Saturday, 17 September 2011

Logika (Part II)



Menindaklanjuti logika part I, maka muncullah logika part II. Bagi yang penasaran, ini sebenarnya bukan hasil karya saya, saya hanya menemukannya di dalam sebuah dokumen di folder yang lama telah tersimpan di dalam laptop saya dan ketika saya sedang “cuci gudang” saya menemukannya. Nah jadi jangan pada terkagum-kagum, saya hanya menulis ulang saja dan mengedit sedikit kata tanpa mempengaruhi isi dan enak dibaca. Nah silahkan menikmati part II ini.


Apabila nyatanya Tuhan tidak ingin membiarkan manusia dalam keadaan cacat mengenai pengetahuan keduniaan yang sebenarnya tidak banyak merugikan dirinya, maka jelas Dia juga tidak akan  mengabaikan manusia berkaitan dengan pemahaman berbagai hal dimana kondisi keselamatan rohaninya akan sangat bergantung karena bisa membawa kebinasaan abadi atas diri manusia. Tanpa bantuan Ilahi maka pengetahuan manusia tentang dunia akhirat yang akan datang semata-mata hanya berdasarkan kepada dugaan-dugaan dan tidak memiliki sarana apa pun yang bisa dimanfaatkan untuk memberi kepastian serta kepuasan batin. Kebutuhan  logika yang memerlukan kepastian tersebut, bukanlah sesuatu yang mengada-ada melainkan suatu hal yang nyata.

Bilamana disadari di dalam hal-hal yang berkaitan dengan Samawi bahwa manusia hanya bisa memperoleh kepastian hakiki atau sesungguhnya melalui wahyu dan ia memang membutuhkannya untuk  keselamatan ruhaninya, karena tanpa kepastian hakiki  tidak mungkin menjaga keimanan seseorang, jelas kiranya jika manusia memang benar-benar membutuhkan wahyu Ilahi. Konsep-konsep pemikiran tidak saja mempunyai kekurangan dari segi kepastian selain juga tidak mampu memahami rincian detil dari hal-hal yang berkaitan dengan samawi. Namun yang pokok adalah karena diskursus yang didasarkan pada logika semata tidak efektif dalam mempengaruhi kalbu atau hati manusia. Suatu diskursus bisa mempengaruhi nurani manusia jika kebenaran yang dikemukakannya memang sepenuhnya diterima hati manusia tanpa ada ruang bagi keraguan sekecil apa pun karena tiadanya kemungkinan kesalahan.

Kami telah mengungkapkan bagaimana logika saja tidak mungkin memberikan kepastian yang sempurna. Jadi jelas kiranya bahwa pengaruh yang dihasilkan oleh suatu kepastian yang sempurna tidak mungkin diharapkan semata-mata dari logika saja dan semua itu dibuktikan oleh pengalaman sehari-hari.

Sebagai contoh, ketika seseorang kembali ke rumahnya setelah bepergian ke suatu tempat yang jauh, semua  temannya tentu ingin mengetahui bagaimana keadaan tempat tersebut saat dia telah kembali. Mereka akan menerima dengan baik penuturan yang bersangkutan sepanjang dia termasuk orang yang dihargai dan jujur serta tidak dicurigai sebagai pendusta.

Mengapa kata-katanya diterima dengan baik? Terutama adalah karena yang bersangkutan dianggap sebagai seorang yang benar  dan jujur, mereka meyakini bahwa apa pun yang diceritakannya tentang tempat yang jauh tersebut memang telah disaksikannya dengan mata kepala sendiri. Dengan demikian maka penuturan yang bersangkutan akan mempengaruhi kalbu para pendengarnya dan pernyataan yang dikeluarkannya dianggap sebagai pengalaman mereka sendiri pula. Terkadang jika ia menceritakan suatu keadaan menyedihkan maka para pemirsanya ikut meneteskan air mata seolah-olah menyaksikan sendiri kejadiannya.

Lalu  kalau ada seseorang yang belum pernah keluar dari batas dinding rumahnya apalagi melanglang ke tempat lain, tidak pula pernah mendengar keadaan atau lingkungan suatu tempat tertentu, kemudian ia berbicara menuturkan keadaan dan lingkungan suatu negeri semata-mata hanya berdasarkan khayalannya saja, jelas pembicaraannya tidak akan mempunyai efek apa pun kepada para pendengarnya. Yang  pasti adalah mereka akan menganggapnya sebagai seorang yang kurang waras karena mengutarakan sesuatu yang berada diluar penelaahan, pengalaman serta pengetahuan dirinya. Keadaannya mirip dengan cerita tentang seorang bodoh yang menyatakan keunggulan roti dari tepung yang murni ketika ada yang bertanya apakah ia pernah menyantapnya, ia menjawab belum pernah tetapi kakeknya dulu pernah suatu waktu melihat orang lain menyantapnya.

Kecuali dalam pandangan para  pemirsa  atau pendengarnya  bahwa yang bersangkutan sepenuhnya memahami apa yang diutarakannya, maka diskursus yang bersangkutan tidak akan membuahkan hasil sama sekali dalam kalbu mereka, bahkan ia hanya akan menjadi bulan-bulanan ejekan orang. Hal ini juga yang menjadi penyebab mengapa diskursus orang-orang bijak yang bersifat sekuler (keduniawian) tentang keadaan di dunia akhirat tidak pernah menarik minat orang.

Para pendengarnya tetap saja berfikir bahwa selama si pembicara mengungkapkannya dengan berdasarkan dugaan semata, mereka juga bisa membantah dengan dugaan mereka sendiri mengingat kedua fihak belum ada yang pernah menyaksikan realitasnya. Ini juga yang menjadi penyebab mengapa ketika beberapa orang bijak duniawi menyatakan dirinya menyokong eksistensi daripada Tuhan maka orang bijak lainnya menentang mereka dan malah menulis buku-buku yang menyokong atheisme. Kenyataannya, pemikiran mereka yang menyatakan dirinya sampai suatu  tingkat tertentu sebagai penyokong eksistensi Tuhan, sebenarnya belum sama sekali bersih dari konsep pemikiran atheistik.

Perhatikan saja misalnya kaum Brahmo. Mereka tidak meyakini bahwa Tuhan memiiliki sifat-sifat yang sempurna. Mereka tidak percaya bahwa Dia memiliki sifat berbicara sebagai mana halnya mahluk hidup. Mereka  tidak meyakini Wujud-Nya sebagai Maha Pengendali dan Maha Pemelihara. Mereka tidak percaya bahwa Tuhan itu Maha Hidup dan Maha Penjaga  serta Dia itu berbicara kepada hati-hati yang muttaqi. Mereka menganggap-Nya sebagai sosok yang fiktif dan merupakan hasil imajinasi khayalan manusia. Tidak ada yang  pernah mendengar suara-Nya. Nyatanya Dia itu bukan Tuhan, tetapi hanya sebuah berhala yang terletak di sebuah sudut. Aku tidak habis mengerti bagaimana kaum ini bisa menerima konsep pemikiran yang kekanak-kanakan tersebut dan apa yang menjadi hasil dari pemikiran fiktif seperti itu? Mengapa mereka tidak berusaha mencari sebagai seorang pencari kebenaran adanya wujud Tuhan yang Maha Kuasa dan Maha Hidup serta menegaskan eksistensi-Nya sendiri dan menghidupkan yang mati dengan ucapan: ‘Aku-lah Allah’. Ketika mereka menyadari bahwa terangnya logika tertutup kabut, mengapa mereka tidak mencari pencerahan yang sempurna? Mereka mengakui kalau mereka itu sedang sakit, tetapi tidak mau mencari obatnya. Sayang sekali mereka itu  tidak mau membuka mata mereka untuk melihat kebenaran.

Kenapa tutup telinga mereka tidak dibuang agar mereka bisa mendengar suara Ilahi? Mengapa hati mereka begitu berbelit dan mengapa pemahaman mereka begitu rancu sehingga kelemahan diri mereka itu malah dilontarkan kepada para pengikut wahyu yang hakiki?

Note: bersambung kepada part III.

14 comments:

  1. cinta ini... kadang-kadang tak ada logika... hihi

    ReplyDelete
  2. aduh hasss... bahasaaanya beraaaat.. :(

    ReplyDelete
  3. iya bahasanya berat, tapi setelah dibaca berulang kali agak mengerti sedikit. ditunggu part III-nya

    ReplyDelete
  4. tu lagunya agnes gas....
    :)

    ah masak mas nuel,,saya saja juga agak sulit memahaminya...
    :P

    oke reza....
    :)

    ReplyDelete
  5. bertuhan atau tidak
    asalkan berasal dari sebuah pencarian
    tidak bisa dikatakan buruk...

    ReplyDelete
  6. ikut nyimak, sob,,,dan menunggu kelanjutannya part III

    ReplyDelete
  7. yaps begitulah mas rawins.....
    :)

    ReplyDelete
  8. Dear.

    Gw coba untuk bisa memahami setiap kata yang terurai mesra..... dan cukup rumit untuk merangkainya menjadi sebuah frame kokoh dalam kepala gw........



    regards,
    ... Ayah Zahia ...

    ReplyDelete
  9. bisa dibaca-baca lagi Om Zul....
    santai saja...
    semoga bermanfaat ya....
    :)

    ReplyDelete
  10. lagu-2nya Agnes menurut saya mutunya bagus, tak sekedar market oriented

    ReplyDelete
  11. ah mbak ririe...
    kan postingan ini ga bahas lagunya agnes...
    :P

    ReplyDelete
  12. Hi ada , semua akan terdengar di sini dan ofcourse setiap orang berbagi fakta , itu benar-benar sangat baik , tetap up menulis.

    ReplyDelete
  13. Oke Anda benar, YouTube adalah situs video web distribusi terbaik , karena YouTube adalah time streaming ringan tidak banyak daripada situs lain.

    ReplyDelete

silahkan berkomentar, tidak dipungut biaya..! apabila ada kata yang salah dalam hal deskripsi apa pun tentang isi dari postingan zonesa.blogspot.com, mohon kritik dan sarannya agar lebih baik. terimakasih dan salam hangat. Sehangat pelukan pasangan Anda.