Sunday, 8 January 2012

Inilah Alasan Mengapa Istri Merias Diri


SUMBER


Beberapa hari galau, eh salah, hampir 3 bulan galau, menuggu pengumuman. Iseng mencari artikel tentang isteri. Salah satunya saya pos di bawah ini. Saya temukan di sebuah note facebook, namun saya lupa. Mohon ijin ya buat penulisnya, hanya ingin berbagi lebih lanjut. Terimakasih.

Senyumnya mengembang menyambutku sepulang dari kantor. Seperti biasa, wanita itu mengajakku duduk di sofa. Kemudian wanita itu membuka sepatuku, kaus kakiku dan tidak lupa menyuguhkan secangkir teh manis hangat dan sepiring kue kesukaanku.


Dia adalah Annisha. Istriku yang sudah 13 tahun menemaniku dan telah memberiku 3 orang anak yang lucu. Ketika awal menikah, Annisha seorang wanita karir yang cantik dan menarik. Sungguh, Annisha benar-benar membuatku jatuh cinta.

Namun sejak kelahiran Daffa anak pertama kami, dia memutuskan untuk berhenti dari perusahaan tempatnya bekerja. Annisha ingin lebih fokus dalam merawat dan mendidik anak-anak kami.

Aku tak mempermasalahkan alasannya. Aku ikut senang dan mendukungnya. Penghasilanku sudah lebih dari cukup untuk kebutuhan rumah tangga kami.

Namun seiring berjalannya waktu, Annisha telah berubah di mataku. Annisha tak semenarik dulu lagi. Sibuknya Annisha dalam mengurus rumah tangga dan merawat anak-anak kami, membuat Annisha lalai dalam merawat dirinya. Annisha jarang menggunakan make up, parfum, dan sering kali memakai daster butut yang selalu setia menemaninya di rumah. Menurut Annisha, sangat nyaman dan adem bila memakai daster di cuaca yang sangat panas.

“Mau makan malam atau mandi dulu mas?” Annisha membuyarkan lamunanku.

Di tangannya sudah siap handuk dan baju gantiku. Mataku sempat melirik sebuah foto pernikahan di dinding dengan tulisan dibawahnya: Annisha & Ahmad. Kami tampak begitu bahagia dan serasi.

“Mandi saja dek, tadi di kantor aku sudah makan”,

Aku terpaksa berbohong, meski sebenarnya aku belum makan, pemandangan lusuh yang ada di mataku telah merusak selera makanku.

Sementara di kantor, rekan-rekan wanitaku tampilannya modis dan wangi namun di rumah wanita yang menyambutku berbeda bagai langit dan bumi. Istriku yang memakai daster lusuh dan berdandan sangat natural.

Selesai mandi, segera aku masuk ke kamar Daffa. Dia tengah tertidur pulas. Di usianya yang masih 10 tahun, sudah terlihat wajahnya mengadopsi wajahku. Kukecup keningnya, selanjutnya aku beranjak menuju kamar Zahra dan Nadia. Mereka masih tidur dalam satu kamar. Kecantikan wajah keduanya mewarisi wajah Annisha, istriku. Setelah kucium keduanya yang sedang terlelap, segera aku beranjak menuju kamar tidurku.

Di dalam kamar, istriku sedang menyalakan lampu tidur. Aku segera berbaring ke tempat tidur yang telah rapi. Meski di rumah tidak ada pembantu rumah tangga, namun istriku mampu mengerjakan hampir semua pekerjaan rumah dengan baik. Dia memang tergolong wanita yang rajin, seolah-olah tidak ada capeknya.

“Bagaimana dengan pekerjaannya di kantor, mas ?”

“Baik dek” aku biasa memanggilnya dengan sebutan adek.

“Bener nggak ada masalah mas? Kok kuperhatikan akhir-akhir ini mas banyak diam”.

“Iya, ngggak apa-apa kok,”

“Syukurlah kalau begitu mas” Annisha ikut naik ke ranjang sambil menyelimuti tubuhku dengan selimut yang lembut dan wangi. Aku memang tidak terlalu kuat dengan dingin AC.

Aku tidak bisa nyenyak dalam tidurku, jujur aku merasakan suatu kebosanan dengan kehidupanku. Disampingku istriku tidur dengan memakai daster kembang-kembang warna kuning yang juga dipakainya saat hamil Daffa anak pertamaku, yaaa…. berarti sudah 10 tahun lebih usia daster lusuh itu. Sungguh menjadi inspirasi untuk datangnya mimpi burukku.

***********

Saat makan siang di kantor aku mengutarakan tentang kehidupan rumah tanggaku yang membosankan kepada Rudi dan Rio temen akrabku. Sambil tersenyum, silih berganti mereka mendengarkan keluhanku.

“Itu karena kamu terlalu monoton Ahmad, terlalu lurus berumah tangga. Sekali-kali cobalah melakukan sesuatu yang ekstrim untuk membakar kembali gelora jiwamu” Rudi nyerocos sambil menikmati sepiring nasi goreng.

“Betul tuh kata Rudi, cobalah melakukan sesuatu yang ekstrim agar kehidupan rumah tanggamu tidak monoton, dengan cara selingkuh misalnya, tuh.. diem-diem Siska, anak baru di departemen kita kuperhatikan sering curi-curi pandang ke kamu, udah… jadiin aja Siska selingkuhanmu, aku yakin dengan berselingkuh kamu akan menemukan kembali apa yang selama ini hilang dari hidupmu.” Rio turut memberikan usulannya.

Benar juga kata mereka, Siska anak baru di departemenku memang kuperhatikan sering curi-curi pandang, senyum serta sorot matanya menyiratkan sesuatu maksud tertentu kepadaku.

Meski di usiaku yang menginjak 38 tahun, namun ketampananku belum pudar, ditambah lagi posisiku di kantor yang cukup mapan, aku yakin tidak terlalu sulit buatku mendapatkan seorang wanita.

“Aku tidak mau terjebak dengan komitmen kepada seorang wanita friend, ada usulan lain nggak?”

“Kalau tidak mau susah-susah pelihara kambing, langsung beli satenya aja, ngerti kan maksudku.” kata Rudi dengan senyum nakalnya.

“Kita bisa kok mengantarmu ke tempat gadis-gadis cantik yang akan memuaskanmu, cinta satu malam, puas, tanpa komitmen, bayar, pulang deh berkumpul lagi bareng keluarga.” Rio turut menimpali.

“Ok deh, thanks ya friend masukannya, aku pikir-pikir dulu.”

“Iya tapi jangan terlalu lama mikirnya, keburu digaet pak bos tuh si Siska, tahu sendiri bos kita nggak bisa lihat cewek bohay dikit.” kata Rudi.

*********

Untuk berselingkuh dengan wanita lain aku masih belum berani, demikian juga untuk berzinah, tidak pernah ada dalam kamusku. Dalam kekalutanku aku menghubungi Bimo, kakakku untuk bertemu saat makan siang.

Akhirnya pertemuanku dengan kakakku Bimo, akan terlaksana juga. Syukurlah di tengah kesibukannya, ia masih sempat meluangkan waktu untuk mendengar curahan hatiku.

“Hallo… sudah lama nunggu Mad? Bimo tersenyum menghampiriku.

Bimo mengenakan atasan setelan hem biru lengan panjang dan dipadukan dengan celana panjang hitam. Melihatnya, seolah aku sedang bercermin. Kita memang saudara kembar, namanya Bimo, dia lebih tua 10 menit dariku, sehingga antara kami berdua tidak ada yang memanggil kakak atau adik melainkan langsung dengan nama kami masing-masing.

“Begitulah Bim, masalah berat yang sedang aku hadapi.

Kening Bimo langsung berkerut pertanda sedang berfikir setalah mendengarkan panjang lebar curhatku, tidak lupa usulan teman-temanku Rudi dan Rio aku sampaikan kepadanya.

Bimo telah menikah juga dan baru dikaruniai 1 orang anak. Pernikan kita dahulu dilaksanakan dalam waktu yang bersamaan. Masih teringat ekspresi para tamu undangan yang tersenyum-senyum menyaksikan dua pasang pengantin dengan mempelai pria kembar identik. Ketika bersalaman tidak henti-hentinya para tamu berpesan kepada Annisha istriku, dan kepada Rosa istri Bimo.

“Awas jangan sampai tertukar ya suaminya di malam pertama!!”

Kami pun hanya bisa tersenyum membayangkan malam pertama tertukar, hihihi.

**********

“Semua keluarga pasti ada permasalahan Mad, akupun juga tidak luput dari permasalahan keluarga.” Bimo berucap sambil menghisap sebatang rokok.

Di mataku Bimo laki-laki yang sangat beruntung, punya istri Rosa yang cantik, seksi dan wangi. Tidak seperti Annisha yang lusuh dan bau minyak. Rosa seorang sekretaris pada sebuah perusahaan minyak asing. Kemanapun tampilannya selalu modis dan wangi. Bahkan ketika kami sekaluarga menginap di rumah Bimo, Rosa selalu tampil cantik di rumah.


“Kamu beruntung punya istri Annisha, seorang ibu yang pinter mendidik anak, telaten melayanimu dan bisa setiap saat bertemu denganmu, sedangkan aku karena kesibukan Rosa, jarang punya waktu untuk menikmati saat kebersamaan.”

“Tapi aku membutuhkan suatu terobosan besar dalam kehidupanku yang monotan ini Bim, kalau tidak, aku ragu apakah bahtera rumah tanggaku ini bisa diselamatkan. Kalau untuk selingkuh atau “jajan” seperti usul teman-temanku aku jelas tidak bisa melaksanakan Bim, duh.. gimana dong ada solusi nggak?”

“Hmm… gimana kalau aku tawarkan sesuatu yang ekstrim tapiiii… nggak jadi deh..” ucap Bimo ragu-ragu.

“Ayo dong Bim, lanjutin kata-katanya, aku pasti setuju deh.” pintaku dengan penasaran

“Sebenarnya aku ragu dengan usulanku ini, sangat ekstrim, namun lebih baik dibandingkan dengan selingkuh atau jajan. Kamu ingat tidak saat kita keluarga besar bertemu, Annisha dan Rosa sering salah mengira aku adalah kamu dan sebaliknya kamu dikira aku.”

“Bener juga ya Bim, selain papa mama, istri-istri dan anak-anak kita masih sering keliru, karena wajah, suara, postur dan perangai kita memang bener-bener susah dibedakan, terusss… maksud kamu apa Bim?” tanyaku tak sabar.

“Begini, setelah mendengar penjelasanmu tadi tentang tidak bahagianya kamu dengan istrimu, dan demi meyelamatkan rumah tangga kalian maka aku berfikir bagaimana kalau sementara waktu kita saling bertukar posisi, kamu di posisiku dan aku menggantikan posisimu.”

“ Barter atau tukeran istri maksudmu Bim”? tanyaku kaget dengan mata melotot.

“Bukan sekedar istri namun juga barter seluruh kesehariannya, keluarga dan pekerjaan, cukup satu minggu saja dan ada satu syarat yang tidak boleh kita langgar?

“Syarat apa tuh, Bim”?

“Kamu berjanji tidak menggauli istriku Rosa  dan sebaliknya aku juga tidak berhubungan intim dengan istrimu Annisha, bagaimana?”

“Baiklah Bim kalau itu aku pasti setuju, tapi kalau boleh tahu apa alasanmu merelakan aku menikmati berada dalam posisimu meski cuma sementara.

“Seperti yang aku utarakan tadi, kulakukan ini untuk menyelamatkan kehidupan rumah tangga kalian, dari pada kamu terjerumus ke hal-hal yang tidak benar seperti teman-temanmu, disamping itu aku juga ingin menunjukkan kepadamu bahwa aku pun memiliki permasalahan dengan istriku, setiap rumah tangga pasti ada problem, yang terpenting bagaimana kita menyikapinya”

“Baik lah mulai kapan kita mulai permainan ini Bim.

“Sekarang saja mumpung kita bisa bertemu.”

Maka setelah kami saling bertukar informasi tentang situasi rumah, istri, anak-anak, pekerjaan dan lain-lain maka mulailah kami bertukar pakaian, HP dan kendaraan untuk melanjutkan keidupan sandiwara kami.

*********

Kupacu mobil Bimo menuju rumahnya yang sementara waktu akan jadi rumahku. Ada perasaan bimbang juga bagaimana bila Rosa, atau Farhan anaknya Bimo mengenaliku bukan Bimo.

Sesampainya di rumah, yang membukakan pintu bukanlah Rosa melainkan Mbok Rusti pembantu setia keluarga Bimo.

Dalam foto-foto yang dipajang di dinding nampak wajah cantik Rosa, hmm aku pasti bahagia seminggu ini menggantikan Bimo.

“Ibu belum pulang pak, bapak mau minum teh atau kopi? Makanan sudah mbok siapkan di meja makan.” kata mbok Rusti.

Lega juga akhirnya ternyata mbok Rusti mengira aku Bimo

“Baik mbok, makasih.

Belum sempat aku membuka sepatu, Farhan keponakanku, anak Bimo satu-satunya langsung menarik tanganku.

“Pa temenin Farhan maen bola ya.. trus maen kuda-kudaan.

“Sudah malam Farhan, papa capek besok saja ya?”

“Nggak mau, pokoknya papa harus temenin maen, kalau tidak Farhan nggak mau tidur malam.

Dengan sangat terpaksa aku menemanin keponakanku itu bermain sepuasnya. Bayangan Annisha tiba-tiba muncul di benakku. Betapa capeknya dia selama ini mengurus ketiga orang anakku, dia melakukannya tanpa mengeluh sedikitpun.

Selesai bermain, aku masih harus menunggu sampai Farhan sampai tertidur dan aku baru bisa mandi. Tidak ada lagi Annisha yang menyiapkan handuk dan baju gantiku, aku sekarang melakukannya sendiri.

Selesai mandi aku menonton TV sambil menunggu kedatangan Rosa.

“Bapak nggak makan, pak?” sapa mbok Rusti.

“Nanti saja mbok nunggu ibu datang”

“Sebaiknya bapak makan duluan, ibu kan biasa pulang hampir tengah malam, bapak bisa kena sakit magg kalau menunggu ibu pulang” saran mbok Rusti kepadaku.

Benar juga sampai jam 22.00 Rosa belum juga pulang, akhirnya kusantap juga makanan yang sudah disiapkan mbok Surti sejak tadi, rasanya hambar dan dingin sangat berbeda dengan masakan Annisha istriku. Istriku pinter masak dan bikin kue, di hari libur pasti disempatkannya membuat sendiri kue-kue yang lezat.

Akhirnya aku tertidur juga, karena seharian capek kerja ditambah lagi menemani Farhan main kuda-kudaan. Aku terbangun dari tidurku karena merasa kedinginan, hmm pastes ternyata aku lupa tidak memakai selimut, biasanya istriku Annisha yang memakaikan selimut jika aku lupa memakainya.

Kulihat disampingku tertidur seorang wanita bergaun tidur putih… Ahh hampir saja aku berteriak ketakutan, kupikir penampakan disampingku sejenis makhluk halus. Bergaun putih, muka pucat putih kaya topeng. Benar-benar membuatku terkejut.

Ternyata setelah kuperhatikan lebih dekat dia adalah Rosa. Tidurnya terlentang seperti mayat, muka pakai masker krim yang tebalnya 1cm ditambah irisan mentimun di matanya.

Hmm… akhirnya kulanjutkan tidur juga, dalam hati aku berpikir apa enaknya Bimo punya istri cantik dan seksi namun tidurnya tidak lebih dari mayat begini, masih mending Annisha istriku yang dengan lembut dan penuh kasih sayang memperlakukan aku di atas ranjang.

********

Bangun tidur tidak kulihat Rosa disampingku. Mungkin dia sedang mandi, kudengar bunyi gemericik shower di kamar mandi yang ada di kamar. Segera saja aku menuju kamar mandi bawah untuk mandi. Setelah mandi aku masuk kamar dan kulihat Rosa sedang berdandan untuk ke kantor.

“Pa… sarapan sama Farhan ya, mama ada meeting pagi-pagi, nggak sempet sarapan. Oh ya pa, mulai nanti malam mama ada dinas luar kota selama 1 minggu, baik-baik ya di rumah “

Aku pun mengangguk serta beranjak turun untuk sarapan. Saat sedang menyantap sarapan, Rosa keluar dari kamar menuruni anak tangga, tampilannya sangat cantik, seksi dan wangi.

”Berangkat dulu ya pa, Farhan jangan nakal ya, mbok jaga rumah baik-baik!!” sambil menciumku ia beranjak menuju mobil meninggalkan bekas lipstick di pipiku.

Ternyata kecantikan dan keseksiannya hanya untuk orang lain bahkan suaminya pun tidak ada waktu untuk menikmatinya. Malang sekali nasibmu Bimo kakakku…

***********

Sesampainya di kantor pertama kali yang kulakukan adalah menelpon Bimo saudara kembarku.

“Bim, tidak perlu menunggu sampai seminggu, barter ini selesai di sini saja ya. Aku tidak kuat.” kataku pada Bimo.

“Hahaha… sudah kuduga kamu pasti akan menyerah, oke lah kita bertemu siang ini di kantin biasanya.

Aku dengar gelak tawa Bimo di ujung telepon sana.

**********

Sesampainya di rumah, seperti biasa dengan senyum indahnya, Annisha menyambut kedatanganku. Melepas sepatuku, kaus kakiku, dan menyiapkan air hangat untuk mandiku serta menemaniku makan malam. Masakan istriku yang masih hangat terasa begitu nikmat di lidahku. Meski baru sehari aku tidak merasakannya, serasa setahun aku tidak menikmati masakan lezat itu.

Ku lihat bola matanya lebih dalam, kulihat sorot mata kelelahan. Istriku ternyata begitu berat pekerjaanmu di rumah selama ini. Merawat ketiga anakku ditambah aku yang seolah-olah menjadi anak keempatmu yang masih serba dilayani sehingga tidak ada waktu untuk sekedar merawat tubuhmu.

Saat selesai sholat isya berjamaah dengan istriku, seperti biasa ia meraih tanganku untuk diciumnya dengan mesra. Ohh.. kurasakan tangan yang dulu begitu halus kini telah berubah sedemikian kasar, dan kurus, pastilah karena kerja kerasnya di rumah selama ini.

Kucium tangan suci ini, bagiku ini adalah tangan suci kedua setelah ibuku. Maafkan aku istriku, anak-anakku, aku selama ini hanya bisa menuntut ini dan itu bahkan begitu pengecut untuk sekedar mengutarakan uneg-unegku. Selalu membanding-bandingkanmu dengan wanita lain. Suami macam apa aku ini, yang hanya tahu mencari uang tanpa memikirkan keluarga.

Sebelum tidur, aku dan Annisha berdikusi banyak hal. Aku menyampaikan keluhanku padanya dengan cara yang halus tanpa menyinggung perasaannya. Setengah merayu dan memuji kukatakan padanya bahwa aku ingin melihat dan menikmati tubuh indahnya, dengan memberikan sebuah hadiah yang kubeli sepulang dari kantor tadi.

”Dek, aku punya hadiah untuk mu” kataku sambil menyodorkan bungkusan kado berwana biru. Warna kesukaan Annisha.

Dengan terkejut dan mata berbinar-binar Annisha membuka kadonya

”Wah, surprise nih mas. Boleh aku buka sekarang?” tanyanya tak sabar.

”Ya, semoga dek Annisha suka dan mau memakainya malam ini ” kataku sambil mengedipkan mata.

Dengan terburu-buru Annisha membuka. Roman muka yang begitu gembira ketika Annisha melihat Ahmad membelikan setengah lusin Lingerie seksi pengganti daster batiknya yang lusuh. Annisha memeluk Ahmad dengan malu-malu dan berkata,

“Terima kasih mas, aku pasti pakai malam ini.

Aku juga menyarankan kepada Annisha untuk mengambil seorang pembantu rumah tangga dari sebuah yayasan. Tujuanku agar Annisha tidak terlalu kelelahan dalam mengurus rumah tangga dan anak-anak kami. Sehingga Annisha masih mempunyai waktu luang untuk merawat diri, kesalon, berolah raga dan membaca buku kegemarannya.

Annisha sangat gembira sekali. Dan permasalahan dikeluarga kami telah tersolusikan.

“I Love you, Annisha! Kataku sambil memeluknya.

“Terima kasih sudah menemani dan mengurus aku dan anak-anak selama ini.

Ku kecup keningnya dan tidak terasa meleleh air mataku, telah kutemukan apa yang selama ini aku cari-cari.

Sumber: sebuah note di facebook teman.

46 comments:

  1. panjang banget bos, enaknya nyeduh kopi dulu, #bacanya sambil ngopi.

    ReplyDelete
  2. waaah... meleleeeeh bacanya... ^_^


    pengen kaya Anisa tapi tetep cantik.. hehehe :P

    insyaallah... :D

    ReplyDelete
  3. sukaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!

    yaa itulah perempuan has, menjadi ibu rumah tangga itu tidak segampang dari yang kita pikirkan.. tapi saya suka endingnya, berdiskusi dan sang suami tahu apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh istri.. kereenn ahh..

    ReplyDelete
  4. iya mbak saienno...
    semoga....
    :)



    selamat mempratekkan mbak dhenok..
    :)

    ReplyDelete
  5. wah ini sih rahasia Perepuan sob,

    heheh

    ReplyDelete
  6. Hwaaaa... aku terharuuuu..
    hmmm.. semua yang kita miliki memang baru kerasa berharga saat kita sudah kehilangannya yaaa..
    semoga postingan ini bisa jadi pelajaran buat kita semua untuk selalu bersyukur :)

    ReplyDelete
  7. mharjipes lakikah...?
    :P



    iya mbak armae...
    ")

    ReplyDelete
  8. Hehe... kapan saya punya isteri seperti Anisha ya? Kalau bisa yang melebihi dia. :-D

    ReplyDelete
  9. Romantis banget,, walaupun tuker-tukeran sehari ternyata arti seorang istri begitu penting..

    ReplyDelete
  10. jd pegal ni mata,,,tapi cerita nya bgus,

    ReplyDelete
  11. Follback sukses sob... makasih dah mampir blog ane... :)

    ReplyDelete
  12. fyuhh .. selesai juga bacanya. ternyata ceritanya.. emang cocok buat yang sudah berumah tangga. kalo buat saya sih dinikmati aja dulu, diambil pelajarannya. hehehe buat bekal ntaar.

    lagian kalo sudah suami istri kadang bukan cinta lagi yang dibutuhkan, tapi komitmen.

    tau sendiri makin menua badan dan muka makin mengeriput

    ReplyDelete
  13. wah mas rozi maunya yg lebih...
    usaha donk mas....
    :)




    yoi mas anas.....
    :)



    oke mas mharjipes...
    :)

    ReplyDelete
  14. oke mas gun...
    :)



    hehehe....
    iyakah mbak una..??
    :P



    makasih mas black...
    :)

    ReplyDelete
  15. sepertinya begitu mas gaphe...
    apalagi kalo sudah ada anak.....
    :)

    ReplyDelete
  16. Wah panjangggg aku onlinenya mobile :(
    Ijin bookmark di twitter yooo zone. biar besok bisa dibaca pas istirahat kantor :)

    ReplyDelete
  17. oke monggo mbak syam....
    :)

    ReplyDelete
  18. Supaya suami gak pindah ke lain hati. :)

    ReplyDelete
  19. ya intinya sih suami emang pembosan aja. hehehe...

    ReplyDelete
  20. Cerita yang sangat menyentuh. Manisnya bila masing-masing menyadari tugas dan kewajibannya.
    nice ending, sayang sumber aslinya nggak ketahuan....mungkin banyak cerita-cerita menarik lainnya disana.

    Salam.

    ReplyDelete
  21. bener mas asop.....
    :)



    wah mbak SCB langsung memberi penilaian...
    :P




    bener mas bagus...
    ;)

    ReplyDelete
  22. panjang bnerrrr~
    tapi sangat menginspirasiiii

    ReplyDelete
  23. Terharuu...

    Alhamdulillah rumah tangga mereka masiih bisa diperbaiki, gak rela kalo anisa disakiti >.<

    ReplyDelete
  24. senang membaca cerita di atas sobat

    ReplyDelete
  25. aku mana mau tukeran istri, endingnya juga seharusnya ahmad memberikan hadiah ke istrinya sejak dulu, masa hal itu tak pernah kepikiran selama 13 tahun

    ReplyDelete
  26. waah mbak jiah terinspirasi....
    ;)



    walaah mbak naya ki malah kayak ibu-ibu yg kecanduan sinetron..
    pake ga rela..
    :P

    ReplyDelete
  27. oke mas arif.........
    :)



    yg bener mas ario...
    :p

    ReplyDelete
  28. panjang banget tulisan'a,bikin pegel mata nie
    yang penting intinya wanita meriah diri adalah agar sang suami tetap mesra & setia selalu

    ReplyDelete
  29. yoyoi mas andy...........
    :)

    ReplyDelete
  30. punya istri kayak gitu, kok disia2in? itulah manusia yang selalu aja ngiri dengan yang dipunyai sesamanya... :(

    ReplyDelete
  31. wow ....... kayak baca novel :)

    nggak bisa membayangkan tidur dgn krim setebal satu cm ? kayak mayat ya :D

    memang terkadang mata baru terbuka kalau melihat kehidupan org lain ya , bahwa apa yg kita punya sebenarnya lebih baik

    ReplyDelete
  32. sebetulnya di ajaran Islam itu WAJIB dandan untuk menyenangkan suami. dan kalo di luar berusaha sesederhana mungkin, kasus ekstrim pake gamis longgar, kerudung lebar dan cadar.

    tapi di Indonesia penggunaan cadar bisa bikin terhambat, apalagi kalo bekerja. Sekarang banyak wanita pintar yang tenaga dan pikirannya di butuhkan baik di pemerintahan maupun bidang lain.

    Saudara kembar laki-laki itu masih belum mau belajar tentang Islam yang mendalam aku rasa, masih sebatas sibuk dengan duniawi. Ceritanya menyentuh dan semoga banyak manfaatnya dibaca oleh orang lain

    ReplyDelete
  33. yoi mas nuel...
    tp tuker istri tu asyik ga sih...?
    :P



    setuju ma mbak ely...
    :)



    sepertinya gitu mbak ami...
    :)

    ReplyDelete
  34. Untung ya akhirnya sang suami sadar bahwa cantik juga perlu modal. Tak hanya uang tapi juga pengertian, memberinya pembantu di rumah agar punya waktu untuk merawat dirinya sendiri

    ReplyDelete
  35. iya mas jurnal....
    untunglah....
    :)

    ReplyDelete
  36. yg penting merias diri utk merawat dan demi menjaga kesehatan...

    ReplyDelete
  37. setuju ma mbak Ririe....
    :)

    ReplyDelete
  38. tiap wanita pasti ingin tampil cantik, apalagi di dpn pasangannya. Tapi sering kali itu susah dilakukan krn kesibukan mengurus rumah tangga. Harusnya sang suami menyadari ini dr awal, istri jg butuh perhatian dan dukungan, baik moral maupun material.
    Smoga para suami sadar hal ini, dan tidak egois dgn menuntut macam2 kpd istri, sedangkan dirinya sndri blm bisa memberi perhatian lbh kpd istri.

    wah maap yah.. kok nulis komennya jd panjang gini.. hehehe..

    ReplyDelete
  39. waah mbak cova curhat nih....
    :P

    ReplyDelete
  40. kupikir tadi endingnya..pas Ahmad dan Bimo bertemu lagi di kantin, Bimo ga mau melepaskan annisa dan terlanjur jatuh cinta..hehe.. (emang cerpen atau film ?)

    anyway, very touching story! salam kenal

    ReplyDelete
  41. makasih popy....
    harusnya gitu ya biar panjang...
    :P

    ReplyDelete
  42. baru berkunjung, sudah menyelami satu kisah.

    nice blog Bro!

    salam

    ReplyDelete

silahkan berkomentar, tidak dipungut biaya..! apabila ada kata yang salah dalam hal deskripsi apa pun tentang isi dari postingan zonesa.blogspot.com, mohon kritik dan sarannya agar lebih baik. terimakasih dan salam hangat. Sehangat pelukan pasangan Anda.