Sunday, 6 March 2011

Kedamaian Politik (Sistem Demokrasi dan Tata Negara Menurut Islam)



Persoalan perang dan damai di dunia tidak hanya bergantung pada ancaman hubungan timbal balik antara negara super power. hal ini merupakan persoalan yang dalam dan rumit dengan akarnya tertancap di dalam falsafah-falsafah politik dan sikap moral negara-negara di dunia.

Kedamaian politik perlu dikaji dengan teliti dalam tingkat nasional maupun internasional.
Sejauh hubungannya dengan politik nasioanal, persoalan utamanya adalah sistem politik yang manakah yang baik atau tidak baik bagi manusia.apakah kegagalan politik dan sistem bawaannya yang bertanggungjawab atas kesengsaraan dan ketidakpuasan masyarakat sesuatu yang lain. Apakah sistemnya yag harus dipersalahkan atau penyelenggaranya. Dapatkah kepemimpinan politik yang egois tak bermoral, tamak dan korup yang duduk di kursi kekuasaan melalui jalur demokrasi benar-benar memberikan kebaikan dan berhasil guna bagi masyarakat dibandingkan dengan kepemimpinan yang diktator misalnya?
untuk menegakkan dan menjamin perdamaian internasional, Islam memiliki sebaris saran untuk para politisi kontemporer. Islam secara luar basa menitikberatkan pada penegakkan akhlak dengan sebenar-benarnya pada setiap segi kehidupan manusia, tidak terkecuali di bidang politik.
Kita mulai dengan pengamatan bahwa tidak ada sistem politik yang disebutkan di dalam agama Islam sebagai satu-satunya sistem yang absah dari pada yang lain.
Tidak diragukan bahwa al-quran berbicara tentang sebuah sistem demokrasi dimana para pemegang pemerintahan dapat dipilih oleh rakyat namun hal ini bukanlah satu-satunya sistem yang direkomendasikan oleh Islam. Demikian pula tidak akan mungkin menjadi hak prerogative fundamental sebuah agama universal untuk menentukan satu sistem pemerintahan tunggal tanpa mempertimbangkan kenyataan bahwa secara praktis sebuah sistem tunggal tidak dapat diterapkan kepada semua wilayah dan masyarakat di seluruh dunia.
Demokrasi belum berkembang sepenuhnya sekalipun di negara paling maju sekalipun di dunia untuk mencapai tahapan kebijaksanaan yang merupakan visi politik demokrasi yag tertinggi. Dengan bangkitnya kapitalisme dan pembangunan perangkat sistem pemerintahan yang sangat kuat di negara-negara kapitalis, pemilihan yang benar-benar  domokratis tak dapat diselenggarakan di belahan dunia manapun.
Ditambah lagi masalah korupsi yang terus merebak dan munculnya mafia dan kelompok-kelompok penekan lainnya. Seseorang hanya dapat dengan aman menyimpulkan bahwa demokrasi tidak berada di negara-negara yang paling demokratis sekalipun. Lalu bagaimana mungkin ia akan sesuai diterapkan di negara-negara dunia ketiga?
Jadi, mengatakan demokrasi ala barat dapat berhasil di negara-negara Afrika, Asia dan Amerika Selatan atau di negara-negara yang disebut negara Islam di dunia akan sama saja dengan membuat sebuah klaim kosong dan tidak realistis.
Dalam pemahaman saya, ajaran Islam tidak menolak sistem politik duniawi apapun, tapi Islam menyerahkannya kepada rakyat dan tradisi yang mengakar secara historis di tiap-tiap negara itu.
Apa yang ditekankan oleh agama Islam bukanlah bentuk pemerintahannya melainkan bagaimana seharusnya pemerintahan melaksanakan fungsinya. Asalkan sebuah sistem pemerintahan bersesuaian dengan cita-cita Islam dalam menjalankan amanah yang harus disampaikan kepada rakyat, sistem pemerintahan yang berbeda-beda, seperti kepemimpinan feodal, monarki, demokrasi dan lain-lain dapat diakomodasikan oleh Islam.

From: Paper of Speech T.A 2000 (lil editing)

No comments:

Post a Comment

silahkan berkomentar, tidak dipungut biaya..! apabila ada kata yang salah dalam hal deskripsi apa pun tentang isi dari postingan zonesa.blogspot.com, mohon kritik dan sarannya agar lebih baik. terimakasih dan salam hangat. Sehangat pelukan pasangan Anda.