Saturday, 13 August 2011

Sufisme

Aliran  Sufisme  amat  populer  di  Turki,  Iran dan  negeri-negeri sebelah  timur  Amu  Darya, suatu  daerah  yang  secara  historis disebut sebagai Trans-Oxus. Banyak umat Muslim dari bekas Rusia menjadi pengikut Sufisme yang telah memainkan peran penting guna menjaga Islam tetap hidup di negeri mereka saat pemerintahan Tsar dan Komunis.


Masalah yang amat ditekankan dalam Sufisme ialah bahwa di bawah bentuk  agama,  terdapat  ruh wahyu  yang  beroperasi  yang  harus diberikan prioritas di atas bentuk tersebut. Apa yang dipahami oleh kaum Sufi sebagai ruh yang mendasari pada intinya adalah tujuan akhir yang dicari oleh semua agama. Tujuan akhir ini digambarkan sebagai kecintaan kepada Tuhan dan komunikasi dengan Wujud-Nya. Karena itu menurut mereka, jika anda berhasil mencapai tujuan ini, dengan atau tanpa mematuhi bentuknya,  tujuan telah tercapai dan hanya itulah memang  yang  diharapkan.   Memang  tidak  semua  kaum  Sufi  lalu meninggalkan bentuknya sama sekali dan tetap saja menata diri mereka sejalan dengan Syariah Islam sebagaimana pemahaman mereka. Namun mereka tidak akan menghabiskan  enerji mereka pada upaya ibadah formal, dan hanya mengulang-ulang zikir sifat Ilahi siang malam untuk memfokuskan  perhatian  sepenuhnya  pada  ingatan  tentang  Tuhan. Terkadang  praktek  mereka  itu  mendekati  lak yoga  sebagaimana dibahas di bagian tentang agama Hindu. Terkadang para orang suci Sufi ini menciptakan cara dan model baru dari zikir yang malah menyempal jauh  dari Sunnah  Rasulullah s.a.w., pendiri suci dari  agama  Islam. Penganut sekte Sufi demikian malah mematuhinya lebih berhasrat dan keras daripada kepada ajaran Al-Quran itu sendiri. Karena itu selalu muncul aliran Sufi baru dari waktu ke waktu di berbagai negeri di belahan dunia Islam.


Tujuan dari bahasan ini bukan untuk merinci perkembangan aliran pemikiran Sufisme atau skisma yang muncul kemudian di antara kaum Sufi. Satu hal yang membedakan Sufisme dalam Islam dari praktek-praktek     lainnya adalah kepercayaan         teguh kaum Sufi kepada kesinambungan wahyu atau komunikasi merek dengan Tuhan. Nyatanya semua tokoh Sufi dalam Islam menyatakan dirinya selalu berkomunikasi dengan Tuhan dan banyak wahyu yang telah mereka terima  yang dicatat dalam buku-buku autentik. Namun ada juga dari antara kaum  Sufi yang melepaskan diri sama sekali dari dasar-dasar agama  Islam.  Bagi  mereka  tujuan  suatu  agama  adalah  menuntun manusia kepada Tuhan sehingga bentuk ibadah dengan demikian sudah tidak diperlukan lagi bagi mereka yang telah mencapai tujuan tersebut. Mereka mengemukakan beberapa cara latihan mental dan spiritual yang dianggap cukup untuk menciptakan hubungan di antara manusia dan Tuhan, yang  terkadang digambarkan sebagai kesatuan wujud dengan Dia. Tidak perlu waktu terlalu lama untuk masuknya musik dan obat bius ke tengah aliran Sufi ini yang menjadikan mereka lepas dari dunia nyata dan melayang di dunia khayal. Hanya saja tidak semua gerakan Sufisme memulai perjalanan  mereka dari inovasi yang mengada-ada, meskipun di akhirnya seringkali mereka tergiring ke sana saat mereka mengalami kemunduran di belakang hari.

Ada  empat  sekte  Sufi  yang  mapadan  amat  dihormati  yang sebenarnya juga telah menyempal dari jalur Syariah dengan berjalannya waktu.  Namun para pendirinya sendiri sebenarnya tidak  diragukan kesetiaannya kepada Al-Quran dan Sunnah dan mereka tidak mengenal kompromi . Keempat sekte besar ini adalah Chishtiyyah, Soharverdiyyah, Qadiriyyah dan Naqshbandiyyah - yang kemudian terpecah-pecah lagi menjadi berbagai sub-sekte. Mereka semuanya menekankan  pentingnya  menahan  diri  dan  hidup  sederhanguna mencapai kebenaran. Pada awalnya, praktek-praktek  tersebut tidak menjadi  substitusdari pelaksanaan  tradisional  ibadah  Islambaru kemudian ditambah-tambahkan oleh mereka.

Secara  berangsur  pemahaman  Sufi  tentang  hubungan  mahluk dengan penciptanya mulai dipengaruhi oleh filosofi yang sebenarnya asing bagi Islam. Sebagai contoh, pengaruh dari filosofi Yunani klasik bisa ditelusuri pada beberapa sekte Sufi. Pandangan pantheisme bangsa Yunani diadopsi dalam bentuk yang dimodifikasi oleh beberapa sekte Sufi, meski ditentang keras oleh yang lainnya. Mereka yang menentang kecenderungan pantheisme menekankan bahwa ada garis pemisah yang tegas yang memisahkan Tuhan dengan ciptaan-Nya. Menurut mereka, meskipu mahlu membawa  tanda  cap  dari  sang  Pencipta  dan merupakan  refleksi-Nya, tetapi hal ini tidak bisa dirancukan dengan identitas  Wujud-Nya.  Sebaliknya,  beberapa  faksi  lain  menganggap karena seluruh alam ini menjadi manifestasi dari Tuhan maka tidak ada perbedaan  yang  tegas  di  antara  Penciptdengan  mahluk  (yang diciptakan). Bagi mereka penciptaan tidak bisa dipisahkan dari Tuhan karena  sifat-sifat-Nya terdapat secara naluriah pada segalanya yang telah Dia ciptakan. Tidak ada garis pemisah yang bisa ditarik. Karena itu Tuhan adalah alam semesta dan alam semesta ini adalah Tuhan. Namun Dimemilikniat-Nya sendiri yang berkerja sebagai fitrat naluriah dalam benda-benda.

Pada pandangan pertama anggapan tentang alam semesta ini kelihatannya bersifat pantheistik dimana Tuhan adalah segalanya dan segalanya adalah Tuhan. Tetapi ada perbedaan yang signifikan yang perlu  dicatat. Pandangan pantheistik tentang Tuhan tidak mengenal adanya Wujud eksternal yang merupakan Pencipta yang Sadar, Wujud yang berkomunikasi dengan manusia melalui w a h y u,       yang memperhatikan cobaan, musibah dan kesukaan yang mereka alami serta yang  memberikan  bimbingan  kepada  mereka.  Sufi  Muslim  sebagai kontradiksi  kepada pandangan pantheistik klasik tetap saja beriman pada identitas  independen dari Tuhan yang meskipun tercermin dari ciptaan-Nya adalah juga sang Pencipta.

Adapun tentang temperamen kaum Sufi, mereka ini jarang terlibat dalam perdebatan dengan kata-kata yang keras dan garang. Umumnya mereka  melaksanakan hidup kebersahajaan dalam keimanan sambil juga  menghormati dan bersikap toleransi terhadap pandangan yang berbeda dengan mereka. Berbeda dengan kaum ortodoks yang secara progresif bertambah menjadi pencemburu. Karena itu banyak sekali dari sekte  Suf yang  harus  mengalami  sikap  permusuhan  dari  ulama ortodoks.  Di  kalangan  ulama  ortodoks  sering  sekali  muncul  gerak memusuhkaum  Sufi.  Setiap sekte  Sufi  sudah mengalamberbagai aniaya dari waktu ke waktu. Kaum Sufi yang menganut konsep Tuhan yang pantheistik adalah  yang menjadi bulan-bulanan angkara murka ulama ortodoks. Kadang kala  mereka ini divonis hukuman mati dan dibunuh secara brutal. Protes mereka yang menyatakan bahwa filosofi pantheistik itu tidak mengkompromikan keesaan dan kebebasan sang Mah Pencipt tida diterim da merek teta saj didakwa mengakukan diri menjadi satu kesatuan bersama Tuhan. Untuk itu ulama ortodoks sering melakukan kejahatan aniaya terhadap mereka.

Kasus yang menyangkut seorang Sufi termashur, Mansur Al-Hallaj, merupakan contoh bagaimana kaum Sufi diperlakukan karena mereka didakwa mengaku sebagai Tuhan. Ia diputuskan hukuman mati dengan cara  digantung  karena  ia  meneriakkan  kata  Anal-Haq,  Anal-Haq(akulah  kebenaran, akulah kebenaran). Ulama ortodoks menganggap yang  bersangkutan  mengaku  sebagai  Tuhan  sendiri,  padahal  yang bersangkutan hanya sedang menyatakan keterhanyutan ruhaniah yang sangat  dalam  sebagai keadaan  penafian  diri  secartotal.  Apa  yang dimaksudkan    olehny iala i it tida berart apa-apa yang mempunyai arti hanyalah Dia (Tuhan). Mansur Al-Hallaj menaiki plafon gantungan dengan kepala tegak, sama sekali tidak gentar akan kematian yang telah menghadang. Tidak juga teriakannya bisa dikalahkan oleh caci maki yang dilontarkan orang kepadanya. Teriakannya tetap lantang membahana Anal-Haq, Anal-Haq sampai nyawanya kembali ke sumber kehidupannya di langit.

Sekte  Sufi  lainnya  lahir  karena  gagasan  tentanapakah  alam eksternal ini merupakan suatu kenyataan atau hanya merupakan impresi di fikiran orang saja. Masalah ini sudah sejak zaman purba dipertanya-kan orang, bahkan oleh Plato dan Aristoteles. Pertanyaan itu belum terjawab dahulu kala dan tidak juga oleh kaum Sufi tersebut. Sekarang pun tetap saja masih menjadi bahan perdebatan di antara para filosof. Tidak juga ada filosof kontemporer yang bisa mengabaikannya karena dimensi ruang dan waktu tidak mungkin divisualisasikan tanpa peran otak manusia. Imajinasi seorang yang gila sama nyata baginya seperti hasil observasi seorang ilmuwan tentang alam dalam geraknya. Ditinjau dari sudut pandang demikian, kelihatannya masalah ini tidak mungkin bisa dipecahkan.

Pandangan atau impresi tiap orang tentang alam eksternal berbeda satu  sama  lain.  Tetapi  persepsi  tentang  dunia  yang  mendasar  di sekeliling kita serta pemahaman sifat-sifatnya seringkali sama diakui ole pengamat  lainnya.  Sebagai  contoh,  kebanyakan  orang  akan sependapat tentang definisi suatu artikel sederhana seperti kursi atau meja. Namun  banyak juga benda-benda umum dimana tidak setiap orang memandangnya secara sama. Sebagai contoh, warna dari berbagai benda mungkin terlihat berbeda bagi orang-orang yang mempunyai kelainan pada kemampuan penglihatannya. Begitu juga dengan indera yang kita miliki keadaannya  tidak  sama pada setiap manusia. Indera penciuman tiap orang berbeda, begitu juga indera untuk merasakan panas dan dingin yang tidak  sama bagi setiap orang. Apalagi jika dipertimbangkan bahwa perubahan dari arah pandang saja sudah akan menghasilkan persepsi visual yang berbeda pada pengamat yang sama. Persepsi tentang suatu hal yang sama oleh pengamat yang sama bisa berubah jika ia beralih posisi melihatnya dari sudut lain. Tambahkan ke dalam ini adanya perbedaan suasana hati dan kondisi kesehatan masing-masing orang maka problemnya menjadi berlipat ganda. Tidak ada kebenaran obyektif yang sepenuhnya sejalan dengan kebenaran subyektif yang digali orang dari dalam otaknya sendiri. Singkat  kata, impresi subyektif tidak selalu berkaitan dengan dunia luar dengan cara yang  persis  sama.  Hal  ini  menurut   pandangan  beberapa  filosof mengkaliskan seseorang bida mencapai kepastian yang bersifat mutlak tentang segala hal yang dilihatnya.

Aspek ketidak-pastian dan ketidak-handalan dari impresi seperti yang diungkapkan di atas, telah menyebabkan lahirnya sekte Sufi lain yang sepenuhnya menyangkal eksistensi eksternal dari tiap benda dan menyatakan  bahwa kebenaran hakiki hanyalah pandangan subyektif masing-masing orang. Mereka yang paling ekstrim di antara kelompok itu bahkan menyangkal segala bentuk phisik eksternal termasuk dirinya sendiri. Dengan demikian maka suatu usaha yang bermula pada upaya untuk  memperjelas  detil  dan  persepsi  tentanrealitas  luar  malah berakhir dengan kerancuan yang menggila. Namun ada daya tarik magis dalam  kegilaan  tersebut  yang  terkadang  memukau  ahli  logika  dan ilmuwan yang paling bijak di zaman mereka.




Sebuah  episoda  menarik  diceritakan  tentang  seorang  pimpinan terkenal dari sekte Sufi ini yang dipanggil menghadap seorang raja guna berdebat dengan beberapa cendekiawan terkemuka di masa itu. Namun semu peserta  menjadi  kecewa  disamping terpesona karena hasil perdebatan ternyata jauh berbeda dari yang mereka perkirakan. Melalui pertukaran beberapa argumentasi dan tanggapan atasnya, para cendekiawan tersebut tersudut dan tergagap-gagap mencari-cari kata-kata untumelawabicara sang Sufi. Tidak ada seorang pun yang mampu mengimbangi kepiawaian logika sang Sufi. Pada saat itu sang raja mendapat gagasan cemerlang dan memerintahkan pawang gajah untuk membawa gajah yang paling galak ke halaman istana. Gajah ini terjangkiti kegilaan yang tidak kurang dari sang Sufi tersebut. Yang membedakan hanya tentang realitas  luar  yantidak  eksis dalam fikiran sang Sufi.

Adapun gajah    itmaunya hanya menghancurkan semua realitas luar yang dilihatnya. Dari satu sisi sang Sufi lalu didorong masuk ke halaman dan dari sisi lain gajah tersebut dilepaskan. Sang Sufi tanpa banyak bicara langsung melarikan diri untuk menyelamatkan nyawanya.

Melihat hal itu, raja dari balkon istana berteriak: Jangan lari dari gajah bayangan itu, wahai Sufi. Gajah itu hanyalah khayalan dalam fikiranmu saja!

Siapa yang lari? jawab sang Sufi. Itu hanyalah khayalan dari fikiran paduka saja.

Berakhirlah  kesulitan sang Sufi tetapi debatnya sendiri tidak. Sampai sekarang juga masih berlangsung terus.


Note: sebuah wacana bahwa dunia ini banyak macamnya, hendaknya dapat membuat kita semakin menjadi dewasa.

9 comments:

  1. Ngga terlalu mengerti ttg sufisme. hehehe :D, dan blum mw mikirin ahh.. #lho??

    ReplyDelete
  2. banyak paham dan juga pro kontra dengan aliran sufi ini. wallahu'alam

    ReplyDelete
  3. jangan terlalu dhe pikirkan.... :)

    cukup sebagai pengetahuan sj..

    ReplyDelete
  4. saya tau mbak SCB kenapa anda tidak mudeng... :P

    ReplyDelete
  5. belajar lebih banyak, agar lebih luas sudut pandang, dan tidak mudah menjustifikasi.. terkadang ada yang menganggap teori relativitas salah hanya karena seorang tersebut tidak mampu memahaminya, dan hanya menganggap Newtonian yang benar..naudzubillah

    ReplyDelete
  6. ya Alloh karuniakan kepada saya saudaraku ini atas petunjuk agamaMu dengan sebenar-benarnya pemahaman, Amin

    ReplyDelete
  7. amiin makasih mas arief....
    :)

    ReplyDelete

silahkan berkomentar, tidak dipungut biaya..! apabila ada kata yang salah dalam hal deskripsi apa pun tentang isi dari postingan zonesa.blogspot.com, mohon kritik dan sarannya agar lebih baik. terimakasih dan salam hangat. Sehangat pelukan pasangan Anda.