Thursday, 14 April 2011

Demonstrasi, Janganlah Anarkis!


Diawali dengan Reformasi, masa kejatuhan Orde Baru, kata demostrasi, lebih familiar demo, menjadi tren dan semakin sering terjadi dengan alasan penyampaian aspirasi. Terlepas efektif atau tidaknya penyampaian aspirasi, seolah-olah kesannya sedikit-sedikit demo, sebentar-sebentar demo.
Demonstrasi dikaitkan dengan aspirasi, kebebasan menyampaikan suara, pendapat, opini, ide, kepentingan, kritik. Namun kadangkala yang kita lihat dan dalam pandangan kita, kadangkala demonstrasi tidak terkontrol dan menimbulkan aksi-aksi yang tidak seharusnya  dilakukan dalam penyampaian aspirasi, misal contoh tragedi 1998 yang diiringi dengan penjarahan dan beberapa demo lainnya yang anarkis. Perkembangan terbaru dan patut diapresiasi, polisi membentuk satuan khusus anti huru-hara.
“Demonstrasi bisa bersifat negatif atau positif. Semua tergantung saat pelaksanaan demonstrasi. Inti demonstrasi adalah penyampaian aspirasi, bukan anarkisnya yang ditonjolkan. Kalau ditanya masih relavan atau masih diperlukan, tentu saat ini demonstrasi masih relevan di negara demokrasi, tapi bukan demonstrasi anarkis,” kata Pengamat Politik sekaligus Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Surakarta, Drs GPH Dipokusumo.
Terlepas dari apakah demonstrasi itu apa dan bagaimana? Saya sendiri lebih tertarik dengan kata-kata seorang bijak, “Bayarlah hakmu  kepada pemimpinmu dan mintalah hakmu pada Tuhanmu.”


Apa maksudnya? Sebentar, saya ceritakan dulu pengalaman menarik, saya pernah shalat berjamaah, dan sewaktu shalat, sang imam salah, namun tak seorang pun makmumnya meneriakinya, termasuk saya, semua termasuk saya hanya melafalkan subhanallah dan sang imam seketika sadar atau tahu kesalahannya.
Filosofi shalat ini dapat diterapkan dalam kehidupan masyarakat manusia yang bernegara dimana terdapat pemimpin yang dapat dianalogikan sebagai imam.
Shalat adalah ibadah yang dilakukan oleh orang Islam setiap harinya, dimana ketika shalat, setiap orang Islam akan menundukkan wajahnya ke bumi (sujud), tempat dimana ia hidup, beramal dan membuang kotorannya, saat itulah orang Islam dihadapan Tuhannya merasa begitu sangat rendah.
Shalat berjamaah dimana, terdapat imam dan makmum, makmum akan selalu mengikuti imamnya untuk dapat menyelesaikan tujuan shalatnya dengan baik, seperti itu jugalah kehidupan bersosial masyarakat manusia. Masyarakat bernegara dengan pemimpin dan rakyat, harusnya  dapat sinkron dan bersatu dimana rakyat mematuhi perintah/petunjuk yang diberikan pemimpinnya.
Sebelum melakukan shalat berjamaah, juga dilakukan pemilihan imam dengan syarat-syarat tertentu, seperti orang yang umurnya lebih tua (terutama tua rohaninya), berakal, mengerti tatacara shalat dan menjadi imam, bacaan al-qur’an yang bagus, dan lain-lain.
Begitu juga dengan saat pemilihan pemimpin negara (presiden), terdapat berbagai macam calon dan kriteria atau syarat-syarat tertentu, terutama dapat mewakili aspirasi, misalnya calon Presiden/Wakil Presiden Indonesia harus mewakili aspirasi bangsa Indonesia dari sabang-merauke dan memahami Bhineka Tunggal Ika dan lain-lain.
Dan ketika shalat berjamaah tadi berlangsung dan karena sesuatu hal imamnya salah, maka makmumnya akan mengatakan subhanallah atau ketika salah bacaannya akan membetulkankannya dengan melanjutkan bacaan yang imam khilaf dengan harapan imam segera menyadari.
Begitu juga dengan Presiden (Pemerintah) yang khilaf dalam memegang amanat, maka ingatkanlah dengan cara yang baik. Pesan bagi para pemimpin bangsa, agar Engkau senantiasa berbesar hati menerima kritik rakyatmu.
Sebenarnya apakah yang harus dibayarkan kepada seorang pemimpin sebagai haknya?
‘Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah, dan taatlah kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orang yang memegang kekuasaan di antaramu. Dan, jika kamu berselisih mengenai sesuatu, maka kembalikanlah hal itu kepada Allah dan Rasul-Nya, jika kamu memang beriman kepada Allah dan Hari kemudian……’ firman Allah di dalam Al-Quran.
Jadi apa yang harus dibayar adalah ketaatan. Itulah yang harus dibayar kepada seorang pemimpin, entah peminpin negara, pemimpin Daerah, pemimpin Perusahaan, pemimpin di Kantor dan pemimpin dimana Anda menjadi bagian dari lingkup kepemimpinan pemimpin tersebut, taatilah.
Namun, apabila pemimpin melakukan perbuatan yang tidak baik, dalam istilah agama adalah mungkar, maka renungilah firman Tuhan di bawah ini, Hai orang-orang beriman, jika kalian memiliki beberapa ketidaksetujuan, serahkanlah masalah itu kepada Allah dan Nabi-Nya untuk keadilan. Jika kalian percaya kepada hari akhir, ambillah pelajaran ini karena inilah ajaran yang paling baik…..”
Janganlah melakukan demo yang anarkis, suarakanlah aspirasi dengan cara yang baik. Sebaik apapun kalau cara penyampaiannya tidak baik, hasilnya pun kadang juga tidak baik. Janganlah melakukan anarkis, apalagi sampai melakukan perbuatan keji, seperti membunuh, menyiksa, seperti yang sering terjadi dan yang paling heboh adalah demo/penyerangan yang dilakukan segolongan orang yang mengatasnamakan Islam yang menyerang Jamaah Ahmadiyah yang dipandang oleh umat Islam mayoritas sebagai sesat. Saya tidak mengomentari Ahmadiyah sesat atau tidak, tapi saya menyayangkan kejadian itu, coba resapi firman Allah, ”Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) Berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.”
Jadi, sampaikanlah aspirasi dengan cara yang terbaik, janganlah anarkis dan berbuat keji seolah-olah kamu tidak bisa menguasai nafsu. Dan bayarlah hak pemimpin-pemimpin dengan ketaatan. Maka damailah bagi dunia. Begitulah Islam mengajarkan kepada kita tentang bernegara dan bersosial di dalam negara dengan filosofi Shalatnya.
Terimakasih. Semoga bermanfaat.
Posting by: Dihas Enrico

By: Sahid Nurika
Siswa Prodip I kepabeanan dan Cukai
STAN

2 comments:

  1. biasanya demonstrasi gak lepas dari kekerasan

    ReplyDelete
  2. sebenarnya dalam artikel itu saya tidak menganjurkan demo,,
    tp itu menurut agama islam sih....

    ReplyDelete

silahkan berkomentar, tidak dipungut biaya..! apabila ada kata yang salah dalam hal deskripsi apa pun tentang isi dari postingan zonesa.blogspot.com, mohon kritik dan sarannya agar lebih baik. terimakasih dan salam hangat. Sehangat pelukan pasangan Anda.