Wednesday, 7 September 2011

PENGENALAN DENGAN PERSPEKTIF SEJARAH



 
Studi tentang sejarah aliran pemikiran keagamaan dan sekuler mengungkapkan bahwa sepanjang sejarah manusia banyak sekali dari para filosof, orang-orang bijak dan pemuka agama, memiliki pandangan yang saling berbeda tentang nilai-nilai komparatif dari daya nalar, logika dan wahyu. Atas dasar itu mereka bisa dibagi-bagi dalam berbagai kelompok.

Ada dari mereka yang menekankan peran rasionalitas sedemikian rupa dimana mereka menganggapnya sebagai satu-satunya cara untuk menemukan kebenaran. Bagi mereka, satu-satunya konklusi yang cukup berharga untuk diterima adalah yang bisa diderivasi melalui penalaran logika dialektik berdasarkan fakta-fakta yang terlihat. Dengan demikian mereka itu menganggap bahwa kebenaran (apa pun bentuknya menurut mereka) hanya bisa dicapai melalui fitrat penalaran.

Ada pula para pemikir yang meyakini phenomena bimbingan Ilahi, yang menurut mereka mempunyai peran definitif dalam pencerahan fikiran manusia karena telah memberikan jawaban   atas segala pertanyaan yang tadinya tidak terpecahkan.


Ada lagi mereka yang beranggapan bahwa kebenaran bisa digapai sepenuhnya melalui pengalaman kalbu yang disebut sebagai ‘ilham. Mereka berpendapat bahwa kebenaran dapat dicapai melalui penelusuran mendalam pada kalbunya sendiri, seolah-olah  sudah tersedia cetak biru petunjuk ke arah sana dalam kalbu setiap manusia. Mereka ini menyelam masuk ke dalam diri mereka sendiri dan melalui studi introspektif lalu memperoleh pemahaman tentang  alam dan bagaimana cara kerjanya.

Cara lain mencapai kebenaran yang dilakukan baik oleh golongan sekuler mau pun keagamaan adalah mistikisme. Mistifikasi kehidupan sudah menjadi kecenderungan umum yang dilakukan oleh orang-orang yang beriman pada suatu agama atau pun yang tidak. Mistik bisa saja dikelompokkan  ke dalam   kategori  yang disebutkan di atas dan metodologinya bisa bersifat filosofis atau agamis.

Ciri pokok daripadanya adalah sifat ambiguiti, rahasia dan tidak jelas. Terdapat  pula  orang-orang  yang  bisa  disebut  sebagai  filosof gadungan (pseudo-philosophers) yang memanfaatkan kata-kata dan kalimat yang terlalu sulit untuk bisa dipahami orang awam. Mereka menyembunyikan sudut pandang atau pendapat di belakang tabir mistik dari perkataan mereka yang melantur ke mana-mana. Ada juga mereka yang memang benar memiliki fikiran ilmiah namun cenderung bersifat mistik seperti halnya Pythagorasa dan Averroesb. Mereka ini tidak puas dengan apa yang terlihat di permukaan dan berusaha menggali dalam sekali ke dalam lubuk fikiran manusia guna mencari benih kebenaran. Jika mampu mengikuti pola fikir mereka dengan konsentrasi penuh maka hasilnya akan bisa dipahami juga.

Dalam dunia agama sendiri yang namanya mistik terdapat berbagai pola dan rona. Ada dari mereka yang sambil  menerima dan melaksanakan di atas permukaan segala ritual yang ditetapkan agamanya,   tetapi   juga   berusaha   m encari   pengertian   yang lebih mendalam  di   bawah  permukaannya. Namun  juga  ada  yang  lebih menekankan sisi  dalamnya sehingga terkadang malah meninggalkan pelaksanaan ibadah eksternalnya.

Para penganut dari agama yang berdasarkan wahyu tidak selalu membatasi diri dalam diskusi mereka di sekitar lingkupan kebenaran wahyu saja. Di tahapan akhir  dari setiap agama kita bisa menemui perdebatan seperti itu, meski sifatnya terkadang sulit dikatakan sebagai bersifat keagamaan semata. Pertanyaan  sepanjang zaman kembali mencuat dalam kerangka fikir baru. Apa itu nalar atau akal budi? Berapa besar perannya dalam kehidupan  manusia? Dimana posisi wahyu dikaitkan dengan logika dan nalar?

Secara universal disadari kalau kondisi saling mempengaruhi dari berbagai konsep pemikiran di tahapan akhir dari sejarah suatu agama cenderung kembali kepada kerancuan yang terjadi sebelum agama itu turun.  Hal  ini terjadi karena pengaruh manusia atas agama berupa kecenderungan  memecah-mecah  agama  tersebut  dalam  golongan- golongan  dan  kembali  secara  partial  kepada  konsep  dan  filosofi mithologi kuno. Jarang sekali jalan fikiran mereka mengarah kepada reunifikasi dari berbagai aliran pemikiran yang muncul akibat proses degenerasi yang telah memecah-belah agama. Proses degenerasi ini kelihatannya seperti tidak bisa dihindari.

Agama yang diawali dengan keimanan teguh pada Ketauhidan Ilahi,  secara berangsur merupul menjadi berbagai skisma (pemecahan, keretakan) yang menjurus pada penyembahan berhala. Ada  beberapa kali usaha yang dilakukan manusia untuk menyusun kembali kesatuan pandangan pemahaman agama serta menegakkan kembali Ketauhidan Ilahi. Hanya saja upaya demikian cuma  sedikit mencapai keberhasilan. Secara keseluruhan, proses ini tidak pernah berbalik kepada aslinya, kecuali jika mendapat bantuan dan bimbingan Ilahi.

Kami tidak akan membahas secara rinci segala pandangan yang berbeda yang dikemukakan oleh para filosof dan orang-orang bijak di masa lalu. Kami hanya akan menyampaikan uraian singkat penilaian tentang wahyu, rasionalitas serta saling keterkaitan di antara keduanya sebagaimana dikembangkan oleh para intelektual terkemuka di masa lalu.

Apa yang dimaksud  dengan kebenaran hakiki dan apakah  ilmu pengetahuan itu? Apa sifat hubungan di antara keduanya, jika pun ada? Apakah wahyu memberikan dasar ilmu pengetahuan yang pada akhirnya akan  menuntun  kepada  kebenaran  hakiki,  dan  dapatkah  keduanya dicapai melalui rasionalitas semata?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini dan pertanyaan serupa lainnya telah  mengusik fikiran para filosof, para ulama agama dan pemikir sekuler sejak awal mula sejarah manusia. Namun sebelum kita memulai dengan penelitian  mendalam yang dilakukan secara hati-hati, perlu kiranya menjelaskan dulu apa yang dimaksud sebagai kebenaran hakiki menurut pemahaman berbagai pemikir.

Semua yang beriman kepada Tuhan sebagai pencetus kebenaran hakiki, menganggapnya sebagai realitas abadi, baik di masa lalu, kini mau  pun di masa depan. Secara primer, mereka menganggap Tuhan dengan segala fitrat-Nya sebagai Kebenaran Hakiki. Hanya saja jika filosof sekuler membahas       masalah yang sama, mereka tidak membahasnya dalam kaitannya dengan Tuhan.   Diskusi mereka umumnya berkisar sekitar nilai-nilai tertentu  seperti  kebenaran, kejujuran, integritas, keimanan, kesetiaan dan lain-lain. Pertanyaan utama yang mengusik fikiran para filosof ialah apakah ada suatu realitas abadi yang tidak berubah bahkan dalam kondisi  lingkungan yang berubah. Mutu dari berbagai  konsep  kebenaran  itu sendiri selalu menghadapi tantangan  demikian. Manusia kemudian mulai berfikir, apakah kebenaran bisa memperoleh makna yang berbeda dalam situasi yang berbeda.

Aspek lain dari pertanyaan yang  sama terkait dengan konsep kebenaran sebagaimana diterapkan pada segala realitas tersembunyi di belakang tabir yang kasat mata. Sebagai contoh, jika kita menganggap sinar matahari sebagai suatu realitas tersendiri atau independen, jelas adanya kita ini salah persepsi. Lebih dari sinar itu,  ada yang menjadi realitas kausatif dari radiasi yang berfungsi di belakang manifestasinya, sedangkan sinar itu hanya salah satu unsurnya saja. Kebenaran universal yang tersembunyi menyatakan kalau sinar itu adalah radiasi yang bervibrasi pada spektrum yang bisa dilihat manusia sebagai sinar. Dari sudut pandang ini, tidak ada yang bersifat kekal dari luminositas matahari. Namun sebagaimana disiratkan di atas tentang pemahaman mengapa matahari mengeluarkan radiasi, maka setiap kali nalar bekerja, yang dihasilkan adalah konsep sama yang bisa dikatakan kebenaran  abadi yang   mengatur  kaidah  radiasi  dan  luminositas. Dengan  contoh ini menjadi jelas bahwa istilah ‘abadi tidak selalu menggambarkan keadaan tak terputus dan kesinambungan tanpa henti. Disini yang dimaksud hanyalah phenomena kausatif yang jika mewujud akan memberikan hasil yang sama.

Dalam pemahaman sederhana tentang kebenaran abadi yang terkait dengan realitas eksternal, phenomena gravitasi (daya tarik bumi) boleh juga dikatakan sebagai kebenaran yang kekal. Hanya saja perlu dipahami jika suatu ketika ada perubahan dalam daya tarik gravitasi, maka hal ini tidak lantas  menjadi bantahan atas realitas fundamental yang tidak berubah dari gravitasi. Menjadi jelas kiranya dari pembahasan di muka yaitu walaupun semua kebenaran kekal ini menumbuhkan suatu pengetahuan tertentu, tetap  saja tidak bisa dikatakan kalau semua  jenis pengetahuan lalu dikatakan  bersifat kekal juga. Ilmu pengetahuan dapat didefinisikan sebagai persepsi tentang sesuatu yang disimpan dalam fikiran sebagai bentuk informasi yang dapat diandalkan.    Keseluruhan berkas pengetahuan   tadi jika disatukan akan merupakan gudang dari pengetahuan manusia. Lalu bagaimana  kita bisa memperoleh suatu pengetahuan  tertentu,  atau  bagaimana  menentukan  bahwa  suatu pengetahuan tertentu itu memang benar atau salah adanya?

Begitu juga, dengan sarana apa kita bisa mengkategorikan suatu ilmu   pengetahuan   dan   memandangnya   sebagai   suatu   kebenaran sementara, kebenaran yang kokoh, kebenaran abadi, kebenaran dengan syarat  dan  lain-lainnya?  Adalah  fitrat  manusia  untuk  berfikir  dan rasionalitasnya yang mengkunyah-kunyah fakta-fakta tersebut ketika masuk ke dalam  otak, memutar-balikkan dan melakukan permutasi atasnya  sehingga  tercipta  berbagai  kombinasi  yang  dimungkinkan. Proses   mental  guna  mensortir  yang  benar  dari  yang  salah,  yang definitive    dari    yang   non-definitive,   disebut   sebagai   mekanisme rasionalitas.

Pertanyaan yang muncul adalah sejauh mana metoda analisis dari pilahan suatu ilmu pengetahuan dapat diandalkan. Ketika kita sudah mencapai tingkat pemahaman rasionalitas seperti ini, muncul  pula berbagai pertanyaan yang mengusik. Kita menyadari kalau  fikiran manusia itu tidak pernah konsisten berkaitan dengan  temuannya sendiri. Kita mengetahui secara pasti bahwa sesuatu yang dianggap rasional pada suatu masa, belum tentu dianggap rasional di masa lain. Kita mengetahui tanpa diragukan bahwa kemampuan berfikir manusia berkembang dan menjadi bertambah dewasa sejak manusia muncul dari lingkungan dunia hewaniah dan masuk kepada dunia manusiawi. Sejak saat  itu, pengalaman kolektif umat manusia yang terkumpul dalam bentuk ilmu pengetahuan dan kebenaran dalam fikiran manusia, akan terus berkembang menjadikan fitrat nalar menjadi lebih  baik serta meningkatkan mutu penilaian rasionalnya.

Sebagaimana olah jasmani akan memperbaiki kekuatan otot, begitu juga dengan olah fikiran. Kemampuan ingatan dan nalar akan berkembang  serta mencapai kekuatan melalui olah fikiran. Adalah olah fikiran ini juga yang mungkin telah memberikan kontribusi bagi evolusi maju dalam benak hewan juga.

Kesadaran atas kemajuan progresif dari kemampuan fikir manusia meski pun merupakan suatu yang didambakan di satu sisi, tetapi tidak disukai di sisi lain. Kemajuan tersebut lalu memunculkan pertanyaan akan kehandalan deduksi rasional dari fikiran kita dalam berbagai tahap perkembangannya.

Bukankah suatu fakta yang sama yang dimasukkan ke dalam otak manusia pada tingkat-tingkat perkembangan yang berbeda, bisa jadi menghasilkan beberapa konklusi yang berbeda? Bila suatu realitas obyektif tampak berbeda jika ditinjau dari beberapa sudut pandang yang berbeda, bila konklusi yang ditarik oleh fikiran manusia yang tidak bias nyatanya berbeda pada setiap zaman, apakah lalu dapat dibenarkan jika kita  menganggapnya sebagai kebenaran yang dijustifikasi (mendapat pembenaran)? Dengan kemampuan logika dan nalar deduktif yang kita miliki dalam periode masa mana pun jua,   kita   tidak mungkin menyatakan pengetahuan yang kita miliki sebagai suatu kebenaran yang bersifat mutlak.

Masalah-masalah yang akan kita bahas berkaitan dengan instrumen yang  akan menuntun kita kepada ilmu pengetahuan dan cara untuk menentukan bahwa pengetahuan tersebut dapat dianggap sebagai suatu kebenaran. Jika semua sudut pandang manusia ditempatkan di suatu landasan yang bergerak, dengan perubahan konstan pada sudut pandangan, bagaimana menyatakan bahwa ilmu  pengetahuan atau seberkas informasi yang kita miliki dapat  dinyatakan  secara  pasti sebagai kebenaran? Ada pula sudut pandang lain yaitu dari Tuhan sang Maha  Pencipta  yang bersifat kekal dan konstan. Karena itu jik a bisa dibuktikan bahwa eksistensi Tuhan yang Maha Mengetahui, Maha Kuasa dan Maha Ada memang benar adanya, dimana Dia itu bersifat Kekal, Tanpa Kesalahan, Transendental, Maha Perkasa dan Pemilik segala fitrat mutlak, maka hanya dengan cara satu-satunya itulah dapat digapai ilmu pengetahuan tentang kebenaran abadi melalui Wujud-Nya. Hanya saja hipothesa ini bersifat kondisional berdasarkan premis bahwa tidak saja Wujud Maha Sempurna itu memang eksis, tetapi Dia juga memang membuka jalur komunikasi dengan manusia. Adalah komunikasi antara Tuhan dengan manusia itulah yang dalam terminologi  keagamaan disebut sebagai wahyu.

Guna  membahas  masalah  yang  demikian  penting  semata-mata hanya berbasis nalar yang sekuler, jelas bukan suatu kerja yang mudah. Tambahkan lagi di dalamnya tentang peran yang telah dijalankan wahyu sebagai petunjuk signifikan bagi manusia, maka tugas ini menjadi lebih menantang lagi. Namun tugas inilah yang telah kami emban dengan menyadari keseluruhan kompleksitas yang dilibatkan.

Pembaca dimohon dengan segala hormat agar selalu dalam keadaan jaga dan waspada. Begitu ia mulai membiasakan diri dalam segala intrikasi dari teka-teki filosofi dan nalar, ia akan memperoleh kepuasan melihat bagaimana masing-masing bilah teka-teki tersebut jatuh mapan di tempatnya masing-masing.

Dalam aplikasinya di dunia keagamaan, pandangan tersebut telah melahirkan aliran sosiologi dan pemikiran modern yang menganggap kemunculan dan perkembangan agama sebagai suatu refleksi dari perkembangan daya nalar manusia. Implikasi dari pandangan demikian adalah anggapan bahwa intelek manusia   di   zaman purba telah menuntunnya dalam menciptakan bentuk-bentuk wujud Tuhan sembahan, yang dengan berjalannya waktu dikatakan telah melahirkan konsep tentang sembahan tunggal yang diberi  nama  Allah, Tuhan, Parmatma dan lain-lain. Jika pandangan ini kita terima maka teori tersebut akan membawa kepada konklusi bahwa perkembangan agama dalam  berbagai kurun waktu sejarah manusia dianggap berkembang sejalan dengan perkembangan kemampuan intelektual manusia.

Pandangan demikian bertentangan secara diametral dengan anggapan dalam berbagai agama di dunia yang  memandang bahwa agama mereka berasal dari Tuhan. Menurut mereka ini, agama adalah suatu hal  yang  diajarkan langsung kepada manusia oleh Tuhan yang Maha Esa, Maha Bijaksana. Mereka  menganggap  politheisme  yang mendominasi  berbagai  kurun waktu sejarah manusia sebagai suatu proses degeneratif yaitu proses yang biasanya mengikuti monotheisme yang telah dikukuhkan oleh para Rasul Tuhan. Pembahasan lebih lanjut mengenai hal ini akan diberikan kemudian.

Hampir semua agama besar di dunia mempercayai wujud Tuhan yang  tidak  kelihatan  yang  berkomunikasi dengan  manusia.  Mereka menyatakan bahwa Tuhan telah menetapkan beberapa manusia sebagai perwakilan Diri-Nya dan bahwa komunikasi yang diterima daripada-Nya adalah satu-satunya sarana guna mencapai ilmu pengetahuan hakiki. Mereka         menganggap   bahwa          tidak  mungkin menetapkan suatu kebenaran secara pasti bila hanya didasarkan pada pengalaman dan deduksi rasional manusia semata.

Keterangan:
a Pythagoras  (580-500  s.M), filosof dan ahli matematika Yunani,  meski berlandaskan keagamaan tetapi telah mempengaruhi Socrates dan  ikut membentuk dasar rasionalitas dan teori matematika di dunia Barat. (Penterjemah)

b Averroes atau lebih dikenal sebagai Ibnu Rushdi (Abu al-Walid Muhammad ibn Ahmad ibn Muhammad ibn Rushd) hidup 1126-1198  M. di Spanyol, filosof keagamaan yang mengintegrasikan pola fikir Yunani kuno dengan pemikiran Islami atas permintaan dari Abu  Yacub Yusuf, khalifah Almohad. Komentarnya atas pandangan Aristoteles dan Plato menjadi pegangan cendekiawan Muslim dan Barat selama berabad-abad. (Penterjemah)

from: a paper on the book

11 comments:

  1. Wah... berat juga isi postingannya hehehe

    ReplyDelete
  2. Eh.. aku tadi udah komen lho.. tapi kok gak muncul? Emang dimoderasi ya?

    ReplyDelete
  3. Bagus gan, sejarah sebagai perspektif, diambil hikamh dari semua kejadian yg telah berlangsung

    ReplyDelete
  4. sama-sama puspita... ;)
    makasih kunjungannya..

    ReplyDelete
  5. gak juga kok mbak catatan kecil... :P

    ReplyDelete
  6. iya emang harus nunggu dimoderasi...
    :)

    ReplyDelete
  7. setuju mr nyariadi... :)

    yap bener mas John.... :)

    ReplyDelete
  8. aduh lagi ngantuk makin ngantuk deh. hehee

    ReplyDelete
  9. tidur dulu mbak...
    nanti bacanya... :)

    ReplyDelete

silahkan berkomentar, tidak dipungut biaya..! apabila ada kata yang salah dalam hal deskripsi apa pun tentang isi dari postingan zonesa.blogspot.com, mohon kritik dan sarannya agar lebih baik. terimakasih dan salam hangat. Sehangat pelukan pasangan Anda.