Monday, 8 August 2011

Ketika Ustadz dan Pastur Bicara Tentang Wanita


Asik berjemur di pinggir sungai Moskow.
Dua orang pemuka agama yang begitu akrab, seorang Ustadz dan seorang Pastur, sedang asik bersepeda, lagi-lagi kebetulan mereka punya hobi yang sama, sama- sama suka bersepeda dan suka membaca. Ketika asik bersepeda di Taman Kebudayaan(Park Culture) yang memang letaknya berdekatan dengan sungai, terlihat banyak orang yang sedang berjemur guna menyimpan energi matahari di musim panas dan terlintas di pikiran ustadz bertanya pada temannya, sang pastor,  yang suka pakai topi koboy kalau sedang rekreasi.
U: Tur(karena akrabnya manggil Pastur dengan Tur aja dan Pasturnya enjoi aja) mengapa sih pastor tak boleh menikah, lihat tuh di sana banyak wanita berjemur bisa dipilih salah satunya ?
P: Untuk menjaga kesucian diri dan wanita-wanita di sana itu ‘gembala-gembala’ saya juga.
U: Tur…kan menikah juga bisa menjaga kesucian diri dan terhindar dari perbuatan zinah.
P: Iya, namun sebagai”pengembala” itu berarti masih  memikirkan dunia, padahal seorang pastur harus benar-benar menjaga diri dan waktunya hanya untuk Tuhan.
U: Tur….menikah kan enak, coba deh.
P: Tidak Tad( Pastur juga memanggil temannya dengan singkat saja, Tad dari Ustadz) itu melanggar perjanjian dengan Tuhan.
U: Tapi dengan menikah bisa saling berbagi dengan istri.
P: Iya benar, tapi saya juga sudah berbagi dengan “gembala-gembala” saya, oya sekarang saya yang bertanya, mengapa  ustadz tak makan babi?
U: Oh itu karena dilarang agama.
P: Loh kan babi enak?
U: Biar enak kalau agama melarang, ya tak boleh dimakan!
P: Nah begitu juga dengan menikah bagi pastur, walau enak,  ya ga boleh!
U: Wah satu-satu!
P: Seri!

Kapal berwarna bendera Rusia melintas di sungai Moskow.
Mereka kembali jalan seiring dan terus melanjutkan perjalanan mereka di sepanjang sungai di hari libur itu, keduanya tersenyum dan bahagia, tak ada yang tersinggung. Mereka berjalan seirama, walau berbeda agama dan keyakinan, mereka bersahabat erat dengan keyakinan dan agama masing-masing.
Tiba-tiba ada anjing mendekati mereka,  mereka baru saja beristirahat di kursi kursi panjang yang terbuat dari kayu yang memang banyak terdapat di sepanjang sungai dari arah taman kebudayaan(Park Culture) Moskow  ke arah Selatan sampai ke taman dan hutan lindung Leninskygory. Sang Ustadz agak menjauh, takut celananya di indus atau dicium anjing, dia kwatir air liur anjing tadi mengenai celananya.
P: Tad… loh kok takut sih sama anjing?
U: Bukan takut Tur…., tapi air liur anjing itu najis, repot nanti nyucinya dan kalau celana tadi kena air liur harus dicuci dulu,  tak boleh di pakai sholat.
P: Kok repot ya Tad?
U: Ga juga…, makanya saya menghindar, bukan takut. Oya Tur… sampai sekarang kok Pastur sendirian aja, mengapa tidak menikah?
P: Ye… gimana sih, saya sudah bilang tadi, itu dilarang bagi agama saya.
U: Gini….Tur, masa itu ‘dipakai’ buat kencing aja?
P: Ya apa boleh buat, begitu yang  dimaui ajaran saya,  ya saya patuh dong!
U: Itukan melanggar fitrah kemanusiaan?
P: Ah ga kok… biasa aja, tak ada masalah bagi saya, toh saya kencingnya lancar-lancar saja toh! Nah sekarang saya tanya, Tad kok ummat anda banyak yang poligamy?
U: Karena memang dibolehkan, bukan dianjurkan dan juga bukan diwajibkan.
P: Bahkan boleh sampai empat ya Tad?
U: Iya, itupun disarankan yang dikawini adalah janda-janda miskin yang anaknya banyak, karena memang bertujuan membantu si miskin atau anak-anak yatim, dan kalau mampu berlaku adil ya sampai empat, bila tak mampu, ya cukup satu saja, itu juga tak habis-habis dipakai.
P: Kok seperti pakaian, dipakai?
U: Iya, memang diumpamakan suami istri itu seperti orang yang berpakaian, makanya kalau ada kesalahan atau aib masing-masing saling menutupi, bukan saling dibuka atau diceritakan di tempat umum, apa lagi diekspos di TV-TV, wah itu sangat jauh dari akhlak Islam.
P: Tapi,   tentang poligamy yang saya  lihat kok malah yang dikawini yang cantik-cantik atau lebih cantik dari istrinya yang pertama?
U: Nah itu urusan napsu Tur.
P: Oh… saya kira ajaran agama  anda mengatakan, kawinilah perempuan-perempuan yang cantik, satu, dua, tiga atau empat, bebas merdeka!
U: Ah… Pastur bisa aja, dalam ajaran Islam mengatakan’ budak hitam legam yang beriman lebih baik dari yang tidak beriman, jadi yang beriman dahulu yang diutamakan, setelah itu baru kecantikannya, sukur-sukur sih cerdas dan keturunan baik sekaligus anak orang kaya, asikkan!
P: Kok pakai kata yang beriman, apa saya tak beriman?
U: Oh… bukan begitu pastur, anda beriman dengan keyakinan anda, dan saya beriman dengan keyakinan saya, iya toh ?
P: Iya….ya.
U: Nah enakan, gimana kalau anda menikah?
P: Maunya sih gitu, tapi di agama saya, saya dilarang sebagai Pastur menikah!
U: Menikah kan manusiawi Tur.
P: Iya, tapi bagi saya tak boleh.
U: Mengapa?
P: Ya karena saya Pastur, kalau saya anda, ya saya nikah! Oya laper nih, sudah waktunya makan siang, yuk di situ ada sate babi. enak loh!
U: Ga mau akh… sate babi.
P: Enak… wiuh enak sate babinya… lezat!
U: Iya, tapi agama saya melarang saya makan daging babi, kalau saya anda, ya saya makan!
P: Nah begitu juga dengan nikah tadi Tad, samakan?
U: iya.. ya, satu-satu!
P: Seri lagi!

Gadis Rusia ini sedang menatap keimanan anda..
Kemudian mereka berdua menuju ke kafe yang memang menyediakan berbagai macam sate, ada sate ayam kambing, sapi dan babi! Pilihannya banyak dan mereka makan dengan lahap sate dengan daging pilihan masing-masing, mereka  sambil duduk lesehan di rumput di pinggir sungai Moskow dan menikmati pemandangan sungai yang jernih dengan kapal-kapal pesiar yang hilir mudik. Kapal-kapal tersebut memang ramai di musim panas ini, ya memang di musim panas ini kapal itu berlayar, di musim dingin sungai membeku menjadi es dan kapal istirahat enam bulan!
Mereka menikmati pemandangan indah itu dengan rasa syukur, tak nampak perbedaan diantara keduanya, kedunya enjoy saja, rukun, bersahabat dan damai, walau mereka berbeda agama dan keyakinan, walau  baru saja mereka berdebat tapi tetap damai,  sedamai burung-burung yang berterbangan di sekitar sungai ini.
Sebuah pesan damai akan membuat dunia ini lebihindah dan bermakna karena kita sama-sama makhluk ciptaan Tuhan.

Note: ditulis oleh Syaripudin Zuhri pada kompasiana.com

12 comments:

  1. yah bener banget. ga sepantesnya agama dijadiin alasan buat bermusuhan dan berkonfrontasi, :D i like this story.

    ReplyDelete
  2. sayangnya, kenyataan di dunia ini byk org bertengkar gara2 agama, berperang juga

    ReplyDelete
  3. agak bingung. awalnya tadi dah bagus, kenapa di bawahnya kudu diulangin lagi soal nikah n babi???

    trs gadis rusia nya tuh buat pajangan aja ya? kirain klo sengaja dsebutin gt bakal ada sangkut pautnya.....

    aku jadi ngrasa bodoh dah baca dng amat sangat serius. lol

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama, udah serius ngebaca rupanya istri sama babi lagi yang di bahas...

      Delete
  4. saya setuju dengan mas Nuel.... :)

    damai lebih indah...

    ReplyDelete
  5. kita harus mengubah kenyataan dan realita itu dengan saling mencintai satu sama lain mbak Ely.... :)

    ReplyDelete
  6. maaf Rinz...hehehehee....

    ReplyDelete
  7. Gue setuju banget..
    Agama bukanlah 'batas' untuk menjalin sesuatu silaturahmi B")
    Menghormati dan menghargai agama masing-masing akan terasa lebih indah dan damai B)

    ReplyDelete
  8. sependapat mss Shhudai.... :)

    ReplyDelete
  9. saya juga takut anjing, ribet nanti bersucinya

    ReplyDelete
  10. saya juga mas r10 kecuali ma syberian huskey... serem tp lembut...
    :P

    ReplyDelete

silahkan berkomentar, tidak dipungut biaya..! apabila ada kata yang salah dalam hal deskripsi apa pun tentang isi dari postingan zonesa.blogspot.com, mohon kritik dan sarannya agar lebih baik. terimakasih dan salam hangat. Sehangat pelukan pasangan Anda.