya betul-betul untuk menyejahterakan rakyat dan negara Indonesia. Sudah
pasti ada kepentingan strategis, kepentingan bisnis di belakangnya yang ikut dompleng
persyaratan dari pada undang-undang tersebut.
Ini
semuanya kebanyakan bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 1945, banyak sekali
undang-undang begini. Dan ini adalah pintu masuk dari liberalisasi dan
neoliberalisasi di dalam bidang ekonomi.Jadi, kalau zaman Belanda dulu, Belanda
mau berkuasa di Indonesia, itu harus pakai senjata, harus pakai pasukan. Kalau
sekarang itu tidak perlu, siapa saja boleh jadi presiden ya, siapa saja, partai
apa saja boleh berkuasa. Yang penting, undang-undang dalam bidang ekonominya
itu merupakan pesanan dari kepentingan asing. Dari situlah Indonesia dipaksa
mengambil langkah-langkah dan undang-undang yang bertentangan dengan Undang-
Undang Dasar 1945 dan bertentangan dengan itikad untuk memanfaatkan semua
sumber daya alam itu untuk kesejahteraan rakyat dan bangsa.
Seharusnya,
pembuatan undang-undang tidak boleh dibiayai oleh asing, harus dibiayai sendiri
oleh APBN, sehingga undang-undang betul-betul mencerminkan kepentingan rakyat
dan bangsa kita. Tidak mungkin asing membiayai dan memesan undang-undang tanpa
melibatkan kepentingan strategis mereka. Salah satu adalah menyangkut harga.
Menurut UU Migas harga itu harus sama dengan harga internasional. Saya
mengulangi kembali karena ini penting sekali. Contoh yang sangat sederhana, pulpen
ini ongkos produksinya Rp90,00. Kalau dijual di Indonesia, harganya Rp100,00.
Tetapi seandainya pulpen ini dijual di New York, harganya Rp1.000,00. Para
ekonom neoliberal dan essensi UU Migas akan mengatakan, “Indonesia rugi karena
kalau dijual di dalam negeri hanya Rp100,00, kalau dijual di luarnegeri, di New
York, ini Rp1.000,00.” Inilah di belakang dasar dari banyak pikiran supayaharga
Migas di dalam negeri disamakan dengan harga internasional.
Internasionalisasi
harga tersebut juga sudah terjadi di dalam bidang kesehatan, pendidikan, migas,
dan sebagainya. Nah harganya, harga internasional, tapi pendapatan rakyatnya,
pendapatan Melayu, pendapatan lokal. Kebijakan seperti ini adalah, strategi
jalur cepat untuk mendorong proses pemiskinan struktural.
Kenapa?
Kalau memang demikian, rakyat Indonesia berhak meminta, “Naikkan dulu dong
pendapatan kami sama dengan di New York,” yaitu rata-rata U$40.000 atau
Rp400.000.000,00. Kalau pendapatan rakyat sudah segitu, rakyat Indonesia saya
rasa tidak keberatan, kalau harga-harga dinaikkan sama dengan di New York tidak
ada masalah.
Negara-negara
di Asia yang berhasil mengejar ketinggalannya dari barat, tidak langsung
menyesuaikan dengan harga internasional, tapi terlebih dahulu mendorong, memacu
pertumbuhan ekonomi di atas 10%, meciptakan lapangan kerja, meningkatkan
pendapatan, baru harga-harga disesuaikan. Jadi, ada perbedaan mendasar dengan
apa yang dilakukan di Indonesia dengan di negara-negara lain yang berhasil
memakmurkan rakyatnya dan mengejar ketinggalannya dari Barat. Kita ini
seolah-olah satu-satunya solusi hanya menyesuaikan harga dengan harga internasional
dan berhutang.
Menurut
hemat kami, internasionalisasi harga tersebut bertentangan dengan Undang-
Undang Dasar 1945, terutama untuk komoditi-komoditi yang strategis, seperti
migas, pendidikan, dan kesehatan. Kalau misalnya ini menyangkut mobil,
elektronik, dan lain-lain, kami tidak ada masalah, serahkan kepada mekanisme
pasar. Tapi kalau menyangkut kepentingan yang strategis, negara berhak
menentukan dan melakukan intervensi agar harga itu tidak selalu sesuai dengan
harga internasional. Apalagi apa yang disebut sebagai harga internasional itu?
Selama 20 tahun terakhir, harga internasional bukanlah mencerminkan supply and demand. Saya mohon maaf, tadi
ada saksi pemerintah yang mengatakan supply and demand. Tidak, itu adalah harga
para spekulator financial yang mempermainkan harga-harga komoditi.
Sebagian besar dari pembentukan harga itu adalah permainan para spekulator, bukan hanya hukum supply and demand. Jadi untuk Indonesia sekedar ikut-ikutan harga internasional, sebetulnya menyerahkan nasib kita kepada para spekulator internasional.
Satu
yang penting, Pak Ketua. Menurut saya penting karena disinilah permainan
utamanya. Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945 mengatakan, “Bumi, air, dan
kekayaan alam Indonesia dikuasai oleh negara dan dimanfaatkan sebesarbesarnya
untuk kesejahteraan rakyat Indonesia.” Di undang-undang yang asli itu tidak ada
kata-kata dimiliki oleh rakyat Indonesia dan dikuasai dan dikelola oleh negara,
sehingga akibatnya, istilah dikuasai itu sering bisa dimanipulasi, bisa
direkayasa, akhirnya yang berkuasa beneran ya swasta, terutama asing. Mudah-mudahan
nanti setelah pemerintahan ini berakhir kita mengajukan amandemen Pasal 33,
sehingga kata-katanya menjadi lengkap. “Bumi dan air dan kekayaan alam Indonesia
dimiliki oleh rakyat Indonesia, dikuasai dan dikelola oleh negara untuk
dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan rakyat Indonesia”, supaya
tidak ada lagi multi tafsir dan rekayasa
interpretasi.
Saya
ingin memberikan contoh di sini di tabel yang diajukan oleh Pembela tentang
“pemaknaan Pasal 33 UUD 1945 hanya menyangkut pengaturan kebijakan,
pengelolaan, pengurusan, pengawasan, dikuasai oleh negara. Tidak ada istilah
dimiliki karena yang paling penting sebetulnya pemiliknya, walaupun di dalam
Undang- Undang Dasar 1945 kita sendiri dikatakan manfaatnya digunakan
sebesar-besarnya untuk rakyat. Artinya siapa pemiliknya itu? Ya rakyat, secara
tidak langsung, kalau tidak buat apa digunakan sebesar-besarnya untuk rakyat.
Jadi di dalam Pasal 33 itu sudah implisit kata dimiliki walaupun tidak
eksplisit, sebetulnya itu milik rakyat.
Pada
sidang yang terakhir, mantan Dirjen Migas yang bertindak sebagai saksi ahli
Pemerintah, saya tidak tahu apakah itu conflict interest karena beliau waktu
itu juga terlibat dalam penyusunan Undang-Undang Migas ini. Saksi Ahli tersebut
disini mengatakan “Pemerintah tidak kasih apa-apa kok sama asing karena semua
pengaturan dikelola oleh pemerintah, yang kita kasih itu cuma economic
right-nya saja”. Wah, saya dengar itu kaget. ‘Economic right” itu yang paling
ada nilainya, kalau tidak ada economy right-nya tidak ada nilainya itu barang. Justru
itu yang paling berharga yang diserahkan sepenuhnya kepada asing, dan menurut
saya itu interpretasi yang sangat berbahaya karena harusnya itu dikuasai oleh
Pemerintah Indonesia. Contoh yang paling sederhana di sektor mineral banyak
sekali dan juga berlaku di sektor Migas. Banyak perusahaan-perusahaan tambang
besar dunia, salah satunya BHP Billiton dari Australia memiliki tambang batubara
di Kalimanatan Tengah yang kadar batubaranya sangat tinggi (cooking coal) untuk
industri baja. Puluhan tahun konsesi mereka tidak bikin apa-apa karena dia
punya bisnis di tempat yang lain lebih menarik. Tetapi aset tersebut di dalam
bukunya Billiton, itu masuk di dalam contingency
asset. Dengan itu mereka bisa cari uang karena tambang itu kan sudah ada
valuasinya, tambang di situ sudah dieksplorasi tapi tidak dikerjakan. Sudah ada
estimate nilainya berapa, tinggal kalikan saja berapa dollar per ton. Nah itu
dimasukkan ke dalam contingency asset,
bisa mencari pinjaman dan kemudian hasil pinjamaan itu dipakai untuk investasi
bisnis di luar Indonesia. Kasus-kasus seperti ini banyak sekali terjadi di
sektor Migas. Kenapa? Karena pikiran seperti mantan Dirjen Migas kemarin, “kita
tidak kasih apa-apa kok, kita kasih economy rights”. Justru yang paling
berharga itu economy right-nya, bukan soal aturan macam-macam.
Kemudian
ada hal-hal yang cukup penting di Pasal 3 Undang-Undang Migas, penyelenggaraan
harus accountable yang diselenggarakan dengan mekanisme persaingan usaha yang
wajar, dan sehat, dan transparan. Dan saya setuju dengan Pembela dan Pemohon,
hal ini adalah cara dan mekanisme, padahal yang paling penting itu prinsip dan
tujuan. Prinsip dan tujuannya itu ada di Pasal 33 ayat (2), “Cabang-cabang
produksi yang penting bagi negara dan menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai
oleh negara.” Prinsip dan tujuannya yang paling penting, tetapi kok didalam
undang-undang itu mekanismenya malah yang lebih diutamakan. Di sinilah virus
dari neoliberalisme itu masuk. Kok cara itu kan cuma sebagian, bukan hal yang
terlalu penting.
Nah,
kemudian menyangkut modus kerja sama, Indonesia menganut selama ini production
sharing arrangement. Sebetulnya PSA bukan satu-satunya modus, ada kerja sama
operasi, ada kepemilikan langsung. Negara-negara yang berhasil di sektor migas
dan cukup kuat dan besar terutama di negara-negara Arab dan Latin Amerika itu
tidak memakai PSA, tetapi memakai konsep kepemilikan (ownership). Aramco dikuasai
oleh Pemerintah Saudi Arabia dalam bentuk kepemilikan saham mayoritas, ada asingnya
minoritas. Nah apa manfaatnya ? Menurut saya sistem pemilikan mayoritas ini
jauh lebih efektif dibandingkan PSA karena satu, cost control-nya bisa dilakukan secara internal, wong wakil dari
pemerintah Saudi Arabia duduk di dalam manajemen, ikut melakukan kontrol manajemen,
ikut melakukan control cost, proses alih teknologi juga lumayan bagus, dan
sebagainya. Jadi, banyak dari raksasa-raksasa atau BUMN milik negara di
negara-negara berkembang yang besar itu kebanyakan memiliki (ownership) saham
mayorita. Memang ada asingnya sebagai pemilik minoritas. Jadi, PSA bukan
satu-satunya opsi yang paling baik yang selama ini oleh pejabat selalu
dibanggakan sebagai yang paling hebat, paling dahsyat, dan sebagainya. Kenapa?
Karena sangat rawan terhadap mark up,
biaya-biaya, hampir semua biaya dan saya juga dengar banyak biaya entertainment untuk menyogok pejabat Indonesia
itu masuk recovery cost. Pak Hakim,
itu bukan dongeng dan biaya lain-lain dibebankan kepada cost recovery. Dan yang kedua yang juga tadi Pak Hakim tunjukan
produksi anjlok kok dari 1.300.000 barrel per hari menjadi hanya 850-an barrel
per hari, tapi cost recovery-nya naik
ya hampir dua kali dan saya mohon maaf tidak pernah ada penjelasan yang
transparan dan hitung-hitungannya. Kenapa hal itu terjadi ? Saya dengarkan
dengan hati-hati, keterangan wakil pemerintah yang ada itu tabel, grafik,
produksi, tapi penjelasan kenapa cost recovery
naik dua kali ? produksi anjlok, apa komponen biayanya, bagaimana hitungannya
tidak pernah dijelaskan kepada rakyat Indonesia secara terbuka.
Yang
ketiga adalah budaya birokratis, semua mau dikontrol, semua mau diperiksa, tapi
saya mohon maaf kultur control di Indonesia dan periksa ini itu juga sebagian
besar identik dengan pemerasan. Semakin banyak kontrolnya, semakin banyak
diperiksanya, semakin banyak yang harus diservis pejabatnya ya, jangan
diartikan kontrol oleh negara itu hebat dan dahsyat karena cara kontrolnya itu
mohon maaf tidak canggih. Sederhana kok, biaya menghasilkan oil di mana (on-sharevs off share). Kedalaman berapa
itu saja dipegang ya, tidak usah sampai detail. Sehingga tidak aneh pemerintah
Indonesia sejak 8 tahun terakhir telah memberikan ratusan konsensi di sektor
minyak bumi dan gas, tapi tingkat eksplorasi sangat rendah. Penemuan cadangan
baru nyaris tidak ada, kenapa ? Saya tanya kepada investor asing maupun pemain
minyak dalam negeri, birokrasinya ruwet, ribet, itu dimuat di salah satu majalah
oil and gas internasional, bahwa iklim investasi migas di Indonesia itu sangat
ribet karena terlalu banyak kontrol, terlalu banyak macam-macam. Tapi tidak
control terhadap cost, itu kadang-kadang
banyak kontrol BP migas supaya nanti temannya bisa masuk sebagai pemasok atau
apa, gitu-gitu aja tidak lebih dan tidak kurang.
Jadi,
menurut hemat saya budaya birokratis dalam kaitannya dengan BP Migas menurut
saya tidak penting-penting amat. Saya mohon maaf, pada dasarnya fungsi BP migas
itu bisa diambil alih oleh Dirjen Migas, oleh ESDM. Perbedaannya biaya BP migas
sangat besar dibandingkan biaya Dirjen Migas karena dianggap profesional
pegawainya harus biaya mahal sama kayak BPPN dulu dibikin. Kalau boleh sejarah
diulang kembali walaupun bukan saya yang bikin BPPN, saya tidak akan bentuk
BPPN. BPPN gajinya, gaji internasional, stafnya kebanyakan titipan dari
bank-bank yang bermasalah. Sehingga recovery rate BPPN di Indonesia itu Cuma 20%,
di negara lain 40%, data-data banyak yang hilang. Kalau diserahkan kepada Bank
untuk melakukan restrukturisasi, cost-nya lebih murah. Saya juga percaya kalau
Dirjen Migas diberikan kewenangan lebih besar seperti halnya BP Migas bisa
lebih efisiendan murah. Apa buktinya ya kan, biayanya kemahalan. Kemarin Bp
Migas baru ulang tahun, ulang tahun saja di Ritz-Carlton. Saya sedih lihatnya,
tidak ada prihatinnya, padahal kantornya sudah bagus kenapa tidak ulang tahun
di kantor? Kenapa mesti di Ritz-Carlton? Ini contoh, kalau kita lakukan audit
terhadap biaya BP Migas itu mahal, dampak dan manfaatnya kecil, kecuali jika BP
Migas berhasil menekan cost recovery,
berhasil meningkatkan produksi, okelah. Jadi menurut saya tidak penting-penting
amat BP Migas. Lebih bagus fungsi regulasi Migas kita kembalikan kepada Dirjen
Migas.
Kemudian
ada Pasal 10 di Undang-Undang Migas, “Badan usaha atau bentuk usaha tetap yang
melakukan usaha hulu dilarang melakukan kegiatan usaha hilir.”
KETUA:
MOH. MAHFUD MD
Saudara
Ahli supaya dipercepat ya.
AHLI
DARI PEMOHON: RIZAL RAMLI
Iya
Pak Ketua, akan saya percepat.
Pasal
itu bagus supaya tidak ada monopoli vertikal. Tapi dalam praktiknya, Shell atau
BP tinggal bikin PT di hilir, tetapi tetap di hulu, migas. Jadi,
kalimat-kalimat di pasal itu, multi interpretasi, sangat sumir. Dalam
praktiknya, tetap terjadi integrasi vertikal.
Kemudian pasal ayat (22) Migas tentang DPR. DPR hanya diberitahu, tidak dimintai persetujuannya. Yang kemudian yang juga penting pasal tentang arbitrase internasional. Di situ dikatakan kalau ada pertikaian, diserahkan kepada arbitrase internasional. Prof. Joseph Stiglitz, pemenang Nobel, melakukan studi, ternyata 99% dari hasil arbitrase internasional sangat merugikan negara berkembang dan selalu menguntungkan negara-negara maju. Oleh karena itu, pada tahun 2007, Stiglitz datang ke Jakarta, ketemu Presiden SBY, meminta agar arbitrase internasional ini dihapuskan dari rencana Undang-Undang Investasi. SBY seperti biasa, “Iya, bagus,” manggut-manggut, tapi tetap saja ada itu pasal arbitrase internasionalnya. Stiglitz ketemu saya, kecewa betul, “ternyata Presiden kamu bilang, ‘Iya, iya,’” ya kan? Kejadian terus itu berulang.
Kesimpulannya,
Bapak Hakim Yang Terhormat, kami minta Undang-Undang Migas yang disponsori,
dibiayai oleh USAID dengan membawa kepentingan strategis mereka bertentangan
dengan semangat Undang-Undang Dasar 1945, sebaiknya dibatalkan. Banyak terjadi
manipulasi dari kata dikuasai negara, sehingga menjadimultitafsir, sehingga
pada praktiknya menjadi swastanisasi dan asingnisasi besar-besaran. Untuk itu
kami minta dengan hormat kepada Ketua dan Anggota dari Majelis Hakim untuk menyatakan
Undang-Undang Migas ini bertentangan dengan Undang- Undang Dasar 1945 dan
menetapkan peraturan peralihan. Memang bakal ramai, tapi tidak apa-apa kok,
ramai sebentar, ya. Masih lebih mending daripada di negara lain,
dinasionalisasi. Di Venezuela dan banyak Negara Latin Amerika, sector migas di
nasionalisasi. Kita tata ulang lagi undang-undang Migas agar supaya betul-betul
bekerja sesuai dengan semangat Undang-Undang Dasar 1945. Terima kasih.***
kali ini kok ngutip bang??
ReplyDeletejadi UU itu dibeli ya
iya, dibeli ya?
Deletegak ada bahan dan lagi malas nulis....
Deletemenurut artikel di atas sih gitu, gak tau pastinya gmn....
:P
asalamualaikum
ReplyDeletememprihatinkan kalau peraturan bisa sepertu itu kenyataannya
wa'alaikumsalam....
Deletesaya prihatin... :P