Tuesday, 6 September 2011

Al Baqarah 275-280




Kita ketahui bahwa kerusuhan-kerusuhan, pergolakan-pergolakan dan peperangan selalu membuntuti eksploitasi dan perampasan hak, terlebih lagi hak orang-orang yang tak berdosa. Ada teori mengatakan, hal ini ditengarai oleh masalah bunga. Bahwa negara-negara yang menyabung nyawanya dengan bunga tinggi akan menghadapi sebuah situasi yang tidak mengenakkan dimana negara-negara akan saling mengangkat senjata.

Siapa saja yang akrab dengan sejarah Perang Dunia I dan II, pasti akan ingat bahwa kapitalisme memainkan peranan pembawa malapetaka, bukan hanya sekedar sebagai penyebab tetapi juga yang mengakibatkan peperangan itu menjadi semakin berlarut-larut.







Kapitalisme
Dari berbagai sumber bahwa kapitalisme secara sederhana adalah  modal diganjar dengan bunga. Secara instrinsik, pada prinsipnya disepakati bahwa modal memiliki hak untuk berkembang. Bunga berperan sebagai inti kekuatan pendorong untuk menghimpun modal yang kemudian disalurkan sebagai energi untuk menggerakkan dan memelihara jalur-jalur produksi terpadu yang bekerja. Singkatnya, bunga menjadi sebuah perangsang untuk menjaga modal agar terus berputar dan berkembang.

Misalnya saja dalam perusahaan swasta bebas, baik seseorang harus membayar bunga ataupun tidak, rasa kepemilikan dalam diri seseorang itu sudah cukup untuk menciptakan suatu dorongan bahwa modal seseorang itu harus berkembang.

Dan seandainya seseorang itu harus membayar bunga atas pinjaman yang digunakannya sebagai modal, maka suku bunga itu akan menjadi sebuah benchmark. Ini dapat diibaratkan bahwa seseorang  harus berdiri, mengawasi pertumbuhan dan perkembangan modalnya secara komparatif.

Sosialisme
Sedangkan dalam sosialisme, para ahli berpendapat bahwa meskipun tidak ada intensif bunga untuk memutar dan mendaur ulang modal menjadi sebuah mekanisme produk, karena modal dimonopoli oleh negara. Jadi, tidak dibutuhkan adanya perangsang. Dalam tatanan sistem ekonomi sosialis ini, pemilikan seluruh modal negara secara paksa oleh negara itu sendiri akan menyebabkan sistem bunga sama sekali tidak relevan dan berarti

Maka kendalanya adalah tatkala Anda tidak berada di bawah suatu tekanan apapun untuk meraup penghasilan lebih besar dari bunga yang harus Anda bayar, maka Anda tidak akan memiliki pemacu dan rasa tanggung jawab dalam bentuk apapun.

Jika seluruh modal dalam negara sosialis, misalnya dapat ditentukan nilainya dari sudut pandang berapa banyak bunga yang dapat dihasilkan bila disimpan dalam sebuah bank, maka hal ini akan memperlihatkan dua belahan gambaran yang berbeda dan menarik untuk menampilkan kemungkinan-kemungkinannya.
Yang lebih dari sekedar kemungkinan bahwa biang keladi sebenarnya dari kemunduran standar kehidupan dapat ditunjukkan dengan tepat dengan cara ini. Meskipun tanpa upaya besar, sama sekali tidaklah sulit bagi seseorang untuk menentukan penyebab-penyebab kemunduran semacam itu.

Menurut seorang ahli ekonomi dari Inggris, karena negara sendiri (negara dengan sistem sosialis) bertindak sebagai pelaku kapitalis, maka ia akan luput dari sebuah sistem monitoring yang berfungsi memperingatkannya terhadap kegagalan, pemborosan dan kesalahan besar dalam cara menangani modal negara karena tidak ada kewajiban finansial yang harus dipenuhinya dan dapat menggunakan modal tanpa tuntutan tanggung jawab. Situasi seperti ini rawan dengan bahaya-bahaya, yaitu mengacaukan rasio input-output secara luas. Dan kuantum pemborosan akan terus membumbung dan meninggi.

Lagi pula
, tidak ada pengawasan yang ditempatkan pada kebijakan penyaluran modal. Maka tidak ada cermin bagi Pemerintahan Sosialis untuk menilai tingkat pertumbuhan ekonomi riil untuk diperbandingkan terhadap ekonomi pasar bebas. Satu persoalan tambahan adalah bahwa Negara Sosialis Komunis akan membutuhkan dana yang lebih besar dalam bidang pertahanan, pengawasan, dan piranti atau alat-alat penegakan hukum. Faktor-faktor inilah yang menyebabkan ekonomi biaya tinggi. Memang keterpurukan bisa ditunda, tapi sama sekali tidak dapat dielakkan.

Ekonomi Bebas
Dalam sejarah disebutkan bahwa eksploitasi rakyat yang lebih miskin oleh kapitalisme berasas riba yang melahirkan pemberontakan sosialis nampaknya telah tinggal sejarah. Jelas konfrontasi dua falsafah ekonomi besar telah berakhir. Sistem ekonomi Marxisme-Leninisme telah menyingkir dari kesibukan manusia. Dan nampaknya ekonomi bebas yang disebut-sebut oleh negara Barat nampaknya telah mengalami kemenangan, tentu saja dengan pengecualian China yang masih bahu-membahu mengurangi penderitaan orang-orang miskin di negara mereka.

Kesenjangan antar Barat dan Timur tidak sebesar jarak utara selatan. Negara-negara dunia pertama di utara berbeda dengan negara-negara dunia ketiga di selatan. Kesenjangan antara Amerika bagian utara dan Amerika bagian selatan pasti amat menyakitkan. Tetapi jauh sekali bedanya dengan Afrika dan Eropa, secara jarak Afrika begitu dekat dengan Eropa, tapi secara ekonomi, Afrika adalah bagian yang paling jauh dari Eropa.

Selanjutnya, beberapa pengamat mengatakan bahwa para politisi dari negara-negara lebih maju dalam bidang ekonomi dan politik di dunia lebih dipacu lagi perhatiannya oleh revolusi ekonomi kapitalis yang terjadi di Timur jauh, seperti Jepang, Korea Selatan, Hong Kong, dan Singapura. Nampaknya jarak Timur jauh dan Barat sedang dijembatani negara-negara kurang beruntung di Asia, seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, Kamboja, India, Sri Lanka dan lainnya.

Sebenarnya terlalu cepat untuk meramalkan bagaimana perubahan Eropa Timur dan Rusia dapat mempengaruhi keseimbangan ekonomi dunia dan apakah kembalinya mereka kepada kapitalisme akan secara penuh atau sebagian, cepat atau lambat. Namun apa pun yang terjadi, hal itu akan mempengaruhi secara bertolak belakang kepada ekonomi negara dunia ketiga. Mungkin ini akan menuju ke arah malapetaka global. Dan inilah yang sedang terjadi.

Dalam pemerintahan China era Mao Tse Tsung disebutkan bahwa  China telah melakukan banyak eksperimen ekonomi. Ada yang gagal tapi ada yang berbuah sempurna. Sepanjang era pemerintahan Mao Tse Tsung, bunga sama sekali tidak diperkenankan memainkan peranannya. Namun sepanjang periode itu, tidak ada kenaikan inflasi yang berarti. Dalam kenyataannya, produksi meningkat dan harga mencatat tingkat penurunan.

Bagaimana kalau kita dibandingkan dengan Israel, negara kapitalis nomor satu. Tingkat inflasi di Israel mencatat rekor tercepat. Kemudian kita bandingkan dengan negara-negara Amerika Latin dan fenomena inflasi di Eropa pasca perang, khususnya di Jerman. Namun itu bukanlah hari-hari normal. Israel mencatatkan inflasi yang fantastis.

Perlu dijelaskan beberapa aspek riba. Para ahli menemukan bahwa tingkat suku bunga intern-bank hanya dibayarkan pada deposit yang besar-besaran dan tidak untuk saving account para depositor rata-rata/kecil. Meskipun ada efek dari coumpouding interest (Bunga dari pinjaman dan bunga dari bunga itu sendiri), hasil yang diperoleh depositor keci adalah jauh di bawah daya beli uang yang sebenarnya. Meskipun dalam jangka pendek berfluktuasi, namun pada akhirnya bunga yang diperoleh akan berada dibawah tingkat inflasi. Sedang disisi lain, jumlah dana pokok yang sama apabila diinvestasikan kedalam beberapa usaha bisnis maka malah akan memiliki potensi berkembang dalam arti yang sebenarnya.

Biasanya bunga riba ini menjerat masyarakat yang terbius iklan-iklan gaya hidup mewah. Seperti desain sofa terbaru, vila mewah, alat dapur modern, dan lainnya. Jika mereka memenuhinya dengan cara meminjam dengan bunga ataupun tidak, hal ini sama saja akan menaikkan daya beli seseorang di masa sekarang dengan resiko menurunkan hal yang sama di masa mendatang.

Misalnya, seseorang memiliki penghasikan 1 juta/bulan dan pergi berbelanja barang-barang mahal dengan bantuan uang pinjaman, katakanlah pengeluarannya mencapai 40 juta, maka kemampuan membayar utangnya akan ditentukan rata-rata simpanannya tiap bulan. Anggap saja dia dapat mencukupi pembelanjaan dengan uang 600ribu. Hal ini akan memberikan kesempatan kepadanya untuk menyimpan 400ribu tiap bulan. Maka ia harus hidup dalam anggaran ketat itu selama 100 bulan berikutnya untuk memenuhi kesenangan berbelanjanya sesaat. Oleh karena itu, apa yang telah dilakukannya adalah meminjam uang masa depannya selama 100 bulan (sekitar 8 tahun).

Tetapi jika ia juga harus membayar bunga, posisi finansialnya akan semakin terjepit. Katakanlah pada tingkat rata-rata, 14%, maka total peminjamannya dari pengeluaran tadi akan menjadi jauh lebih besar dari yang dipinjamnya. Hal ini akan memperlemah daya bayarnya dan memperpanjang periode pembayarannya. Jika orang ini tabah dengan melakukan pembayaran bulanan 500ribu, maka dia akan menjalaninya selama 20 tahun sebagai hukuman akan ketergesaanya tadi. Total pembayaran pinjaman dan bunganya yang berbunga kurang lebih dapat mencapi 120 juta.

Kerugian pasti ada pada pihak peminjam tentunya. Pemberi pinjaman adalah bagian dari sistem eksploitasi. Lagi pula hanya sedikit orang-orang yang beruntung memperoleh kenaikan-kenaikan pendapatan tahunan seiring tingkat inflasi.

Hal-hal tersebut jika  digambarkan adalah seperi saat musim panas, kolam-kolam akan cepat mengalami panas di bandingkan danau-danau. Lautan yang sempit menjadi lebih cepat panas dari lautan yang lebih luas. Namun mereka tetap tunduk pada nasib yang tak dapat dielakkan dan tak dapat ditawar-tawar lagi. Lautan Pasifik memerlukan waktu begitu panjang untuk menjadi panas hingga saat mencapai titik itu, musim dingin telah hadir. Inilah mengapa cuacanya berhawa sedang dibandingkan dengan daerah atau negara yang berbatasan dengan lautan yang lebih sempit. Hal inilah juga yang berlaku dalam falsafah ekonomi.

Beberapa ahli sepakat bahwa keadaan ini dimulai karena kepentingan yang lebih besar oleh pimpinan politik negera-negara industri untuk menjual lebih banyak barang di pasar untuk menyelamatkan industri dari kelesuan dan memelihara standar kehidupan rakyatnya. Masalah yang muncul adalah rakyat terbiasa dengan kesenangan-kesenangan modern dan demi untuk menyelamatkan  diri sendiri, idustri akan terus menerus memanjakan mereka dengan penemuan-penemuan baru dan peralatan yang memberikan kenyamanan dan kesenangan mereka. Tidak ada pemerintahan politik yang dapat menyelamatkan diri dari sebuah tekanan publik yang terus-menerus menuntut standar kehidupan yang lebih tinggi. Maka ekonomi harus dijaga agar tetap mengambang, apa pun alasannya.

Kalau kita renungkan, mungkin inilah makna dari peringatan yang disampaikan kepada umat manusia 1400 tahun yang lalu terhadap holocoust yang ke arahnya ekonomi berbasis riba.

Coba Anda lihat Al-Baqarah 275-280. Dan mari kita berdoa agar Tuhan rela menyelamatkan bangsa ini dan dunia ini dari kehancuran ekonomi.


Note: paper around years of ’90.

12 comments:

  1. wah bagaimana kelak kalau perdagangan bebas sdh di berlakukan y ,,apa lah nasib negri kita tercinta ini..

    ReplyDelete
  2. kredit emang istilahnya minjem uang masa depan.. kalo nabung, berarti menunda kesenangan sekarang untuk memenuhi masa depan.

    beberapa negara yang ekonominya maju pesat karna emang kreatip-kreatipnya warganya nyiptain sistem sendiri, yang bukannya tanpa resiko.

    ujungnya paling yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin


    betewe, mumpung masih suasana lebaran mau ngucapin maaf lahir batin.. maap-maap kalo selama ini banyak salah komen atau tindakan yang kurang menyenangkan

    ReplyDelete
  3. Amin amin yah B)
    Lengkap banget tulisannya, saya jadi tau tentang kapitalisme

    ReplyDelete
  4. Hmm.. Emang Riba/Bunga Bank itu begitu Berbahaya walaupun kelihatannya menguntungkan tp sebenarnya sangat merugikan & menyimpan banyak mudhorot!!
    Maka dr itu Alloh SWT Mengharamkan Riba/Bunga Bank dan Menghalalkan Jual Beli..

    ReplyDelete
  5. itulah seleksi alam mas kahfi.. :)

    ReplyDelete
  6. tapi ada jg yg miskin jd kaya tp gak umum itu mas gaphe...
    :P

    minal aidzin wal faidzin... :)

    ReplyDelete
  7. iya mas shudai semoga bisakita ambil hikmahnya... :)

    ReplyDelete
  8. bukanlah mas nuel..... :P
    masa iya..??

    ReplyDelete
  9. saya setuju dengan mas bagio... :)

    ReplyDelete
  10. ekonomi riba itu yg menghancurkan ekonomi dunia, kasihan banget negara2 barat sudah ekonomi riba, sok jagoan, uang habis buat perang di afganistan dan negara2 islam

    sampai2 rakyatnya sendiri jatuh miskin, kehilangan pekerjaan, rumah, gilenya lagi mereka ga kapok, daripada membela si miskin mereka malah melindungi si kaya, masa perusaahan besar bangkrut mendapat dana talangan dari pajak rakyat

    rakyatnya makan apa? padahal sudah ga punya perkerjaan/rumah

    ReplyDelete
  11. sepertinya mas r10 semangat dengan topik saya kali ini... :)
    terimakasih komentarnya.. :)

    ReplyDelete

silahkan berkomentar, tidak dipungut biaya..! apabila ada kata yang salah dalam hal deskripsi apa pun tentang isi dari postingan zonesa.blogspot.com, mohon kritik dan sarannya agar lebih baik. terimakasih dan salam hangat. Sehangat pelukan pasangan Anda.