Saturday, 6 October 2012

Nama Tuhan Berlumuran Darah


sumber


Sejarah kehidupan manusia menapaki pekatnya debu dan lumuran darah. Sejak Qabil membunuh saudaranya, Habil, hingga kini berapa banyak darah yang sudah mengalir sehingga jika darah itu dikumpulkan, akan cukup untuk mewarnai pakaian seluruh penduduk bumi. Bahkan sisanya pun cukup untuk memerahi pakaian anak keturunan kita yang akan datang. Tetapi, sangat disesalkan, hingga hari ini manusia tidak pernah merasa puas meminum darah.

Demi kehormatan dan kekuasaan darah harus ditumpahkan.  Atas dasar dengki dan balas dendam darah dialirkan dan semata-mata ketamakan, mata air yang merah pekat ini terus mengalir membanjiri sungai-sungai kehidupan manusia yang sedang dilanda kehausan. Atas nama keluarga, golongan bahkan Tuhan mereka mendasarkan penumpahan darah ini. Tidakkah manusia merenungkan dan bertanya kepada hati kecilnya, untuk itukah kita semua diciptakan. Agama mencoba untuk mengubah manusia tidak beradab menjadi beradab namun jubah agama itu pun nampak berlumuran darah. Sebuah syair menyatakan:
Mereka yang tadinya diharapkan akan mengobati penderitaan kita
Malah mereka yang lebih menderita daripada kita
Agama sebagai tumpuan satu-satunya yang akan menyelamatkan manusia dari pertumpahan darah di muka bumi ini, justru agama itu sendiri dinodai dengan lumuran darah manusia.

Ironis sekali. Agama dijadikan tumbal untuk memuaskan hasrat ketidakberagamaan. Banyak golongan yang mencela bahkan mengutuk agama atas realitas yang berseberangan ini. Dengan mengatasnamakan ketenteraman umat, agama dianggap telah mengajarkan pertumpahan darah. Darah menjadi halal untuk diminum atas dasar semangat keberagamaan yang buram.


Ada kesalahfahaman yang sedang terjadi. Tidak ada agama yang mengajarkan kekerasan. Fakta-fakta sejarah agama-agama menyebutkan bahwa kekerasan yang dilakukan atas nama agama muncul dari orang-orang yang tidak beragama. Mereka mengklaim diri mereka beragama padahal mereka luput dari sifat beragama itu sendiri. Kalau ini terasa muluk-muluk coba saja tanyakan dulu pada hati mereka yang paling dalam, jika salah seorang atau beberapa orang anggota keluarga mereka atau yang mereka cintai dibantai secara sadis dengan mengusung simbol-simbol agama dan meneriakkan yel-yel agama dan semangat membela agama, apa mereka hanya berdiam diri, membungkam nurani mereka sambil mengatakan “itu memang benar! Apa ada yang salah?”

Ketika Nabi Muhammad saw menyampaikan tabligh Islam kepada penduduk Mekkah, apa reaksi mereka? Mereka menganggap Rasulullah saw telah menodai agama mereka. Mereka menganggap diri mereka yang paling beragama. Dengan semangat melindungi agama mereka, mereka mengadakan intimidasi dan upaya pembunuhan terhadap Rasulullah saw dan para sahabat beliau.

Semua bermula dari reaksi atas sebuah perbedaan. Perbedaan dipandang sebagai sebuah momok, musuh yang harus diperangi. Hanya ada dua pilihan, “dia atau saya yang harus tamat”. Mengapa perbedaan terkesan seperti laknat? Banyak darah yang telah dialirkan gara-gara perbedaan? Apa yang sedang terjadi pada banyak manusia di muka bumi ini? Sekiranya perbedaan itu niscaya, siklus pertumpahan darah ini akan terus berputar. Tidak adakah jalan untuk memutus siklus ini? Kalau tidak ada, hanya tinggal menghitung hari kapan kita akan menumpahkan darah atau kita yang ditumpas.

Tuhan telah mewarisi perbedaan ini dalam setiap dinamika kehidupan manusia. Tidak mungkin perbedaan ini akan terus berbuah pertumpahan darah. Pasti dia telah menyematkan dalam wujud perbedaan itu suatu rahmat yang seringkali luput dari pandangan manusia, kalau begitu, dimana letak rahmat itu?

Agama manapun, semua berasal dari Tuhan, paling tidak setiap agama meyakini Tuhan. Tidak mungkin kalu suatu agama tertentu mengajarkan kejahatan. Kalau terjadi kejahatan, bukan salah agamanya tetapi ada yang salah dalam diri pemeluknya. Agama hanya menyediakan lintasan. Ke arah mana pemeluknya berjalan, itu terserah dia. Sekiranya setiap orang menghayati bahwa agama itu sumber kebaikan dan merupakan kebenaran yang sifatnya personal, dan ia berusaha untuk tidak meluapkannya kepada yang berbeda dengannya, inilah sebuah jalan untuk saling memahami dan menghargai perbedaan. Apapun namanya, pluralisme, keberagamaan, kemajemukan, ini yang seyogianya masuk ke dalam level praktis bukan teori yang mewacana secara abadi.

Ditulis Oleh: Nur Al-Kalam

20 comments:

  1. perang, pembunuhan akan tetap ada bersama dosa besar lain hingga hari kiamat

    ReplyDelete
    Replies
    1. yap bener..
      dosa dan pahala adalah kodrat manusia..
      :)

      Delete
  2. posting yang sangat menarik, terimakasih telah berbagi.
    blognya bagus sekali, saya suka blog ini.

    ReplyDelete
  3. Sebetulnya kekerasana atas nama agama itu terjadi karna paham 'agama sayalah paling benar". Di situ salahnya... Harusnya kalau merasa agamanya paling benar kenapa nggak simpan saja di hati dan jangan terlalu digembor2in. Yah bilang saja saya nyaman. Cukup.

    Oh yah, nice post.... Bilang ke temanmu, tulisannya bagus, kritis. ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. agama diciptakan untuk memanusiakan manusia dan tingkah laku yg dapat ditunjukkan oleh pemeluk agama adalah menyayangi manusia..
      :)

      Delete
  4. Yang lebih menarik lagi dengan 'peringatan' Allah terhadap muslim bahwa harus berhati2 terhadap Nasrani dan Yahudi, yang mengakibatkan beberapa dari kita mutlak ga suka dengan keduanya.

    Kalo sebagian dari kita aja mutlak ga suka terhadap mereka, terus kenapa sebagian dari mereka ga boleh mutlak ga suka ama kita? dan selama mereka punya strategi dan senjata buat melampiaskan ketidaksukaannya terhadap kita, wajar dong kalo pake acara invasi, toh kita yang ga suka mereka nya ga punya apa buat ngelawan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. berhati-hati maksudnya mungkin adalah jangan sampai kita bersikap dan bertingkah laku seperti mereka....
      :)

      Delete
  5. dulu waktu smp ada penduduk baru di kamungku yang nonmuslim, pada suatu siang di sawah ada tetangga yang nyrocos mengajak menyerbu rumah orang baru itu, saya sempat kaget tapi orang-orang tak ada yang merespon omongan orang yang sepengetahuanku gak pernah sholat ini. ya, yang tukang ngamuk biasanya yang pengin dianggap beragama, bukan mereka yang benar beragama

    ReplyDelete
  6. di dalam agama sesungguhnya ada kedamaian yang sangat indah ...itu yang saya tahu :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. dan kadang sebgian orang tidak tahu atau pura-pura tdk tahu..
      :)

      Delete
  7. msh bahas hal berkaitan dgn agama ya sob,
    no komen ah...
    :)

    ReplyDelete
  8. Tau nggak.... lapis kulit ari itu amat tipis, tapi sekaligus kuat? Melihat kebenaran diantara rimba perbedaan itu seakan tak terlihat, tapi dia ada.. kokoh kuat. Menyalahkan manusia pengikut hawa nafsu yang mengatasnamakan agama dengan manusia pembela dakwah, alangkah sulitnya... tapi ada! Bagaimana membedakannya, lihatlah kesehariannya... Bukankah Imam Syafi'ie pernah berkata, kau tidak akan pernah mengenal seseorang jika tidak membersamainya dalam perjalanan minimal 3 hari? Jika tidak pernah, maka janganlah menghakimi. Daaann yang paling mudah untuk membedakan si pengikut hawa nafsu dan pembela dakwah adalah THO'AT-nya, sejauh mana ia tunduk pada perintah Tuhan-nya

    Kalau yang ini nggak tau juga menarik atau nggak buat dibaca :)
    http://al-ihtisyam.blogspot.com/2013/03/pertebal-persamaan-kikis-perbedaan-maka.html

    ReplyDelete
    Replies
    1. kenapa gak setipis selaput dara/keperawanan...??
      :P

      saya hanya mikir gimana nanti jadinya ketika masjid dijadikan orasi politik dan akan ada keributan ketika salah satu imam tidak berhasil menjadi legislatif malah muadzinnya yang melenggang ke Senayan...

      Delete

silahkan berkomentar, tidak dipungut biaya..! apabila ada kata yang salah dalam hal deskripsi apa pun tentang isi dari postingan zonesa.blogspot.com, mohon kritik dan sarannya agar lebih baik. terimakasih dan salam hangat. Sehangat pelukan pasangan Anda.