Wednesday, 23 March 2011

Individu Lawan Masyarakat



Kemerdekaan adalah hak istimewa semua makhluk hidup, tak terkecuali manusia. Kebebasan adalah buah kehidupan yang dijunjung tinggi. Manusia adalah lambang kebebasan yang tertanam di dalam dirinya. Teksturnya sendiri ditenun dengan benang kebebasan. Namun sungguh mengherankan, pada akhirnya kita temui semua lembaga buatan manusia dibentuk untuk bekerja melawan kebebasan manusia.
Pengkajian cermat terhadap sejarah pertumbuhan progresif tradisi-tradisi, kebiasaan-kebiasaan dan perundang-undangan memadai guna membuktikan pernyataan ini. Evolusi negara jika diteropong dari sudut persepsi yang tidak disertai prasangka dan keberpihakan akan tampak tidak lebih dari perjalanan manusia menuju perbudakan yang secara progresif diberlakukan sendiri. Untuk menanggulangi dilema ini dibutuhkan pemahaman lebih mendalam mengenai faktor-faktor yang bertanggung jawab atas peralihan dari kemerdekaan keperbudakan yang prosesnya berjalan setahap demi setahap.
Satu hal yang pertama-tama kita perhatikan adalah secara fitrati manusia baru akan tunduk kepada penguasa masyarakat hanya apabila ia terdorong oleh motif-motif mementingkan diri sendiri, jika tidak demikian ia harus dipaksa.
Akan tetapi, bermasyarakat bukanlah suatu hak istimewa manusia belaka, tatkala dunia binatang bergerak dan tatanan bawah ke tatanan lebih atas tampak ada suatu peralihan bertahap dari masyarakat binatang yang acak-acakan (tidak teratur) ke masyarakat binatang yang lebih disiplin, terorganisir dan tersentralisasi. Kadang-kadang hal itu kita perhatikan sebagai suatu kecenderungan, kebutuhan yang mendesak telah mengajar binatang-binatang untuk hidup bersama, demi kepentingan mempertahankan hidup mereka.
Kadang-kadang kita heran sekali menemukan tatanan sosial serta disiplin yang amat seksama itu tertanam bahkan dalam jenis binatang yang tidak berkedudukan tinggi dalam tangga evolusi. Pengaruh-pengaruh evolusi bertahap itu tidak dapat ditelusuri dalam tatanan mereka yang sangat berdisiplin, yang agaknya telahtumbuh dalam bentuk akhir mereka yang telah disempurnakan. Yang dapat kita simpulkan dari kajian itu adalah keberadaan mereka yang terlembaga itu secara alami tertanam dalam diri mereka.
Ambillah sebagai misal serangga-serangga tertentu. Dimanakh kita akan menempatkan masyarakat tawon madu dalam tangga evolusi? Apa yang mungkin telah mendahului mereka, andaikata mereka telah berevolusi perlahan-lahan, selangkah demi selangkah? Dimanakah kita akan menemukan bukti tentang perkembangan setahap demi setahap sederetan serangga yang mencapai titik tertinggi pada penciptaan tawon madu? Begitu pula halnya kalau kita periksa peri kehidupan keadaan semut yang termasuk bangsa serangga, kita mengalami masalah yang serupa.
Tanpa adanya evolusi bertahap, mereka semua diprogramkan untuk melaksanakan fungsi-fungsi khusus secara tepat dengan disiplin yang telah tertanam di dalam diri mereka dan mereka mematuhinya dengan cermat. Pada diri mereka ada hukum yang tidak bisa dilanggar, yang terpatri dalam ARN (Asam Ribi Nukleat) dan ADN (Asam Dioksibo Nukleat) mereka. Sebagai bandingan, mereka membuat malu bahan masyarakat komunis yang masyarakatnya mendapat pengawasan amat ketat  dan disiplin.
Mereka semua merupakan kasus-kasus pengecualian mengenai keajaiban-keajaiban kreatif yang terorganisir menunjukkan sejarah yang tak tertelusuri mengenai mayarakat yang mula-mula mentah keadaanya, lalu secara bertahap berevolusi hingga menjadi masyarakat yang rumit susunannya.
Kita dengan leluasa dapat menarik kesimpulan dari hal ini bahwa kehidupan demikian menawarkan kepada kita dua tipe disiplin  untuk dikaji. Tipe pertama tampak spontan seakan-akan lahir dari ketiadaan lalu tiba-tiba menjelma menjadi keajaiban-keajaiban kreativitas Tuhan. Akan tetapi para Ilmuwan  mungkin menyebutnya sebagai perubahan-perubahan mutasi besar, semuanya terjadi bersamaan dalam satu waktu. Hipotesa ini tentu saja tidak dapat dijadikan pertimbangan secara ilmiah.
Tipe kedua mengenai perkembangan tatanan sosial dalam duia binatang lebih banyak digeneralisasi dan progresif sifatnya, sungguh pun hasilnya tidak dramatis seperti halnya contoh-contoh yang disebutkan sebelumnya. Bahkan anjng-anjing dan serigala-serigala pun memperlihatkan kecenderungan  hidup bersama yang positif ini di dalam masyarakat-masyarakat demi kepentingan mempertahankan hidup jenisnya. Apapun alasannya, kita pun menemukan kecenderungan yang sama dalam bergerombolnya burung-burung yang sejenis. Begitu juga halnya dengan kawanan ikan, penyyu, landaklaut memperlihatkan kecenderungan-kecenderungan yang serupa. Oleh karena itu, ikatan bersama ini lazim dalam kehidupan.
Dengan disiplin, kekuasaan lahir dan kepemimpinan muncul. Sebuah norma samar-samar mengenai kejahatan dan hukum mualai merayap ke dalam tiap lapisan masyarakat. Oleh karena itu mengenai manusia yang telah berevolusi selaku hewan sosial bukanlah suatu kejadian yang berdiri sendiri melainkan hal itu sejalan dengan pola yang telah ditakdirkan mengenai  perilaku yang sedikit-banyak sama-sama dimiliki oleh  kebanyakan binatang lainnya.
Bagaiman lembaga masyarakat berkembang serempak di seluruh dunia, merupakan masalah yang menghendaki pembahasan panjang-lebar. Kami hanya bermaksud menggarap beberapa bagian penting perkembangan sosial di kalangan manusia yang langsung berkaitan dengan pokok yang sedang kita bahas.
Kebebasan individu selamanya secara intrinsik berselisih dengan kekangan-kekangan yang diberlakukan dalam masyarakat. Pemahaman lebih mendalam tentang dilema yang dikemukakan oleh persamaan ini merupakan hal yang paling penting untuk memperoleh pengertian yang lebih baik tentang kekuatan-kekuatan yang pada akhirnya menetapkan batasan-batasan terhadap kebebasan individu pada satu pihak dan kekuatan yang tumbuh di dalam masyarakat dari pihak yang lain. Hubungan keluarga dengan individu, hubungan marga dengan individu dan hubungan negara dengan individu, itu semua merupakan contoh-contoh bagaiman kehidupan dapat ditelaah dalam perilaku yang dilembagakan. Apabila manusia pada nalurinya bebas dan ia mencintai kebebasan, lalu mengapa pula ia membungkukan kepala kepada penguasa sosial, hal itu merupakan masalah utama yang pertama-tama harus ditanggapi.
Bilamana suatu tatanan sosial, rasial, ekonomi atau politik berevolusi, maka selamnya evolusi itu seputar tenggang rasa yang tidak tersurat, menerima dan memberi dan saling pengertian di dalam anggota masyarakat dengan individu-individu yang secara bersama-sama membentuk masyarakat. Tidak ada individu yang akan menyerah begitu saja pada waktu melakukan jual beli, malahan ia berusaha meraih lebih banyak keuntungan daripada harus menanggung kerugian.
Terutama, keamanan individual yang ia perjualbelikan, dengan mempertaruhkan sedikit kebebasan pribadinya kepada lembaga yang di dalmnya ia menjadi anggota dan pada pihak lain ia memperoleh jaminan proteksi dan bantuan yang akan membuat eksistensi individu terasa lebih enak dan nyaman.
Menarik untuk diperhatikan bahwa permulaan formasi masyarakat pada segala lapisan, individu-individu selalu muncul sebagaipenerima-penerima berkah. Inilah yang kita dapati sebagai suatu kecenderungan pada dunia binatang. Hal demikian juga berlaku pada masyarakat manusia pada lapisan tingkat awalnya. Akan tetapi masyarakat manusia karena perkembangannya telah terorganisir, cenderung menjadi tidak merata dalam pembagian kekuatan antara masyarakat dengan individu. Lebih besar kesenjangan antara anggota masyarakat dengan golongan penguasa yang jumlahnya sedikit bilangannya, lebih besar pula bahaya penyalahgunaan hak dan pemerasan tenaga oleh minoritas golongan yang berkuasa itu.
Walaupun secara teoritis adalah mungkin bagi individu-individu meraih sedikit nilai sebagai pengganti bagi setiap kehilangan kebebasannya, namun tidak selamnya hal itu terjadi sesuai yang diharapkan secara normal. Asas pokok tentang kebebasan pribadi, secara bertahap dan secara progresif, dikorbankan demi masyarakat. Acapkali terjadi bahwa selagi masyarakat berkembang, masyarakat mejadi lebih otoritatif dan kurang peduli akan kepentingan pokok individu.
Lebih luas lagi akan kami bahas nanti pada waktu kami mengangkat masalah Marxisme. Pada waktu itu kami hanya bertujuan semata-mata menetapkan dasar penyebab proses degeneratif ini. Mengapa seorang individu tidak merasa lebih nyaman dan terjaga lebih baik dalam satu masyarakat yang lebih berkembang dan lebih kuat?
Tidak pernah  kami jumpai di kalangan binatang-binatang adanya suatu kecenderungan ke arah kemerosotan dan kemunduran dalam perilaku sosial mereka. Mengapa masyarakat manusia saja yang jauh dari harapan mengenai tanggung jawabnya dari hak-hak individu?
Satu garis pemisah antara binatang dan manusia yang memisahkan mereka dengan jelas adalah kecenderungan yang kuat terdapat di kalangan manusia untuk memicu, menipu dan melanngar hukum alam.
Dalam permainan ini manusia secara fenomemal sedikit mengungguli semua hewan lainnya. Binatang-binatang pun tampak suka menipu, tetapi tindakannya itu selamanya berupa siasat mereka dan bukanlah penipuan dalam arti kriminal. Tidak ada kasus pengkhianatan terhadap amanat pada binatang-binatang seperti halnya kita saksikan di kalangan manusia. Mereka menjalani kehidupan normal dan menjadi disiplin sederhana di dalam tatanan hukum alam yang mengendalikan serta memerintah mereka. Apabila mereka pernah menipu, mareka melakukan perbuatan itu hanya secara naluri karena dikuasai dorongan-dorongan genetik di luar rangkuman definisi kejahatan.
Pada hakikatnya ini merupaka produk sampingan dari bakat kebebasan memilih. Adapun binatang-binatang amat dikuasai oleh hukum-hukum firasat dan naluri, dan tidak memiliki pilihan untuk perkara yang benar dan salah. Pada hakikatnya tidak ada yang benar atau salah bagi mereka.
Hanya manusialah yang dengan sengaja dapat mengabaikan tanggung jawab mereka dan merampas hak anggota masyarakat lainnya sambil mengetahui bahwa perbuatan itu salah. Maka kemerdekaan individu manusia dalam kaitan dengan tanggung jawab secara kolektif terhaap suatu lembaga, dilanggar an disabot oleh kecenderungannya untuk melanggar hukum, melakukan penipuan dan bertindak salah tetapi sambil berusaha sedapat mungkin dapat melarikan diri dari tanggung jawabnya. Oleh karena itu, benar sekali apa yang dikatakan Karl Marx bahwa manusia itu hewan yang korup- hanya ia tak berhak mengecualikan dirinya sendiri. Begitu pula ia tak mempunyai hak mengecualikan pemimpin sosial yang dibangun di atas landasan-landasan imoralitas. Hal ini merupakan tragedi masyarakat umat manusia sepanjang abad. Tidak ada satu lembaga pun yang terkecuali dari tragedi ini. Gejala yang tak terhindarkan dalam hubungan sosial individu ini mempromosikan kecenderungan di antara sistem-sistem menuuju terciptanya undang-undang yang terus meningkat kadarnya.
Jelas bahwa setiap hukum baru ditujukan untuk melindungi hak individu pada satu pihak, dan melindungi hak masyarakat pada pihak lain, dari pelanggaran  yang tidak sah terhadap hak-hak dan prerogatif-prerogatif masing-masing secara ekslusif. Akan tetapi, sialnya, dikarenakan faktor korupsi dalam diri manusia, para pembuat undang-undang gagal untuk tetap taat pada prinsip-prinsip keadilan yang absolut. Selama berlangsung proses perundangan secara kolektif, seringakali hak-hak fundamental individu dirugikan oleh lembaga-lembaga itu sendiri yang diciptakan untuk mempertahankan mereka.
Di sini kami tidakmerencanakan hendak mengangkat masalah-masalah masyarakat-masyarakat agama secara panjang lebar, tetapi agama juga harus disebut secara ringkas, ditinjau dari sudut panjang filsafat sosial yang sekuler. Sosiolog-sosiolog, selaku golongan, tidak memperlakukan suatu agama sebagai fenomena ketuhanan. Oleh karena itu, ditilik ari sudut pandang mereka, agama hanyalah merupakan suatu ungkapan dalam bentuk lain dari perilaku sosial masyarakat manusia.
Apabila pandangan mereka mengenai lembaga agama itu benar, maka semua masyarkat agama harus dipandang sebagi menempati posisi yang unik di antara sistem-sistem sosial manusia.
Semua masyarakat agama itu harus dipandang sebagai lambang-lambang personifikasi kecurangan yang dilakukan baik terhadap mayarakat maupun terhadap idividu. Jelas dalam hal ini bahwa semua pendiri agama harus digolongkan sebagai orang-orang tidak jujur yang dengan sengaja mengelabui khalayak ramai atas nama Tuhan-tuhan ciptaan mereka sendiri sebagaimana tersirat dalam teori pakar sosiologi. Beberapa dari mereka memang orang-orang yang tidak jujur.
Mereka (para pendiri agama), menurut pandangan para pakar sosiologi, melegalisir diri mereka atas nama Tuhan untuk membelenggu orang-orang awam yang tidak menaruh kecurigaan dengan apa yang disebut mereka hukum Ilahi. Dengan demikian, atas nama Tuhan, hal itu merupakan suatu hirearki agama yang dengan culasnya berkuasa demi keuntungan sendiri. Inilah persepsi pakar sosiologi mengenai masyarakat agama. Agaknya Karl Marx juga sepenuhnya setuju dengan pandangan mengenai agama ini sebagai candu yang dibuat supaya sejumlah kaum pekerja selamanya terbius, kalau tiak demikian caranya, mereka akan sadar akan pemerasan tenaga mereka yang tak kenal belas kasihan itu oleh para borjuis. Nama candu yang membuat mereka protelar terbius ini adalah hukum moralitas yang dianut oleh semua agama. Oleh karena itu, moralitas selamanya dikaitkan kepada gagasan adanya Tuhan yang mengendalikan serta mengatur perilaku manusia atas nama-Nya.
Sub Title from Revelation, Rationality, knowledge and Truth (lil editing)

No comments:

Post a Comment

silahkan berkomentar, tidak dipungut biaya..! apabila ada kata yang salah dalam hal deskripsi apa pun tentang isi dari postingan zonesa.blogspot.com, mohon kritik dan sarannya agar lebih baik. terimakasih dan salam hangat. Sehangat pelukan pasangan Anda.