Tuesday, 8 February 2011

Surat Terbuka: MUI, Pancasila, Indonesia



Warga Negara Republik Indonesia yang terhormat,

Pernyataan Majelis Ulama Indonesia (MUI) menolak Q! Film Festival karena “kehidupan homoseksualitas .. tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam dan budaya bangsa,” menunjukkan bahwa MUI tidak mengenal bangsanya sendiri.

MUI tidak mengenal Indonesia yang sesungguhnya.

Indonesia yg dikenal MUI adalah Indonesia yang tidak ada. Indonesia bukanlah konsep. Indonesia adalah saya, anda, dan kita semua yg hidup di dalamnya. Kenyataannya kita berbeda-beda. Ragam suku, agama, ras, golongan dan kebudayaan. Inilah Indonesia yang kita banggakan. Indonesia yang kerap kita sebut sebagai bangsa yang kaya.

Pernyataan MUI seakan mempersempit Indonesia. MUI tidak bisa memaksakan Indonesia milik mereka untuk diterima oleh publik karena hal ini tidak konstitusional. Indonesia adalah republik konstitusional. Bentuk negara ini dimaksudkan untuk melindungi minoritas dari pemaksaan nilai kehidupan mayoritas. Inilah fungsi dokumen UUD 1945 sebagai kontrak sosial. Konstitusi Negara Republik Indonesia memastikan bahwa Indonesia bukanlah milik satu kelompok. Oleh sebab itu saya minta MUI berhati-hati dalam mengatasnamakan Bangsa Indonesia. Karena Indonesia bukan hanya anda, kelompok anda, dan mereka yang sepaham dengan anda.

Jika anda masih tidak bisa hidup dengan keberagaman Indonesia maka anda sesungguhnya tidak pantas menyebut diri anda sebagai Pemuda-Pemudi Pancasila. Kebhinnekaan adalah semboyan bangsa. Mengakui Pancasila berarti mengerti konsekuensinya. Konsekuensi dari Pancasila adalah kesetaraan di dalam keberagaman.

Beberapa dari anda akan mengutip Pasal satu: Ketuhanan Yang Maha Esa. Anda akan berargumen bahwa Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan. Dengan ini Heteroseksualitas adalah nilai bangsa. Hati-hati dalam mengambil kesimpulan:

KeTuhanan yang dimaksud adalah kepercayaan akan SATU Tuhan. Isi pasal satu mengakui monoteisme.
Anda akan berargumen bahwa Tuhan yang ESA itu menciptakan heteroseksualitas sebagai kodrat manusia. Salah. Kalau Satu Tuhan berarti satu nilai maka absurd jika kita mengakui adanya perbedaan Agama yang nilai kepercayaannya tidak selalu sama.
Agama adalah sistem kepercayaan. Heteroseksualitas merupakan nilai yang sifatnya derivatif dari sistem kepercayaan tersebut. Anda tidak bisa asal tempel pengertian derivatif yang tidak dimaksudkan Pasal satu.
Bunyi pasal satu bukan Seksualitas yang Maha Esa. Pasal satu bukan dimaksudkan untuk mengatur seksualitas.
Kecenderungan untuk membesarkan Pasal satu dalam membahas Pancasila menunjukkan rendahnya komitmen anda terhadap pemahaman falsafah negara. Di dalam Pancasila ada lima Pasal. Itulah kenapa namanya Panca. Marilah kita mengingat kembali pasal-pasal lainnya:

Pasal 2, “Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab”, bukan “Keheteroseksualitasan yang Adil dan Beradab”. Indonesia dilandaskan atas nilai-nilai kemanusiaan yang adil dan beradab. Catat KEMANUSIAAN. Apakah mengutuk itu beradab? Apakah mengancam dengan kekerasan itu beradab? Apakah menghakimi tanpa dialog itu beradab?
Pasal 3, “Persatuan Indonesia”, bukan “Pemecahan Indonesia”.
Pasal 4, “Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/Perwakilan”. Keberagaman Indonesia memiliki konsekuensi: perbedaan nilai. Dan pasal ini menjelaskan bahwa kita akan dengan Hikmat, Bijak bermusyawarah untuk mencapai suatu konsensus. Ini nilai peradaban Bangsa kita.
Pasal 5, “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.” SELURUH RAKYAT INDONESIA. Keadilan tanpa kecuali.
Pasal-pasal tersebut dimaksudkan untuk dimengerti secara menyeluruh — mereka adalah entitas yang tidak terpisahkan. Kalau bisa pisah-pisah untuk apa bikin lima pasal? Seharusnya satu saja cukup. Jika anda memang ingin melindungi Kesaktian Pancasila anda akan melindungi keberlangsungan Q! FIlm Festival tanpa bertanya. Keadilan tanpa kecuali.

Ada yang tulus bertanya atas dasar kasih sayang, jika benar demikian lantas apakah kami berhak “mengajak & membimbing homoseksual secara baik-baik utk kembali ke kodratnya” sesuai dengan kepercayaan kami? Anda berhak mengajak. Tapi kamipun berhak menolak.

Ada yang marah, dan mengusir, “Murtad! Keluar dari Indonesia!” Kepada mereka yang menuduh kami sebagai orang-orang tidak bermoral, saya bertanya:

Apa kontribusimu untuk umat manusia?
Beberapa dari kami adalah relawan yang bekerja keras mencegah penyebaran epidemi. Anda?
Beberapa dari kami adalah pengajar di daerah terpencil. Gaji kami kecil. Tapi kami mau membantu mendidik bangsa. Anda?
Beberapa dari kami adalah pekerja kesehatan yang pada saat terjadinya bencana langsung pergi ke lokasi untuk membantu tersalurkannya bantuan kemanusiaan. Anda?
Beberapa dari kami bekerja suka rela mengobati mereka yang sakit. Anda?
Beberapa dari kami punya NPWP. Kami bayar pajak. Anda?
Banyak kaum “homoseksual” yang menurut anda tidak bermoral justru melakukan kebajikan yang anda elu-elukan sementara anda duduk mengutuk. Kemanusiaan kami anda leburkan ke dalam suatu konsep yang tidak betul. Kami tidak bermoral? Apakah anda melihat diri anda sendiri? Saya minta kita tidak sembarangan saling menuduh dan menilai kehidupan seseorang yang kita tidak kenal. Nilailah diri kita sendiri terlebih dahulu.

Lebih baik anda bergabung dengan kami, bekerja membangun negara daripada anda berteriak memusuhi. Jangan membenci. Belajar mengasihi. Kenalilah kami lebih dekat. Kenali kemanusiaan kami, saudaramu sebangsa setanah air.

Bersatu kita teguh. Bercerai kita runtuh. Marilah bersama kita tingkatkan angka melek huruf, bantu UKM, perlancar pembangunan ekonomi daerah, dukung usaha pemerintah dalam membenahi birokrasi dan memperbaiki sistem tunjangan sosial. Konkritkan Moralitas.

Masih banyak tantangan berbangsa yang perlu kita taklukkan. Kita bisa menaklukannya bersama. Peluklah perbedaan, maknai falsafah hidup bangsa kita dengan baik, dan mari kita kembali mengingat tanggung jawab kita yang sesungguhnya sebagai rakyat Indonesia. Berhentilah mengutuk. Mari kita bekerja sama membangun bangsa kita yang kita cintai. Niscaya kita akan mencapai kesejahteraan.

Salam persahabatan. Salam kebhinnekaan. Selamat hari Kesaktian Pancasila.

Yogyakarta, 1 Oktober 2010.

Yuventius Nicky Nurman


sumber : http://yuventius.wordpress.com/2010/10/ ... indonesia/

No comments:

Post a Comment

silahkan berkomentar, tidak dipungut biaya..! apabila ada kata yang salah dalam hal deskripsi apa pun tentang isi dari postingan zonesa.blogspot.com, mohon kritik dan sarannya agar lebih baik. terimakasih dan salam hangat. Sehangat pelukan pasangan Anda.