Saturday, 4 June 2011

JINN


Persiapkan diri anda sekarang untuk suatu perjalanan jauh ke masa  lalu di atas sayap visi ilmiah untuk meneliti fitrat dan identitas dari wujud yang disebut sebagai jinn.

Konsep Al-Quran mengenai jinn sudah dibahas secara singkat dalam bab Kehidupan Menurut Perspektif Wahyu Al-Quran.

Leksikon bahasa Arab memberikan beberapa makna pada kata jinn. Secara harfiah kata jinn berarti segala sesuatu yang bertalian dengan segala  hal yang tersembunyi, tidak kasat mata, menyendiri dan jauh. Kata itu juga berkonotasi rona yang gelap dan bayangan yang kelam. Karena itulah kata jannah (dari akar kata yang sama) digunakan Al- Quran untuk menggambarkan surga yang penuh dengan kebun-kebun yang rimbun.

Kata jinn juga bisa digunakan kepada ular yang biasanya hidup tersembunyi di celah-celah batu dan liang di tanah serta terpisah dari hewan-hewan lain. Kata tersebut juga dapat dikenakan pada wanita yang selalu memisahkan diri serta kepada para penghulu yang menjaga jarak dengan rakyat awam. Penduduk  dari gunung-gunung yang jauh dan tidak bisa dijangkau juga disebut sebagai jinn. Karena itu segala hal yang  berada  di  luar  jangkauan  penglihatan  atau  tidak  kasat  mata termasuk dalam makna kata tersebut.


Kesimpulan ini sepenuhnya didukung oleh sunah Hazrat Rasulullah s.a.w.  dimana  beliau  melarang keras  umatnya  untuk  menggunakan kotoran ternak yang kering atau belulang dari hewan mati untuk membersihkan   diri   setelah   buang   air   besar   atau   kecil,   dengan pertimbangan bahwa benda-benda itu merupakan makanan jinn. Kalau sekarang ini kita menggunakan kertas toilet, pada masa itu manusia menggunakan gumpalan tanah, batu atau benda kering lainnya untuk membersihkan dirinya. Karena itu kita bisa menyimpulkan bahwa apa yang   beliau   maksudkan  sebagai  jinn   tersebut   tidak   lain   adalah organisme yang tidak kelihatan dengan mata yang memakan tulang atau kotoran yang mengering dan lain-lain.  Patut diingat bahwa konsep tentang  bakteria dan virus pada masa itu sama sekali tidak dikenal. Tidak ada manusia yang mempunyai bayangan sekelumit pun tentang adanya mahluk-mahluk yang tidak kasat mata tersebut. Ajaibnya justru mahluk-mahluk inilah yang dimaksud oleh Hazrat Rasulullah s.a.w. Tidak ada yang lebih baik atau lebih tepat untuk mengekspresikan hal tersebut bagi beliau selain kata jinn dalam bahasa Arab.

Hal penting lainnya yang dikemukakan Al-Quran adalah tentang penciptaan jinn. Mereka dikatakan terbuat dari semburan api (dari kosmos):
Dan sebelumnya (penciptaan manusia) telah Kami jadikan jinn dari api angin panas (naris samuum).” Al-Hijr:28.

Disini digunakan kata sifat untuk m enggambarkan fitrat api dari mana jinn diciptakan yaitu Samuum yang berarti api yang marak atau semburan api tanpa asap. Di tempat lain dalam Al-Quran dinyatakan: menjadikan jinn dari nyala api. (S.55 Ar-Rahman:16).

Setelah menjelaskan bahwa kata jinn juga bisa digunakan kepada bentuk organisme bakteria, sekarang mari kita perhatikan ayat-ayat di atas yang menyatakan jinn dicipta dari api. Yang paling tepat dikenakan makna dari ayat-ayat tersebut adalah organisme kecil yang memperoleh enerji untuk eksistensi mereka langsung dari semburan api petir yang panas (Samuum) dan radiasi kosmik.
Pandangan Dickerson ternyata sejalan dengan pendapat Al-Quran ketika ia menyatakan bahwa organisme yang paling purba: . . bisa hidup karena enerji dari petir dan radiasi ultra- violet.

Skenario tentang radiasi kosmik tidak secara khusus disebutkan oleh ilmuwan-ilmuwan dalam pencarian mereka akan organisme pra-biotika. Namun  mereka  mendukung  ide  yang  menyatakan  bahwa  apa  pun organisme   yang   ada   sebelum  evolusi   biotika,  pasti   memperoleh enerjinya langsung dari panas. Oleh generasi ilmuwan sebelumnya, dari semua kategori bakteria yang diklasifikasikan sebagai yang paling purba hanyalah  ‘prokaryote dan ‘eukaryote.   Hanya saja konklusi tersebut menurut Karl R.  Woese dan koleganya dianggap terlalu tergesa-gesa. Mereka menyatakan:
Hanya karena terdapat dua tipe sel di tingkat mikroskopis, tidak berarti pada tingkat molekul juga hanya terdapat dua tipe saja.

Agar memudahkan bagi pembaca, perbedaan di antara kedua bentuk bakteria yang disebut prokaryote dan eukaryote akan dijelaskan secara sesederhana mungkin. Yang dimaksud adalah keadaan atau ketiadaan suatu  nucleus di dalam organisme tersebut. Bakteria tipe prokaryote meski memiliki membran sel tetapi tidak mempunyai nucleus yang jelas. Sebaliknya dengan tipe eukaryote yang memiliki nucleus yang jelas dan berkembang baik di pusat setiap sel.
Diperkirakan para ilmuwan bahwa hanya  ada dua tipe bakteria purba ini yang telah melahirkan yang lainnya atau berevolusi menjadi organisme  yang bisa dianggap sebagai cikal bakal kehidupan. Woese mempublikasikan temuannya dalam majalah Scientific American pada Juni 1981 dan menyatakan bahwa archaebacteria (bakteria purba) bisa dianggap  sebagai   bentuk  awal  dari  organisme  kehidupan.  Ia  dan koleganya memberitahukan komunitas ilmiah bahwa bakteria tersebut merupakan turunan ketiga yang mendahului segala-galanya. Karena itu jenis bakteria ini  bisa dianggap sebagai cikal bakal kehidupan yang paling purba. Woese dan para koleganya terus saja memberikan bukti- bukti yang kuat pada temuan tersebut dan ketika kebekuan dunia ilmiah mulai mencair, Woese mengatakan:
Meski beberapa ahli biologi masih mempermasalahkan penafsiran kami, ide bahwa archaebacteria merupakan pengelompokan terpisah di tingkat yang tertinggi sekarang ini sudah mulai banyak diterima umum.
Di tempat lain ia menulis:
Hal ini merupakan implikasi bahwa methanogen adalah sama tuanya atau mungkin lebih tua dari kelompok bakteria lainnya.

Menurut kamus The Hutchinson Dictionary of Science:
. . . archaebacteria termasuk bentuk kehidupan paling awal yang muncul sekitar 4 milyar tahun yang lalu, ketika masih sangat sedikit sekali oksigen terdapat di atmosfir.

Namun            pengarang     dari     Genetics:        a          Molecular       Approach menyatakan:
Sejak tahun 1977 bertambah banyak perbedaan ditemukan di           antara archaebacteria      dan            prokaryote   lainnya, sedemikian rupa sehingga para ahli mikrobiologi sekarang lebih suka menggunakan istilah archaea untuk membedakan-nya dari bakteria.

No comments:

Post a Comment

silahkan berkomentar, tidak dipungut biaya..! apabila ada kata yang salah dalam hal deskripsi apa pun tentang isi dari postingan zonesa.blogspot.com, mohon kritik dan sarannya agar lebih baik. terimakasih dan salam hangat. Sehangat pelukan pasangan Anda.