Friday, 10 February 2012

ALIRAN PEMIKIRAN DALAM ISLAM




Sudut pandang Islam bisa dikemukakan dalam dua perspektif yang berbeda, pertama dengan menganalisis karya dari berbagai pemikir Muslim, dan kedua dengan mencoba secara langsung menilai posisi Al-Quran menurut Sunnah yang berisi instruksi verbal mau pun kebiasaan dari Hadhrat Rasulullah s.a.w.



Keautentikan pemahaman tentang Islam dari para pemikir Muslim tersebut tambah lama menjadi tambah meragukan dengan berjalannya waktu. Hal ini karena mereka cenderung secara progresif menjadi lebih dogmatis yang tidak selalu rasional dan bisa dibenarkan. Di luar itu, apa yang mereka anggap  sebagai  Islami  hanyalah  hal-hal  yang  mereka  pahami  dari penelitian  tentang  dasar-dasar  agama  Islam.  Adapun  mereka  yang mengemukakan pandangannya berdasar Al-Quran dan Sunnah sepatut-nya diperlakukan sebagai kategori terpisah sepanjang mereka itu patuh sepenuhnya pada prinsip rasionalitas.


Sekarang ini perhatian kita arahkan kepada kelompok yang pertama dan membahas proses pemikiran dari para  cendekiawan, orang-orang suci dan filosof Muslim dalam suatu era yang menjurus pada pembentukan  berbagai aliran pemikiran dalam Islam. Ada dua pengaruh nyata yang berperan di awal periode sejarah agama Islam:
1. Pengaruh yang paling kuat dan dominan adalah Al-Quran dan Sunnah Rasul yang telah menciptakan revolusi dalam konsep ilmu pengetahuan serta memperluas cakrawala penelitian dan penyelidikan ke suatu dimensi baru yang tanpa tandingan.
2. Munculnya minat pada filosofi Yunani dan pengetahuan umum, disamping juga penelitian tentang filosofi klasik bangsa India, Parsi dan Cina, yang semuanya itu berpengaruh pada aliran pemikiran Muslim. Semua itu telah meretas jalan bagi berbagai ahli filosofi asing untuk menjadi fokus perhatian umat Muslim, baik secara independen mau pun dari sudut keterkaitannya dengan ajaran dalam agama Islam.

Karena adanya minat kepada berbagai ahli filosofi asing dan munculnya keinginan untuk mengkaitkannya dengan wahyu Qurani, muncullah aliran pemikiran baru. Aliran pemikiran ini disebut sebagai Islami karena alasan sederhana bahwa apa yang dikemukakan pada awalnya berasal dari palungan pemikiran, pendidikan dan keimanan Islam. Dengan demikian muncullah pandangan filosofi yang sebenarnya asing bagi Islam saling pengaruh mempengaruhi dengan pandangan sebelumnya yang sepenuhnya didasarkan pada studi tentang Al-Quran. Meski pun nyatanya pandangan demikian itu oleh beberapa ilmuwan berfikiran  sempit dicap sebagai non-Islami karena terlalu fleksible mengakomodasi berbagai sikap, namun tidak bisa diragukan kalau para ilmuwan akbar tersebut secara esensinya adalah tetap Muslim. Asosiasi mereka dengan cabang-cabang sekuler ilmu pengetahuan jarang sekali menjadikan mereka kehilangan keimanan Islamnya.

Berkaitan dengan itu maka setiap orang berhak memutuskan bagi dirinya sendiri, tentunya setelah mempelajari secara cukup Al-Quran dan Sunnah Rasul, apakah ia akan menganggap sudut pandang filosofis yang dikemukakan para pemikir tadi sebagai Islami atau bukan. Namun tentu saja konklusi yang mereka tarik akan selalu terbuka atas pertanyaan yang mungkin muncul. Ada yang menganggapnya sejalan dengan ajaran Islam sedangkan yang lainnya menganggap tidak. Apa pun yang dipilih, hal ini tidak  memberikan hak kepadanya untuk meragukan niat mereka itu. Adalah hak bagi setiap pencari kebenaran untuk membentuk konklusinya sendiri setelah secara tulus berusaha memahami Al-Quran dan Sunnah Rasul secara mendalam. Begitu juga, adalah menjadi hak yang lainnya untuk tidak sependapat namun kedua pihak tetap saja tidak memiliki kewenangan untuk mengkaliskan hak azasi yang lainnya untuk mempercayai apa yang dipilihnya atau menganggap dirinya benar.

Aliran pemikiran dalam Islam yang muncul akibat dari konklusi berbeda yang ditarik dari telaah sumber yang sama. Hanya saja perlu diingat bahwa setiap aliran pemikiran yang menyatakan dirinya didasarkan pada Kitab Suci Al-Quran dan Sunnah perlu dievaluasi melalui perujukan langsung pada bukti yang mereka kemukakan untuk  mendukung pandangan mereka. Dari sekian banyak ideologi da sudut pandang yang berkembang di masa dominasi Muslim, tidak semuanya dapat dikatakan bersifat Islami. Sebagian daripadpandangan mereka bersifat agak kontradiktif atau bahkan  bertentangan  secara  diametral  satu  sama lainnya. Namun tetap saja hal ini tidak memberikan hak kepada para lawan mereka untuk untuk menganggap  pandangannya sebagai non-Islami.

from a part of book.

4 comments:

silahkan berkomentar, tidak dipungut biaya..! apabila ada kata yang salah dalam hal deskripsi apa pun tentang isi dari postingan zonesa.blogspot.com, mohon kritik dan sarannya agar lebih baik. terimakasih dan salam hangat. Sehangat pelukan pasangan Anda.