Tuesday, 29 March 2011

Demo dan Shalat



Diawali dengan Reformasi, kata demo menjadi sangat familiar, terutama bagi saya. Selanjutnya, semakin cepatnya perkembangan usia bangsa ini, demo menjadi sesuatu yang kerap terjadi di negara ini. Sedikit-sedikit demo, sebentar-sebentar demo.
Demo dilakukan dengan berbagai alasan, baik dengan alasan yang baik sampai dengan alasan yang sengaja dibuat-buat. Kebanyakan demo ditujukan kepada pemerintah walaupun banyak yang ditujukan kepada pihak selain pemerintah. Namun kali ini saya ingin mengomentari demo yang ditujukan kepada pemerintah.
Demo ditujukan kepada pemerintah adalah untuk menuntut atau mempertanyakan kebijakan yang diambil atau dilakukan oleh pemerintah dengan tujuan agar kebijakan yang diambil oleh pemerintah dapat dikaji, dibenahi, ditinjau kembali, sehingga penerapannya lebih baik.
Demo biasanya dilakukan dengan pengerahan massa atau demonstran, dimana kadang demo berjalan dengan baik dan penuh ketertiban sehingga tidak mengganggu ketertiban umum, namun kadangkala demo dilakukan dengan kurang tertib dan kurang kondusif disertai kata-kata yang tidak baik bahkan sampai kepada tindak kekerasan dan pengrusakan, baik sarana umum atau sarana milik warga lainnya.
Demo yang sampai menimbulkan kerusakan, kerugian dan ketidaktertiban menyisakan pilu. Demo seperti ini wajar terjadi di negara-negara berkembang seperti di Indonesia dimana pengetahuan dan pengertian tentang demo kurang merata di masyarakat. Apalagi jika itu dilakukan atas nama Islam. Tidak dapat dipungkiri walaupun tidak diatasnamakan Islam, namun bagi Indonesia, dengan penduduknya yang mayoritas Islam, hal itu sudah dapat mewakili apabila hal itu dipandang oleh orang luar negeri.
Sesuai judulnya, saya mencoba memberikan pendapat, dimana saya pernah bertemu dengan seorang ustadz yang mengatakan bahwa, apabila Anda sedang shalat dan Imam salah, apakah Anda akan meneriakinya? Tentu saja tidak, Anda pasti akan mengatakan subhanallah.

Shalat adalah ibadah yang dilakukan oleh orang Islam setiap harinya, dimana ketika shalat, setiap orang Islam akan menundukkan wajahnya ke bumi (sujud), tempat dimana ia hidup, beramal dan membuang kotorannya, saat itulah orang Islam dihadapan Tuhannya merasa begitu sangat rendah.
Menuju kepada shalat berjamaah dimana disana terdapat imam dan makmum, makmum yang akan selalu mengikuti imamnya, seperti itu jugalah kehidupan bersosial masyarakat manusia. Masyarakat bernegara dengan pemimpin dan rakyat.
Sebelum melakukan shalat berjamaah, tentunya juga dilakukan pemilihan imam dengan syarat-syarat tertentu, seperti orang yang umurnya lebih tua (terutama tua rohaninya), berakal, mengerti tatacara shalat dan menjadi imam, bacaan al-qur’an yang bagus, dan lain-lain.
Begitu juga dengan saat pemilihan pemimpin negara (presiden), disana juga terdapat berbagai macam calon dan kriteria atau syarat-syarat tertentu, terutama dapat mewakili aspirasi, Presiden Indonesia harus mewaakili aspirasi bangsa Indonesia dari sabang-merauke dan memahami Bhineka Tunggal Ika dan lain-lain.
Dan ketika shalat berjamaah tadi berlangsung dan karena sesuatu hal imamnya salah, maka makmumnya akan mengatakan subhanallah atau ketika salah bacaannya akan membetulkankannya dengan melanjutkan bacaan yang imam khilaf dengan harapan imam segera menyadari.
Begitu juga dengan Presiden (Pemerintah) yang khilaf dalam memegang amanat, maka ingatkanlah dengan cara yang baik. Pesan bagi para pemimpin bangsa, agar Engkau senantiasa berbesar hati menerima kritik rakyatmu. Contohlah negara tetangga, Jepang.
Begitulah Islam mengajarkan kepada kita tentang bernegara dan bersosial di dalam negara.
Terimakasih. Semoga bermanfaat.

Dihas Enrico

No comments:

Post a Comment

silahkan berkomentar, tidak dipungut biaya..! apabila ada kata yang salah dalam hal deskripsi apa pun tentang isi dari postingan zonesa.blogspot.com, mohon kritik dan sarannya agar lebih baik. terimakasih dan salam hangat. Sehangat pelukan pasangan Anda.