Tuesday, 9 August 2011

Mu'tazilah


Kaum Mutazilah sendiri sebenarnya tidak menolak wahyu sebagai instrumen untuk menuntun manusia kepada kebenaran.

Mereka hanya menekankan bahwa inti pesan dari wahyu tidak mungkin dimengerti secara semestinya tanpa menggunakan nalar. Karena itu mereka melebihkan nalar di atas wahyu dengan pengertian bahwa jika keduanya terlihat bertentangan maka pemahaman rasionalitas harus dimenangkan, bukan sebagai alternative dari wahyu tetapi sebagai penjelasan murni dari pesan           wahyu.


Mereka berpandangan  bahwa amat sulit  menggali kebenaran Al-Quran dan Sunnah tanpa menguraikan secara rasional berbagai tamsil, metafora dan  simbol-simbol   yang  digunakan  secara  ekstensif  di  dalamnya. Sebagai contoh, mereka mengemukakan bahwa ekspresi seperti tangan dan wajah Tuhan harus ditafsirkan sebagai kekuasaan dan rahmat-Nya. Al-Ashari sendiri menekankan bahwa rujukan dalam Al-Quran tersebut menggambarkan sifat-sifat hakiki dari Tuhan yang fitrat hakikinya tidak diketahui, meskipun ia  sependapat bahwa tidak ada ciri-ciri phisikal yang dimaksud oleh istilah-istilah tersebut.

Meskipun gerakan Mutazilah kelihatannya mirip dengan pandangan aliran pemikiran Eropah dari abad ke sembilan sampai ke tujuhbelas, tetapi tidak mengarah kepada Ilhadi yang telah dilakukan rasionalisme Eropah dalam kemundurannya yang progresif. Kaum Mutazilah selalu bersumber  pada  sumber-sumber  Islami  murni  yaitu  Al-Quran  dan Sunnah untuk  mendukung argumentasi mereka, selalu dekat dengan sumber-sumber tersebut dan tidak pernah membiarkan diri mereka menjauh daripadanya.

Sekarang ini sulit membedakan sudut pandang di antara Mutazilah dan  Ashariyyah. Walaupun perspektif historis yang digambarkan di atas telah meninggalkan jejaknya pada pencarian keilmiahan dari generasi kontemporer cendekiawan Muslim, perbedaan tegas di masa lalu tidak lagi bisa ditetapkan secara jelas. Cendekiawan sekarang ini lebih banyak mengemukakan pandangan pribadinya daripada tentang pandangan aliran pemikiran sektarial di masa lalu. Hanya saja, sisa-sisa konklusi masa  lalu  tersebut masih  bisa dicermati. Semuanya itu merupakan produk  dari  kompromi  secara  gradual  yang  berkembang di  antara berbagai aliran pemikiran sepanjang sejarah. Di antara mereka terdapat orang-orang yang  sikapnya sudah mengarah kepada medieval (abad pertengahan) tetapi  mereka tidak ada mengutip secara eksklusif dari aliran pemikiran masa lalu untuk mendukung sudut pandang mereka. Mereka  melompat-lompat  dari  satu  ke  lain  sosok  dalam  pencarian cendekiawan mana dari aliran apa pun yang bisa dikutip sebagai bahan pendukung argumentasi mereka. Bagi mereka ini tapal batas di antara berbagai  sekte  abad  pertengahan  tidak  ada  lagi  tetapi  pandangan medievalisme tetap saja berlanjut, yang  menuntun jalan mereka. Hal yang sama juga berlaku sampai suatu titik tertentu pada kelompok yang disebut sebagai modernist. Manakala cocok  dengan tujuannya maka mereka tidak akan ragu-ragu mengutip dari cendekiawan masa lalu apa pun yang mendukung pandangan mereka, tetapi di samping itu mereka merasa bebas berinovasi di bidang lain menurut  pandangan pribadi mereka sendiri.

Note: from letter of paperless.

2 comments:

silahkan berkomentar, tidak dipungut biaya..! apabila ada kata yang salah dalam hal deskripsi apa pun tentang isi dari postingan zonesa.blogspot.com, mohon kritik dan sarannya agar lebih baik. terimakasih dan salam hangat. Sehangat pelukan pasangan Anda.